Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Penyebab Nikel Indonesia Dicap Tak Ramah Lingkungan di Pasar Internasional

Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia sejatinya punya potensi dalam industri baterai dan electric vehicle.

Tayang:
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Alfian
Tribun-timur.com
TAMBANG NIKEL - Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Morowali Utara, Ince Mochamad Arief Ibrahim dalam seminar publik bertajuk 'Membangun dekarbonisasi pada rantai pasok industri baterai dan EV demi menjaga daya saing dan komitmen lingkungan indonesia' di Gedung Ipteks, Universitas Hasanuddin (Unhas), Jl Perintis Kemerdekaan Km.10 pada Selasa (9/6/2026). Ince membongkar alasan nikel Indonesia dicap kurang ramah lingkungan 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Indonesia punya peluang besar sebagai pemegang kendali terhadap industri nikel global.

Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia sejatinya punya potensi dalam industri baterai dan electric vehicle.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Morowali Utara, Ince Mochamad Arief Ibrahim memandang Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik dunia.

Hal ini dibahas dalam seminar publik bertajuk 'Membangun dekarbonisasi pada rantai pasok industri baterai dan EV demi menjaga daya saing dan komitmen lingkungan indonesia' di Gedung Ipteks, Universitas Hasanuddin (Unhas), Jl Perintis Kemerdekaan Km.10 pada Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, peluang tersebut lahir setelah kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel yang mendorong tumbuhnya industri hilirisasi di dalam negeri.

"Kita punya potensi karena kebijakan pelarangan ekspor biji nikel telah memicu hilirisasi. Peluang mutlak jadi pusat produksi baterai EV Global," jelas Ince dihadapan ratusan mahasiswa Unhas.

Baca juga: Tambang Nikel Diduga Penyebab Banjir di Ussu, Legislator Lutim dan Walhi Serang PT PUL

Hanya saja, industri ini dijalankan dengan risiko cukup besar.

Sebab industri nikel yang berlangsung saat ini masih berdampak pada beban emisi yang terlalu berat.

"Karena produksi smelter kita mayoritas masih ditopang PLTU batu bara yang menghasilkan emisi karbon yang luar biasa," jelasnya.

Industri nikel masih mengandalkan batu bara.

Sehingga dalam pasar internasional, nikel Indonesia mendapat stigma cukup negatif.

"Bagi pasar internasional, status nikel kita dicap kurang ramah lingkungan. Kalau itu terjadi menganggu daya saing nikel kita," jelasnya.

Tuntutan dekarbonisasi menguat tidak hanya menyasar produk akhir kendaraan listrik.

Tetapi juga seluruh proses produksi yang membentuk rantai pasok industri tersebut. 

Upaya pengurangan emisi harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved