Statoil Guyur Mamuju Rp 1,7 M Per Tahun
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKSS) asal Norwegia, Statoil, mengguyur Kabupaten Mamuju sekitar Rp 1,5 miliar hingga Rp 1,7 miliar per tahun
Tayang:
Penulis: Hasriyani Latif |
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKSS) asal Norwegia, Statoil, mengguyur Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat sekitar Rp 1,5 miliar hingga Rp 1,7 miliar per tahun.
Dana yang disalurkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) ini dikucurkan selama proses eksplorasi minyak dan gas (migas) yang dilakukan Statoil sepanjang 2009-2012 di Blok Karama, lepas pantai Kabupaten Mamuju.
Perwakilan dari Statoil, Wawan Koswara, mengatakan, program CSR yang dikucurkan tersebut merupakan wujud kepedulian sosial perusahaan terhadap masyarakat di Kabupaten Mamuju.
Dana CSR digulirkan ke dalam beberapa bidang. Mulai pendidikan, kesehata, perikanan, lingkungan hidup, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di Mamuju,
Meski diakui program yang dijalankan tersebut belum menyentuh secara menyeluruh, pihaknya mengharapkan bantuan CSR yang diberikan dapat dirasakan oleh masyarakat setempat. Keterbatasan dari sisi anggaran juga diakui menjadi faktor ketidakmerataan bantuan.
"Anggaran terbatas karena masih dalam tahap eksplorasi," ujarnya di sela Sosialisasi Kegiatan Hulu Migas, Program Pengembangan Operasi, dan Program Kegiatan CSR Statoil di Mamuju, Sulawesi Barat di Hotel Aryaduta Makassar, belum lama ini.
Apa yang dilakukan Statoil tersebut diapresiasi oleh pihak Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Pasalnya, meski tidak ditemukan adanya sumber hidrokarbon yang membuat pihak Statoil menghentikan proses eksplorasi tiga sumur di Mamuju, program CSR tetap dijalankan.
"Ini bisa dicontoh oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) lainnya," kata Kepala SKK Migas Kalimantan-Sulawesi, Ngatijan.
Menurutnya, selama proses eksplorasi, investasi yang ditanam Statoil dan rekan sekitar 270 juta dolar AS. Karena hasil pengeboran kosong, Blok Karama dikembalikan kepada negara untuk kemudian dilelang atau ditawarkan kepada perusahaan lain. (*)
Dana yang disalurkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) ini dikucurkan selama proses eksplorasi minyak dan gas (migas) yang dilakukan Statoil sepanjang 2009-2012 di Blok Karama, lepas pantai Kabupaten Mamuju.
Perwakilan dari Statoil, Wawan Koswara, mengatakan, program CSR yang dikucurkan tersebut merupakan wujud kepedulian sosial perusahaan terhadap masyarakat di Kabupaten Mamuju.
Dana CSR digulirkan ke dalam beberapa bidang. Mulai pendidikan, kesehata, perikanan, lingkungan hidup, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di Mamuju,
Meski diakui program yang dijalankan tersebut belum menyentuh secara menyeluruh, pihaknya mengharapkan bantuan CSR yang diberikan dapat dirasakan oleh masyarakat setempat. Keterbatasan dari sisi anggaran juga diakui menjadi faktor ketidakmerataan bantuan.
"Anggaran terbatas karena masih dalam tahap eksplorasi," ujarnya di sela Sosialisasi Kegiatan Hulu Migas, Program Pengembangan Operasi, dan Program Kegiatan CSR Statoil di Mamuju, Sulawesi Barat di Hotel Aryaduta Makassar, belum lama ini.
Apa yang dilakukan Statoil tersebut diapresiasi oleh pihak Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Pasalnya, meski tidak ditemukan adanya sumber hidrokarbon yang membuat pihak Statoil menghentikan proses eksplorasi tiga sumur di Mamuju, program CSR tetap dijalankan.
"Ini bisa dicontoh oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) lainnya," kata Kepala SKK Migas Kalimantan-Sulawesi, Ngatijan.
Menurutnya, selama proses eksplorasi, investasi yang ditanam Statoil dan rekan sekitar 270 juta dolar AS. Karena hasil pengeboran kosong, Blok Karama dikembalikan kepada negara untuk kemudian dilelang atau ditawarkan kepada perusahaan lain. (*)