Persoalan Sampah yang Tak Pernah Selesai di Makassar
Tribun Timur - Rabu, 4 Januari 2012 13:07 WITA

sampah di Pantaoi Losari Makassar.
Berita Terkait
- Sampah Kota Makassar Digarap Perusahaan Singapura
- FPM Sulsel Kumpul Sampah di Pantai Losari
- Makassar Pilot Project Pengolahan Sampah
- Warga Inggris Galang Dana untuk Tukang Sampah Jakarta
- Masyarakat Keluhkan Sampah Bertumpuk
- Meneg KLH Protes Singapura Dan Malaysia Soal Sampah…
- Waah...Banyak Sampah Makassar Tak Bisa Diangkut
- Sampah Pasar Mandai Akhirya Dibersihkan
- Tumpukan Sampah di Pasar Mandai
- Kisah Tukang Sampah Indonesia di BBC TV
TRIBUN-TIMUR.COM - Persoalan sampah di Makassar seperti tak pernah bisa dituntaskan. Miliaran rupiah uang APBD Makassar dihabiskan untuk mengelola sampah. Akan tetapi, sampah bukannya berkurang, malah semakin bertambah.
Tengok saja kanal-kanal di Kota Makassar. Semua penuh dengan sampah. Pada musim kemarau, airnya hitam dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Tumpukan sampah juga dengan mudah ditemukan di drainse-drainase. Mulai sampah plastik hingga ranting-ranting pohon ada di selokan.
Di Jl Syekh Yusuf Makassar, sedimentasi drainase sudah sangat menghkhawatirkan. Setiap musim hujan tiba, air selalu meluap ke jalan raya. Air terkadang menggenang hingga berminggu-minggu lamanya.
Warga di sepanjang jalan di perbatasan Makassar-Gowa itu bukannya mengeruk drainse untuk memperlancar aliran air. Mereka malah memilih meninggikan dinding drainase agar airnya tidak meluap.
Di sepanjang Jl Dg Tata, saluran drainase juga semakin dangkal karena sedimentasi sampah yang sangat tinggi. Menurut warga sekitar, drainse itu belum pernah dikeruk oleh pemerintah.
Pemandangan yang sama juga terlihat di kanal Pabaeng-baeng. Kanal yang membelah Makassar di Kecamatan Tamalate itu setiap hari menjadi tempat sampah favorit para pedagang dan warga di sekitar kanal. Akibatnya sampah plastik selalu menumpuk di dasar kanal.
Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin bukannya tidak peduli dengan penanganan sampah di Makassar. Menurutnya, kebijakan melarang membuang sampah di kanal dan di tempat-tempat lain di Makassar tetap efektif berjalan. Hanya saja, butuh waktu untuk menyadarkan masyarakat yan sudah terlanjur memiliki budaya buang sampah di sembarang tempat.(*/tribun-timur.com)
Tengok saja kanal-kanal di Kota Makassar. Semua penuh dengan sampah. Pada musim kemarau, airnya hitam dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Tumpukan sampah juga dengan mudah ditemukan di drainse-drainase. Mulai sampah plastik hingga ranting-ranting pohon ada di selokan.
Di Jl Syekh Yusuf Makassar, sedimentasi drainase sudah sangat menghkhawatirkan. Setiap musim hujan tiba, air selalu meluap ke jalan raya. Air terkadang menggenang hingga berminggu-minggu lamanya.
Warga di sepanjang jalan di perbatasan Makassar-Gowa itu bukannya mengeruk drainse untuk memperlancar aliran air. Mereka malah memilih meninggikan dinding drainase agar airnya tidak meluap.
Di sepanjang Jl Dg Tata, saluran drainase juga semakin dangkal karena sedimentasi sampah yang sangat tinggi. Menurut warga sekitar, drainse itu belum pernah dikeruk oleh pemerintah.
Pemandangan yang sama juga terlihat di kanal Pabaeng-baeng. Kanal yang membelah Makassar di Kecamatan Tamalate itu setiap hari menjadi tempat sampah favorit para pedagang dan warga di sekitar kanal. Akibatnya sampah plastik selalu menumpuk di dasar kanal.
Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin bukannya tidak peduli dengan penanganan sampah di Makassar. Menurutnya, kebijakan melarang membuang sampah di kanal dan di tempat-tempat lain di Makassar tetap efektif berjalan. Hanya saja, butuh waktu untuk menyadarkan masyarakat yan sudah terlanjur memiliki budaya buang sampah di sembarang tempat.(*/tribun-timur.com)
Penulis : Muh. Irham
Editor : Ridwan Putra