Makassar Mulia

Hemat Anggaran, Munafri Arifuddin Tegaskan 2026 Pemkot Makassar Tanpa Pengadaan Mobil Dinas Baru

Humas Pemkot Makassar
KENDARAAN DINAS - Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Sekretaris Daerah Andi Zulkifli Nanda diwawancara di Balaikota Makassar Jl Jenderal Ahmad Yani, Rabu (15/4/2026). Munafri memastikan tak mengajukan pengadaan kendaraan dinas baru tahun ini. 

TRIBUN-TIMUR. COM, MAKASSAR - Inilah alasan mengapa Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin tak mengajukan pengadaan kendaraan dinas baru di masa kepemimpinannya. 

Kata Munafri, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi kendaraan dinas yang dinilai masih layak pakai serta sesuai dengan kebutuhan di wilayah Kota Makassar.

Munafri menilai, karakteristik geografis Makassar yang relatif datar tidak membutuhkan kendaraan dengan spesifikasi khusus seperti daerah lain.

“Mobil dinas mungkin sesuai dengan kebutuhan teman-teman. Kalau di Kota Makassar ini kan tidak ada medan yang harus naik gunung, turun gunung,” ujar Munafri diwawancara di Balaikota Makassar Jl Jenderal Ahmad Yani, Rabu (15/4/2026). 

Munafri  mengungkapkan, saat dirinya dilantik, kendaraan operasional yang tersedia masih tergolong baru dan dalam kondisi baik.

Saat itu, ada dua kendaraan dinas yang bisa ia gunakan, yakni Alphard keluaran tahun 2022 serta mobil listrik Hyundai Ioniq 5.

Harganya tidak begitu fantastis jika dibandingkan kendaraan dinas milik pejabat daerah lainnya, sekira Rp700 juta

Randis tersebut sebelumnya telah digunakan Danny Pomanto saat menjabat Wali Kota Makassar. 

Baca juga: Perda Pelestarian Cagar Budaya Kota Makassar Disahkan, Munafri: Tak Sekadar Jaga Warisan Sejarah!

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengadaan mobil dinas baru menjadi tidak mendesak untuk dilakukan.

“Ya, apa kita harus mengadakan kendaraan baru? Saya pikir ini kan tahunnya (pengadaan) masih relatif muda,” lanjut Munafri.

Atas dasar itu, Munafri memilih untuk memanfaatkan kendaraan yang sudah tersedia tanpa menambah beban anggaran daerah.

“Makanya saya bilang, ya sudah, kita tidak usah belanja mobil, mobil operasional baru tidak usah, saya pakai apa saja yang ada,’” tegasnya.

Ia pun akhirnya memutuskan menggunakan kendaraan listrik yang sudah dimiliki pemerintah kota sebagai mobil dinas sehari-hari.

“Jadi akhirnya saya putuskan untuk naik mobil Ioniq yang ada, yang mobil listrik itu,” ungkapnya.

Penggunaan mobil listrik tersebut dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan biaya bahan bakar seperti kendaraan konvensional.

Terkait operasional kendaraan, Munafri memastikan tidak ada kendala berarti selama digunakan.

Ia hanya menyebut pernah mengalami kendala kecil, namun dapat segera diatasi karena dukungan layanan yang tersedia.

“Ya, pernah ada satu kali tapi sudah gampang lagi. Apa maksudnya kan di sini juga ada bengkelnya, ada dealernya,” ujarnya.
.
Munafri bahkan menggambarkan kenyamanan mobil listrik yang digunakannya dalam aktivitas sehari-hari.

“Tapi so far sih enak-enak saja dipakai, kayak naik bom-bom car lah di dalam kota,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, ia kembali menegaskan bahwa tidak akan ada pengadaan mobil dinas baru tahun ini.

Keputusan ini sekaligus menjadi bentuk efisiensi anggaran. 

Apalagi, di tengah tekanan penghematan anggaran dari pemerintah pusat, anggaran lebih baik dialihkan ke program-program yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat.

Mulai dari penguatan sektor pendidikan lewat penyediaan seragam sekolah, percepatan perbaikan infrastruktur jalan hingga ke lorong-lorong permukiman. 

Kemudian, dialihkan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui subsidi iuran sampah gratis, hingga pemenuhan kebutuhan dasar warga di wilayah kepulauan. (*)