Pilkada Jakarta

Golput Nomor Satu, Disusul Jokowi-Ahok

Pemilukada DKI Jakarta yang memasuki putaran kedua menyisakan pekerjaan besar bagi KPU Provinsi

Tribun Jakarta (TRIBUNnews.com Network) melaporkan, sesuai hasil rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pilgub DKI yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (19/7/2012) siang tadi, duet Jokowi-Ahok mendapat dukungan 1.847.157 suara.

 Posisi Jokowi-Ahok dibayangi pasangan Fauzi Bowo (Foke) – Nachrowi Ramli (Nara) yang meraup 1.476.648 suara. Hasil resmi tersebut sekaligus menempatkan pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nara masuk ke putaran dua Pemilukada DKI Jakarta.

Sesuai data KPU DKI, pada awal pemungutan suara Salinan Daftar Pemilih Tetap (SDPT) mencatat 3.543.970 pemilih laki-laki, perempuan 3.418.378 atau keseluruhannya sebanyak 6.962.348 pemilih. Dari jumlah tersebut, 2.144.887 pemilih laki-laki dan 2.262.254 pemilih perempuan mengikuti pemungutan suara, atau total sebanyak 4.407.141 orang.

 Hal ini berarti jumlah warga tidak memilih sebanyak 1.399.083 laki-laki dan 1.156.124 perempuan dengan jumlah keseluruhan yang tidak memilih 2.555.207 orang.

 Ketua Pokja Pemungutan dan Penghitungan Suara KPU DKI, Sumarno mengamini KPU DKI memiliki PR (pekerjaan rumah) besar untung mengurangi jumlah angka golput atau warga yang tidak menggunakan hak pilihnya, pada putaran dua pemilukada.

Menurut Sumarno, setidaknya ada empat jenis golput yang sedang berkembang yakni golput politis, logis, teknis, dan apatis.

Golput politis, papar Sumarno, disebabkan masyarakat tidak percaya kepada penyelenggara negara yang dianggap korup.

"Kalau golput logis, pemilih golput karena alasan bisa saja karena tidak merasa satu agama dengan kandidat, atau ketidakpercayaan akan adanya perubahan," ujar Sumarno saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (19/7/2012).

Sementara golput teknis disebabkan karena kurangnya sosialisasi dari penyelenggara pemilu dalam hal ini KPU Provinsi DKI Jakarta.

Golput apatis timbul karena adanya sikap acuh, kurang peduli, warga terhadap pemilukada. Kelompok masyarakat ini biasanya tidak memiliki sikap politik yang jelas.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Muh. Taufik
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help