Dapat Bansos, Kelompok Tani Bone Bingung
Kelompok tani penerima dana Bantuan Sosial (Bansos) melalui APBN 2013
Tayang:
Penulis: Mahyuddin | Editor: Muh. Taufik
WATAMPONE,TRIBUN-TIMUR.COM - Kelompok tani penerima dana Bantuan Sosial (Bansos) melalui APBN 2013 bingung dengan dana yang didapatnya. Pasalnya, informasi dari pihak Dinas Pertanian Kabuapaten Bone terkait penggunanaan dana Bansos tidak jelas pengelolahannya. Dana sebesar Rp 2 miliar lebih untuk dua kegiatan pemerintah Sulsel yakni Sistem Rice Instensification (SRI) dan optimasi lahan ini diberikan kepada 67 kelompok tani dengan anggaran bervariatif. Selain itu, setiap kelompok tani hanya memperoleh satu kegiatan saja.
"Sesuai dengan rencana usaha kelompok, dana itu ditujukan untuk pembelian bibit dan alat pertanian lengkap dengan rincian harganya namun, ternyata bibitnya sudah ada disiapkan begitu pula dengan hand traktornya yang sudah dipihak ketigakan, karena kami dianjurkan agar pengadaan hand traktor itu melalui Dinas Pertanian bukan diserahkan kepada kelompok tani," ungkap Ketua Kelompok tani Laju I Dusun II Desa Wollangi, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone Rustam kepada Wartawan usai mendatangi Dinas tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bone, Selasa (23/4).
Rustam merupakan kelompok tani yang memperoleh Bansos untuk kegiatan optimasi lahan dengan anggaran Rp 41 juta. Ia bersama Kepala Desa Wollangi Andi Muhammad Said mendatangi Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bone karena kelompoknya menerima bansos namun, semua rincian dalam rencanan usaha kelompok (RUK) telah disiapkan. Sementara kelompoknya nanti dibebankan untuk membuat laporan pertanggungjawabannya.
Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bone Burhanuddin menjelaskan, kalau dana Bansos tersebut adalah untuk optimalisasi lahan dan peruntukannya sudah tertera dalam RUK. Dana guna pembelian benih, sarana produksi (pupuk), dan alat pertanian seperti traktor dan pompa air. Menurutnya, semua penggunaan dana bantuan itu diserahkan kepada kelompok tani itu sendiri sesuai dengan ketentuan harga yang tercantum dalam RUK.
"Dalam RUK sudah tercantum harga bibit Rp 4 juta dan harga traktor sesuai dengan spesifikasi dengan traktor seharga Rp 21 juta ada sejumlah item lainnya yang tercantum," jelas Bahar.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Andi Tenriawaru. Ia menjelaskan, kegiatan optimasi lahan untuk lahan tani seluas 640 hektar menelan anggaran Rp 1 miliar lebih. Begitupula dengan kegiatan Sistim Rice Intensification untuk lahan tani seluas 700 hektar, juga menggunakan APBN sebesar Rp 1 miliar. Untuk kegiatan Optimasi lahan, setiap kelompok tani diberi Rp 41 juta lebih. Sedangkan untuk Sistem Rice setiap kelompk tani diberi Rp 40 juta lebih.
"Kami hanya memfasilitasi saja karena satuan kerjanya dari provinsi. Namun kegiatan itu, untuk mengoptimalkan lahan masyarakat dan merubah prilaku petani untuk menggunakan pupuk organik," jelas Tendri. (*)
"Sesuai dengan rencana usaha kelompok, dana itu ditujukan untuk pembelian bibit dan alat pertanian lengkap dengan rincian harganya namun, ternyata bibitnya sudah ada disiapkan begitu pula dengan hand traktornya yang sudah dipihak ketigakan, karena kami dianjurkan agar pengadaan hand traktor itu melalui Dinas Pertanian bukan diserahkan kepada kelompok tani," ungkap Ketua Kelompok tani Laju I Dusun II Desa Wollangi, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone Rustam kepada Wartawan usai mendatangi Dinas tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bone, Selasa (23/4).
Rustam merupakan kelompok tani yang memperoleh Bansos untuk kegiatan optimasi lahan dengan anggaran Rp 41 juta. Ia bersama Kepala Desa Wollangi Andi Muhammad Said mendatangi Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bone karena kelompoknya menerima bansos namun, semua rincian dalam rencanan usaha kelompok (RUK) telah disiapkan. Sementara kelompoknya nanti dibebankan untuk membuat laporan pertanggungjawabannya.
Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bone Burhanuddin menjelaskan, kalau dana Bansos tersebut adalah untuk optimalisasi lahan dan peruntukannya sudah tertera dalam RUK. Dana guna pembelian benih, sarana produksi (pupuk), dan alat pertanian seperti traktor dan pompa air. Menurutnya, semua penggunaan dana bantuan itu diserahkan kepada kelompok tani itu sendiri sesuai dengan ketentuan harga yang tercantum dalam RUK.
"Dalam RUK sudah tercantum harga bibit Rp 4 juta dan harga traktor sesuai dengan spesifikasi dengan traktor seharga Rp 21 juta ada sejumlah item lainnya yang tercantum," jelas Bahar.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Andi Tenriawaru. Ia menjelaskan, kegiatan optimasi lahan untuk lahan tani seluas 640 hektar menelan anggaran Rp 1 miliar lebih. Begitupula dengan kegiatan Sistim Rice Intensification untuk lahan tani seluas 700 hektar, juga menggunakan APBN sebesar Rp 1 miliar. Untuk kegiatan Optimasi lahan, setiap kelompok tani diberi Rp 41 juta lebih. Sedangkan untuk Sistem Rice setiap kelompk tani diberi Rp 40 juta lebih.
"Kami hanya memfasilitasi saja karena satuan kerjanya dari provinsi. Namun kegiatan itu, untuk mengoptimalkan lahan masyarakat dan merubah prilaku petani untuk menggunakan pupuk organik," jelas Tendri. (*)