Opini Mattewakkan
Hak untuk Menonton Piala Dunia
Piala Dunia 2026 sedikit lagi akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Janji mereka: kualitas gambar bersih, suara jernih, dan yang paling penting, efisiensi spektrum yang sebagian akan dialokasikan untuk internet cepat di seluruh nusantara.
Komdigi telah mengeluarkan anggaran besar. Mereka membangun infrastruktur pengganda sinyal (Mux) di berbagai wilayah bekerja sama dengan TVRI dan beberpa lembaga penyiaran swasta.
Mereka membagikan jutaan Set Top Box gratis kepada rumah tangga miskin.
Bahkan mereka juga meluncurkan satelit SATRIA-1 untuk menyediakan akses internet di daerah terpencil di atas kertas, statistik Komdigi mengesankan.
Mereka mengklaim jangkauan populasi siaran digital sudah mencapai 80 hingga 90 persen.
Namun kasus Toraja Utara, Soppeng, dan Wajo di Sulawesi Selatan membuktikan bahwa klaim itu mengabaikan realitas geografis dan disparitas daerah.
Saya yakin masih banyak lagi daerah di seluruh Indonesia yang mengalami nasib yang sama.
Tiga kabupaten di Sulawesi Selatan ini mungkin hanya sebagian kecil contoh.
Jika kita berani menggali, daerah-daerah terpencil di Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara, bahkan pedalaman Sumatera kemungkinan menghadapi situasi serupa.
Statistik nasional yang mengagumkan menyembunyikan kesenjangan lokal yang dalam.
Mengapa Infrastruktur Masih Bocor
Meskipun program Komdigi terdengar bagus dari pusat, pelaksanaannya di daerah berbukit Sulawesi Selatan meninggalkan celah yang dalam.
Ada beberapa alasan mengapa digitalisasi belum menjawab hak masyarakat sepenuhnya.
Topografi adalah masalah pertama.
Kabupaten seperti Toraja Utara punya kontur pegunungan yang ekstrem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Mattewakkan-Sarjana-Hubungan-Internasional.jpg)