PGRI: Pendidikan Gratis Hanya Euforia Politik
Tribun Timur - Selasa, 10 Juli 2012 20:13 WITA
Berita Terkait
- Politisi dan Korupsi
- Bupati Bone Ancam Pecat Pejabat Pendidikannya
- Pilwali Makassar Bukan Pasar Malam
- Sandiwara Degradasi Politik Indonesia
- Murid Kelas 1 SD Tewas Tertabrak Mobil Kadis Pendidikan…
- Desentralisasi dan Libido Politik
- Pilkada dan Demokrasi Deliberatif
- Partainya Keok, Kader PDP Palopo Ini Pensiun dari…
- Pendidikan Nasional, Kapan Menasional?
- Menakar Sikap Pemilih Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo menilai,
pelaksanaan pendidikan gratis hanya bagian dalam euforia politik dan
menyederhanakan persoalan.
Menurut dia, janji menggratiskan pendidikan pada akhirnya hanya akan menjadi beban kepala sekolah dan para guru.
"Pendidikan gratis hanya euforia politik dan pada kenyataannya hanya menyederhanakan persoalan," kata Sulistyo, kepada Kompas.com, Selasa (10/7/2012), di kantor PGRI, Jakarta.
Ia mengungkapkan, saat ini isu pendidikan menjadi salah satu isu "seksi" yang ditunggangi politikus untuk mencapai tujuannya. Faktanya, pemerintah pusat ataupun daerah belum mampu menyajikan pendidikan gratis tersebut.
Buktinya, kata Sulistyo, terlihat dari bantuan operasional yang diberikan pemerintah pusat dan daerah (BOS-BOP) kepada sekolah belum mampu menutupi seluruh kebutuhan di sekolah. Bantuan tersebut digelontorkan hanya untuk menutupi satu kebutuhan pokok, yakni kebutuhan operasional. Sementara itu, dua kebutuhan pokok lainnya, seperti investasi dan kebutuhan personal, tidak dipenuhi.
"Namanya saja 'bantuan' operasional, maka sifatnya hanya membantu dan belum menutupi semua. Kalau mau gratis, seharusnya pemerintah bisa konsekuen mengganti namanya jadi 'biaya' dan penuhi semua kebutuhannya," ungkapnya.
Lebih jauh ia mengatakan, banyak daerah yang belum siap menyelenggarakan pendidikan gratis. Akhirnya, terpaksa mengikuti aturan pemerintah daerah karena telanjur berjanji pada saat masa kampanye.
"Akhirnya mengakibatkan penderitaan guru dan kepala sekolah. Terpaksa mengambil guru honor dan digaji rendah," ujar Sulistyo.
(*)
Menurut dia, janji menggratiskan pendidikan pada akhirnya hanya akan menjadi beban kepala sekolah dan para guru.
"Pendidikan gratis hanya euforia politik dan pada kenyataannya hanya menyederhanakan persoalan," kata Sulistyo, kepada Kompas.com, Selasa (10/7/2012), di kantor PGRI, Jakarta.
Ia mengungkapkan, saat ini isu pendidikan menjadi salah satu isu "seksi" yang ditunggangi politikus untuk mencapai tujuannya. Faktanya, pemerintah pusat ataupun daerah belum mampu menyajikan pendidikan gratis tersebut.
Buktinya, kata Sulistyo, terlihat dari bantuan operasional yang diberikan pemerintah pusat dan daerah (BOS-BOP) kepada sekolah belum mampu menutupi seluruh kebutuhan di sekolah. Bantuan tersebut digelontorkan hanya untuk menutupi satu kebutuhan pokok, yakni kebutuhan operasional. Sementara itu, dua kebutuhan pokok lainnya, seperti investasi dan kebutuhan personal, tidak dipenuhi.
"Namanya saja 'bantuan' operasional, maka sifatnya hanya membantu dan belum menutupi semua. Kalau mau gratis, seharusnya pemerintah bisa konsekuen mengganti namanya jadi 'biaya' dan penuhi semua kebutuhannya," ungkapnya.
Lebih jauh ia mengatakan, banyak daerah yang belum siap menyelenggarakan pendidikan gratis. Akhirnya, terpaksa mengikuti aturan pemerintah daerah karena telanjur berjanji pada saat masa kampanye.
"Akhirnya mengakibatkan penderitaan guru dan kepala sekolah. Terpaksa mengambil guru honor dan digaji rendah," ujar Sulistyo.
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary
Editor : Ridwan Putra
Sumber : Kompas.com
