Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Refleksi Ramadan

Keutamaan Shalawat

Berselawat dan merindukan Nabi pada saatnya Nabi akan datang dalam bentuk mimpi menjumpai yang bersangkutan.

Tayang:
Tribun-timur.com/Ist
REFLEKSI RAMADAN - Nasaruddin Umar, Menteri Agama. 

Oleh: Nasaruddin Umar
Menteri Agama

TRIBUN-TIMUR.COM - Di dalam bulan Ramadan kita dianjurkan untuk banyak bershalawat kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

Shalawat atau selawat ialah ungkapan rasa cinta dan kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW dengan mengucapkan lafaz-lafaz selawat seperti: Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Berselawat kepada Nabi adalah seruan Allah: Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (Q.S. al-Ahdzab/3356).

Ayat ini menggunakan kata yushalluna, bentuk fi’il mudhari’ berarti sampai sekarang terus berlangsung Allah SWT dan para malaikat terus berselawat dan kita semua juga diminta untuk seperti itu.

Banyak hadis menceritakan betapa pentingnya mengingat dan mengenang Nabi di dalam bentuk selawat, diantaranya Nabi bersabda: “Siapa yang berselawat kepadaku maka aku tahu dan di hari kiamat aku akan memberinya syafaat, pembelaan”, demikian kata Nabi.

Dalam hadis lain dikatakan: “Alangkah kikirnya umatku manakala namaku disebut tetapi tidak berselawat kepadaku”.

Berselawat dan merindukan Nabi pada saatnya Nabi akan datang dalam bentuk mimpi menjumpai yang bersangkutan.

Nabi bersabda: Barang siapa yang memimpikan aku, maka aku sebenarnya yang dilihat. Satau-satunya wajah yang tak dapat dipalsukan iblis ialah wajahku”.

Selanjutnya ia bersabda: “Siapa yang pernah memimpikan aku maka dia akan bersamaku di surga”.

Selawat terhadap Nabi bukan hanya manusia tetapi juga Allah Swt dan para malaikatnya sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya’’. (Q.S. al-Ahdzab/33:56)

Banyak lagi hadis shahih yang menjelaskan selawat kepada Nabi mempunyai efek positif bagi yang bersangkutan.

Lantunan pujian terhadap Nabi yang ditradisikan di dalam masyarakat merupakan sesuatu yang terpuji.

Kalangan ulama meyakini manakala nama Nabi disebut, dipuji, dan dirindukan, maka roh Nabi akan mengunjunginya.

Itulah sebabnya mengapa dalam pembacaan barzanji ketika melantunkan shalawat badar semua jamaah berdiri sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan akan kehadiran roh Rasulullah Saw.

Bagi kalangan ulama Nahdhiyyin, roh Rasulullah bisa saja datang di dalam majlis pertemuan yang memanggil Nabi Muhammad dengan penuh rasa rindu.

Itulah sebabnya dalam tradisi barzanji, ketika membaca bait-bait tertentu semua hadirin berdiri menyambut kehadiran roh Rasulullah. Allahu a’lam.

Umar pernah ditanya oleh Rasulullah, siapa yang paling engkau cintai.

Dijawab, demi Allah yang paling aku cintai ialah diriku sesudah itu engkau.

Dijawab, itu salah, mestinya engkau lebih mencintaiku dari dirimu sendiri.

Lalu Umar meralat, demi Allah aku lebih mencintaimu baru mencintai diriku sendiri.

Mari kita mencintai  Rasulullah dengan memperbanyak selawat.

Tidak ada ruginya orang-orang yang selalu memperbanyak selawatnya, terutama bulan Ramadhan, bulan yang penuh suasana emosi mencintai Rasulullah.

Semoga dengan selawat kita yang banyak dapat berbuah syafaat Nabi di hari kemudian, hari tanpa pertolongan selain syafaat Nabi Muhammad SAW.

Selawat kepada Nabi sudah menjadi tradisi menarik di dalam lintasan Sejarah umat Islam Indonesia.

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa umat paling mencintai selawat Nabi ialah umat Islam Indonesia.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved