Global Wakaf Buat Sumur Wakaf di Mattirotasi Sidrap

Global Wakaf membuat sumur untuk masyarakat Dusun Kamirie dan Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.

Global Wakaf Buat Sumur Wakaf di Mattirotasi Sidrap
Handover
Global Wakaf membuat sumur untuk masyarakat Dusun Kamirie dan Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pembuatan sumur tersebut untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Dusun Kamirie dan Desa Mattirotasi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR --Global Wakaf membuat sumur untuk masyarakat Dusun Kamirie dan Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pembuatan sumur tersebut untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Dusun Kamirie dan Desa Mattirotasi.

Koordinator Program Wakaf Sumur Global, Nur Ali mengungkapkan kedua titik tersebut menjadi lokasi perdana pembuatan sumur wakaf di tanah Celebes.

"Sumur wakaf di Dusun Kamirie tepatnya dibangun di dekat Pesantren Madinah Qur’an," ungkap Nur Ali melalui rilisnya ke Tribun Timur, Selasa (9/1/2018).

Pesantren tersebut menyatu dengan pemukiman warga sehingga menjadi lokasi strategis bagi masyarakat untuk mengambil sumber air bersih.

Ia menambahkan, sumur tersebut nantinya akan dilengkapi fasilitas umum yaitu Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Pembangunan sumur wakaf sekaligus MCK tersebut sudah berlangsung.

“Pembangunan sumur dan MCK diperkirakan memakan waktu 1 bulan lamanya. Insya Allah, bulan depan, masyarakat di Dusun Kamirie mulai bisa merasakan manfaatnya,” ujar Nur Ali.

Dalam rilisnya warga Desa Mattirotasi, Abidin (40) mengungkapkan, dibutuhkan biaya, waktu, dan tenaga yang ekstra demi mendapatkan mata air bersih sebagai kebutuhan sehari-hari.

Sehingga tidak banyak warga di dusun dan desa tersebut yang memiliki sumur pribadi mengingat mahalnya biaya pengeboran sumur dalam yang mencapai angka ratusan juta rupiah.

Sebagai jalan alternatif, warga biasa memanfaatkan air resapan hujan sebagai sumber air bersih. Namun, sumber air tersebut cepat habis mengingat banyaknya warga yang memanfaatkannya.

“Cara lainnya, kami pergi keluar kampung sejauh 1 km. Di area jalan poros, ada bak penampungan air. Airnya berasal dari sungai yang terletak 3 km dari penampungan itu. Kami harus mengantre lama untuk dapat airnya. Kadang kami dapati airnya keruh, apalagi kalau musim hujan,” ungkap Abidin.(*)

Penulis: Hasrul
Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help