CITIZEN REPORTER
Jilbab dan Terorisme di Benak Orang Australia
Sehari pasca meledaknya bom di Boston, Amerika Serikat awal pekan ini,
Penulis: CitizenReporter | Editor: Muh. Taufik
dr. Nurhira Abdul Kadir
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar/Mahasiswa di School of Population Health and General Practice, the University of Adelaide, melaporkan dari Adelaide Australia Selatan
Sehari pasca meledaknya bom di Boston, Amerika Serikat awal pekan ini, saya sedikit merasa was-was dengan kondisi di Australia. Hari itu saya harus mengikut kuliah di beberapa tempat dalam kampus Universitas Adelaide yang jaraknya cukup berjauhan. Ada kekhawatiran bahwa pelaku peledakan bom tersebut ditujukan kepada warga muslim, sebagaimana peledakan bom-bom sebelumnya. Jangan sampai, saya dan kaum muslimin di sini, khususnya karena sebagai muslimah yang memakai jilbab, tentu lebih mudah diidentifikasi, mendapat perlakukan berbeda dari warga Australia.
Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Sepanjang hari saya ke kampus menaiki bus yang satu ke bus lainnya, hingga sampai di kampus, demikian pula ketika pulang jelang magrib, tidak ada perubahan sikap warga Australia kepada kami khususnya muslimah yang memakai jilbab. Bahkan di pusat kota Adelaide, Rundle Mall, setiap saat dapat disaksikan perempuan yang memakai jilbab lalu lalang, bebas beraktifitas sebagaimana hari-hari sebelumnya. Sebagaimana di Amerika, warga Australia juga sangat menghormati kebebasan beragama, tidak ada perlakukan diskriminasi terhadap kami.
Memang dalam kasus-kasus tertentu, ada peristiwa yang tidak nyaman kepada kaum muslimin, khususnya pandangan mereka terhadap jilbab. Saya sendiri sekitar dua minggu lalu mengalami perlakukan yang tidak nyaman ini. Ketika itu sepulang dari kampus, dalam bis hanya saya yang memakai jilbab. Seorang pemuda dari arah belakang berteriak bernada ejekan: “itu di dalam kepada orang berjilbab adalah pikiran teroris...”. Kalimat itu beberapa kali dia ulangi. Saya hanya berharap dia tidak melakukan kekerasan fisik. Seorang ibu warga Australia yang ada di sampingku menenangkan saya: “jangan pedulikan, dia itu sedang mabuk”.
Peristiwa sebelumnya, adalah ketika seorang wanita warga Australia yang masuk Islam ketika melihat perempuan muslimah. Suatu ketika dia datang berkunjung ke rumah seorang imigran dari Timur Tengah, bernama Hanif. Di rumah itu, dia diladeni oleh isteri tuan rumah. Dia heran, kenapa wanita itu tidak pakai jilbab. Sebab selama ini, dalam pikirannya, wanita muslim yang berkerudung itu adalah karena kepalanya botak. Setelah diskusi panjang lebar dengan sang imigran tersebut, perempuan inipun masuk Islam.