Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Makkunrai 2026

Andi Nirawati: Perempuan Sudah Berpolitik Sejak dari Rumah

Dalam forum itu, Ketua Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) DPRD Sulsel ini tidak bicara politik sebagai kekuasaan semata.

Tayang:
Erlan Saputra/Tribun Timur
HARI KARTINI - Ketua Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) DPRD Sulsel Andi Nirawati menyatakan politik bukan sesuatu yang jauh dan kaku di ruang parlemen. Ia melihat politik justru dekat. Sangat dekat. Bahkan tumbuh dari dalam rumah. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Bagi Andi 'Anir' Nirawati (49) politik bukan sesuatu yang jauh dan kaku di ruang parlemen.

Ia melihat politik justru dekat.

Sangat dekat.

Bahkan tumbuh dari dalam rumah.

Di sana, perempuan sudah lama mempraktikkan politik, meski sering tidak disadari.

Bukan dalam bentuk pidato atau rapat, tetapi lewat keputusan-keputusan kecil yang menentukan arah keluarga.

Mengatur kebutuhan rumah, membaca karakter suami dan anak, hingga menjaga keharmonisan.

Semua itu adalah strategi.

Dan strategi itulah inti dari politik.

"Politik itu ada di mana-mana. Apa pun butuh strategi," ujarnya dalam talkshow Hari Kartini di Phinisi Point, Jumat (24/4/2026) lalu.

Dalam forum itu, Ketua Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) DPRD Sulsel ini tidak bicara politik sebagai kekuasaan semata.

Ia bicara politik sebagai kemampuan mengelola.

Menimbang.

Menentukan langkah.

Sesuatu yang sudah akrab dengan kehidupan perempuan sehari-hari.

Anir menyebut pengalaman di rumah tangga sebagai 'sekolah pertama' politik bagi perempuan.

Dari sana, lahir kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan.

Tanpa harus melalui bangku kuliah politik, kemampuan itu sudah terbentuk secara alami.

Namun, ia mengingatkan, semua itu tidak akan berjalan tanpa satu hal: pemahaman.

Memahami karakter, memahami situasi, dan memahami tujuan bersama.

Tanpa itu, strategi akan kehilangan arah.

"Kalau tidak memahami karakter, tujuan tidak akan tercapai," katanya.

Anir mengaitkan peran perempuan dengan fondasi negara.

Ia mengutip pandangan Siti Hartinah yang menyebut perempuan sebagai tiang negara.

Jika tiang itu rapuh, maka bangunan di atasnya pun ikut goyah.

Di titik ini, ia melihat perempuan bukan sekadar pelengkap.

Perempuan adalah penyeimbang.

Dalam dunia yang sering didominasi logika, perempuan membawa rasa.

Perpaduan keduanya menciptakan keseimbangan.

"Tidak semua hal cukup diselesaikan dengan logika, tapi juga butuh rasa," ujarnya.

Ia pun menyinggung pentingnya kehadiran perempuan dalam ruang-ruang publik.

Bukan untuk bersaing, melainkan melengkapi.

Sebab politik sehat adalah politik yang seimbang.

Di mana logika dan rasa berjalan beriringan.

"Laki-laki dengan logika, perempuan dengan rasa. Keduanya harus berjalan bersama," katanya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved