Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pintu Kecemasan

Saya berpikir dia mungkin lulusan akademi pelayaran juga, tapi ternyata bukan

Tayang:
Penulis: Ridwan Putra | Editor: Ina Maharani
 

PERJALANAN dari Kota Makassar ke Kuala Lumpur di Malaysia adalah yang pertama bagi saya, tapi jelas bukan perjalanan udara pertama yang saya lakukan.

Sebelum berangkat, Jumat (6/7/2012), saya sudah mengalami kecemasan, harap-harap cemas menunggu teman yang akan berangkat bersama ke Kuala Lumpur dengan pesawat yang sama, Air Asia.com, begitu tulisan di badan pesawat yang kami tumpangi dengan nomor flight AK1317.

Rekan saya, David yang akrab disapa Anko, sehari sebelumnya mengabarkan jadwal keberangkatan pesawat pukul 17.00. Saya sudah janjian ketemu di kantor tribun timur dan akan berangkat pukul 15.00 ke bandara internasional Sultan Hasanuddin di Maros, tapi sampai pukul 16.00, dia belum juga muncul sejam sebelum keberangkatan pesawat.

Anko David baru tiba di kantor pukul 16.30, artinya setengah jam lagi pesawat akan melakukan penerbangan dan kami baru akan menuju ke bandara dari Jl Cendrawasih, Makassar. Saya cemas akan ketinggalan pesawat karena dia yang memegang print boarding pass  menuju Kuala Lumpur untuk menghadiri undangan rumah sakit ibu dan anak di Kuala Lumpur, Tropicana Centre Malaysia (TCM) Hospital, rumah sakit bersalin bayi tabung.

Anko David juga wartawan tribun yang warga keturunan, namun ia diundang mewakili organisasi 'paguyuban'nya, Persatuan Seluruh Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulsel. Saya sendiri diutus dari redaksi tribun timur karena 'kebetulan' paspor saya belum kedaluwarsa.

Kecemasan memudar perlahan setelah rekan saya Anko akhirnya tiba. Lega makin terasa karena jadwal keberangkatan pesawat sebenarnya adalah pukul 18.15 WITA, sesuai yang tertera di secarik kertas print boarding pass Air Asia rute Makassar-Kuala Lumpur.

Di bandara Sultan Hasanuddin, saya bertemu senior saya di dunia wartawan, Mukhlis Hadi yang wartawan dari Harian Fajar. Bang Mukhlis, saya memanggilnya. Saya dan dia pernah sama-sama jadi wartawan 'daerah' di Maros beberapa tahun silam. Dia juga punya tujuan dan undangan yang sama dengan saya dan anko David. Kami bertiga sempat ngopi dan merokok sambil ngobrol di kedai Cattleya Cafe di dalam bandara, tidak jauh dari gate 4.

Usai melakukan pengecekan imigrasi, kami bertiga masuk ke ruang tunggu. Korek gas cricket saya yang ada di saku celana disita petugas, termasuk air botol mineral dari kafe tadi. Maklum, ini penerbangan mancanegara saya dan tak ada yang memberitahu saya sebelumnya jika korek gas dan air botol mineral pun 'dilarang melintas' untuk penerbangan ke luar negeri, tidak seperti penerbangan dalam negeri sendiri.

Untungnya saya membawa dua korek gas. Jadi (petugas) dapat satu, lolos satu. Korek yang satu itu tersimpan di tas kecil saya yang bersandar dekat saku celana. Jadi yang ketahuan korek gas di saku, merek cricket, warna kuning, bergambar spongebob, tokoh kartun kesukaan anak laki-laki saya yang berusia 4 tahun.

Di dalam pesawat, saya duduk di seat 14 F, saya duduk di kursi dalam, tepat di sebelah jendela kaca. Di luar jendela, sayap pesawat terlihat jelas berada di sebelah saya. Ternyata saya duduk tepat di sebelah pintu darurat bertuliskan "pintu kecemasan" atau emergency exit yang memuat gambar tata cara menyelamatkan diri dan membuka pintu tersebut jika terjadi keadaan darurat. Sebagai orang Indonesia, tulisan itu agak lucu dan aneh dibaca. Saya berkhayal, mungkinkah ada "pintu ketenangan atau pintu kesenangan" di bagian lain dalam pesawat.

Di sekitar tempat duduk saya masih ada lagi tulisan yang sama dan tulisan berisi petunjuk lainnya, seperti "Kanak-kanak, orang kurang upaya dan warga tua Tidak dibenarkan menduduki kerusi di barisan pintu keluar kecemasan ini", di dinding bawah jendela ada lagi "Jangan Letak Beg Disini". Mengamati tulisan-tulisan itu cukup mengisi waktu perjalanan selama duduk 3 jam di pesawat.

****
Penumpang di sebelah saya, seorang pria kira-kira seusia saya juga. Cuma penampilannya agak formal. Saya sempat berkenalan dan ngobrol sebentar saja. Namanya David, sama dengan nama rekan saya, anko david. David satu ini ternyata bekerja di laut malaysia. Dia orang Makassar juga bekerja di atas kapal minyak milik warga malaysia sejak tahun lalu. Kapalnya seperti 'SPBU' mengisi BBM kapal-kapal lain yang berada di perairan Malaysia.

Saya berpikir dia mungkin lulusan akademi pelayaran juga, tapi ternyata bukan. "Bukan, saya mulai dari nol bekerja di kapal" singkatnya. Dia cukup baik, menawarkan saya donat dan membelikan sebotol air minum mineral di pesawat pakai uang ringgit miliknya disaat uang di saku saya masih dalam bentuk lembaran rupiah.(*)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved