Cacar Jerman Terdeteksi di Makassar
Cacar Jerman Terdeteksi di Makassar
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Muh. Irham
Sejak akhir pekan lalu, disebutkan pasien penyakit cacar yang diikuti demam tinggi bagi anak ini, masih dalam kategori wajar.
"Tadi ada ibu, yang anaknya sudah kena empat orang," kata Nur Hidayah, seorang staf perawat di puskesmas di Komplek BTN Tabaria, Parangtambung, Makassar ini.
Pekan lalu, juga dikonfirmasikan oleh perawat ada beberapa pasien dfengan gejala cacar jerman.
"Kita waspada saja, sebab dipergantian musim, virus rubella atau parisella memang mewabah," kata perawat yang lain kepada Tribun.
Menurut Nurdayah, dokter di puskesmas itu, Dr Rudi Lautan, memang kerap mengingatkan pasien untuk mewaspadai penyakit yang terbilang kerap mewabah di keluarga.
"Biasanya satu keluarga kena, tapi ini penyakit biasa, dan cuma kena sekali seumur hidup," kata si perawat.
Di SMA 2 Makassar, Jl Baji Gau, sejumlah guru juga membicarakan mewabahnya penyakit ini dalam dua pekan terakhir.
"Teman saya, sudah kena 3 keluarga, bahkan keluarganya dari Sinjai juga mengabarkan pasien penyakut ini banyak di puskesmas dan rumah sakit," kata Nurlaely Basir, guru bahasa inggris yang juga anaknya terpapar penyakit dengan bentol-bentol merah di seluruh tubuh ini.
Rubella adalah penyakit cacar kering, tidak mencair, seperti parisella atau cacar air.
Bintik-bintik merah sebesar biji kacang tanah menyebar di seluruh tubuh. Di permukaan, cacar jerman, ini terasa agak kasar.
Saat Tribun berada di PKM Tamalate, sekitar pukul 12.05 wita, dokter Rudi Lautan, yang juga kepala PKM Tamalate menelepon.
Kepada perawat dia menanyakan data pasien parisella dan rubella dalam sepekan terakhir.
Dr Rudi, mendapat telepon dari kepala dinas kesehatan kota Makassar, Dr Nasiatun Azikin, menanyakan soal penyebaran penyakit cacar jerman yang kerap mewabah di masa transisi musim penghujan dan kemarau ini. (*/tribun-timur.com)