Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

AI dan Perang Data: Pelajaran bagi Indonesia dari Operasi Epic Fury

Operasi yang dikenal dengan sandi “Epic Fury” menunjukkan bagaimana teknologi menjadi tulang punggung strategi militer modern.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com
Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Sulawesi, Maluku, dan Papua dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Abdul Malik, menilai perkembangan ini harus menjadi pelajaran bagi Indonesia. 

TRIBUN-TIMUR.COM- Suasana mencekam pernah menyelimuti Distrik Shemiran di Tehran utara.

Bagi pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, keheningan tersebut hanyalah ilusi keamanan.

Di balik sunyi itu, dunia menyaksikan babak baru peperangan modern: operasi militer yang tidak hanya dirancang oleh jenderal di ruang perang, tetapi juga oleh algoritma, kumpulan data besar, dan kecerdasan buatan yang bekerja di balik layar digital.

Operasi yang dikenal dengan sandi “Epic Fury” menunjukkan bagaimana teknologi menjadi tulang punggung strategi militer modern. Dalam operasi ini, perusahaan analisis data asal Silicon Valley, Palantir Technologies, memainkan peran penting dengan mengintegrasikan berbagai sumber informasi—mulai dari citra satelit, data sensor, hingga laporan intelijen.

Seluruh data tersebut digabungkan dalam satu model terpadu sehingga analis dapat melihat hubungan antar-entitas, memetakan situasi lapangan, hingga mempercepat pengambilan keputusan strategis.

Di saat Iran memadamkan komunikasi darat, jaringan satelit rahasia milik SpaceX, yaitu Starshield, menjadi “oksigen digital”. Sistem ini mampu mengirimkan citra beresolusi tinggi hingga kapasitas petabyte dan membaca sinyal elektromagnetik yang menembus gangguan asap maupun interferensi.

Data tersebut kemudian langsung diproses oleh mesin analisis milik Palantir dalam hitungan detik.

Sementara itu, model bahasa besar seperti Claude yang dikembangkan oleh Anthropic juga dimanfaatkan untuk membaca ribuan jam komunikasi intersepsi. Teknologi ini mampu menerjemahkan pesan berbahasa Persia hampir secara instan sekaligus mensimulasikan berbagai skenario pertempuran.

Fenomena ini menegaskan bahwa dalam peperangan modern, daya hancur memang masih ditentukan oleh senjata fisik. Namun keunggulan strategis semakin ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan data, mempercepat analisis berbasis AI, dan memenangkan superioritas informasi.

Dalam banyak doktrin militer kontemporer, kecepatan pengambilan keputusan berbasis data kini menjadi faktor pembeda utama di medan tempur.

Amerika Serikat saat ini berada di posisi strategis melalui ekosistem perusahaan teknologinya, seperti Palantir Technologies, SpaceX, Anduril Industries, hingga Meta Platforms. Dominasi pada lapisan data, komputasi, dan konektivitas membuat supremasi teknologi dapat tercipta bahkan sebelum konflik fisik dimulai.

Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Sulawesi, Maluku, dan Papua dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Abdul Malik, menilai perkembangan ini harus menjadi pelajaran bagi Indonesia.

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat ketahanan digital yang berdaulat dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi negara lain, meskipun investasi teknologi global terus berkembang.

Ia juga menyoroti bahwa tantangan terbesar bukan hanya teknologi, tetapi juga pola pikir dan tata kelola kebijakan.

“Jika tidak membangun kemandirian digital, maka di masa depan algoritma bukan hanya menjadi alat analisis, tetapi bisa menjadi penentu nasib sebuah negara,” ujarnya.

Karena itu, Abdul Malik menilai Indonesia perlu memperkuat ekosistem teknologi nasional, mulai dari infrastruktur data, pengembangan kecerdasan buatan, hingga keamanan siber.

Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia mampu mengantisipasi dinamika perang informasi dan persaingan teknologi global di masa depan.(*) 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved