Makassar Mulia

80,1 Persen Warga Makassar Puas 1 Tahun Kepemimpinan Munafri-Aliyah

Munafri Arifuddin via WhatsApp
PEMKOT MAKASSAR - Munafri-Aliyah saat usai dilantik Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. Sebanak 80,1 persen warga Makassar puas kinerja 1 tahun kepemimpinan Munafri-Aliyah. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR –Sebanyak 80,1 persen warga Kota Makassar mengaku puas atas kinerja 1 tahun pemerintahan Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota.

Angka kepuasan 80.1 persen ini didapatkan berdasarkan hasil survei yang dirilis Parameter Publik Indonesia (PPI).

PPI memotret tingkat kepuasan dan persepsi keberhasilan terhadap kepemimpinan serta program prioritas Makassar dibawah kepemimpinan Munafri-Aliyah. 

Secara keseluruhan, 80,1 persen warga puas atas kinerja pasangan bertagline Mulia tersebut. 

Dalam survei yang dipaparkan Direktur PPI Ras MD, Munafri-Aliyah juga dinilai  berhasil memimpin Kota Makassar.

Keberhasilan Munafri-Aliyah memimpin Makassar mencapai 76,5 persen. 

Menurutnya, angka ini sekaligus menunjukkan approval rating yang tinggi, karena berada jauh di atas ambang 70 persen.

Baik dari sisi persepsi keberhasilan maupun kepuasan publik.

Baca juga: Gen Z, Milenial, Gen X dan Baby Boomers Puas Kepemimpinan Munafri-Aliyah

PPI menilai, capaian tersebut sebagai modal politik dan sosial yang kuat bagi kepemimpinan Munafri-Aliyah ke depan. 

Survei ini juga mengulas secara mendalam tujuh program prioritas Munafri-Aliyah.

BERSIH - BERSIH -  Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat menghadiri launching dam sosialisasi Musabaqah Tilawatil Quran VIII di Hotel The Rinra Jl Metro Tanjung Bunga, Sabtu (14/2/2026) malam. Appi menggalakkan aksi bersih-bersih.
BERSIH - BERSIH -  Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat menghadiri launching dam sosialisasi Musabaqah Tilawatil Quran VIII di Hotel The Rinra Jl Metro Tanjung Bunga, Sabtu (14/2/2026) malam. Appi menggalakkan aksi bersih-bersih. (Tribun-timur.com/ist)

Mulai dari sisi tingkat pengetahuan publik (awareness) maupun kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaannya di lapangan.

Pada program seragam sekolah gratis, survei mencatat tingkat pengetahuan publik berada di kisaran 60 persen.

Artinya, dari setiap 10 warga Makassar, baru sekitar enam orang yang mengetahui secara langsung adanya program tersebut. 

Meski demikian, respon masyarakat yang mengetahui program ini tergolong sangat positif. 

"Sebanyak 89,5 persen responden menyatakan puas terhadap program seragam sekolah gratis, mendekati angka 90 persen, sehingga menjadi salah satu program dengan tingkat kepuasan tertinggi," papar Ras dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Mercure Nexa Pettarani, Jl Ap Pettarani, Kamis (19/2/2026). 

Berbeda dengan itu, program iuran sampah gratis justru memiliki tingkat awareness yang sangat tinggi. 

Survei menunjukkan lebih dari 80 persen warga Makassar mengetahui program tersebut, bahkan mendekati seluruh responden. 

Namun, tingkat kepuasan publik tercatat 62,2 persen.

Angka ini masih tergolong mayoritas, tetapi dinilai belum ideal. 

PPI mencatat perlunya perbaikan teknis dan tata kelola agar program iuran sampah gratis dapat melahirkan respons yang lebih positif dari masyarakat.

Sementara itu, program sambungan PDAM gratis menghadapi tantangan besar dari sisi sosialisasi. 

Hanya 34,8 persen responden yang mengaku mengetahui adanya program tersebut. 

"Rendahnya tingkat pengetahuan publik ini berbanding lurus dengan tingkat kepuasan yang juga belum maksimal, yakni 57,9 persen," jelas Ras lagi. 

Meski mayoritas warga yang mengetahui program ini menyambutnya secara positif, survei mencatat adanya sejumlah catatan teknis yang perlu dibenahi oleh pelaksana program.

Survei juga menyoroti rencana pembangunan stadion baru, stadion Internasional yang akan dibangun di Untia, Kecamatan Biringkanaya. 

Meskipun belum terealisasi, namun sebanyak 54 persen responden menyatakan mengetahui rencana pembangunan stadion baru tersebut.

Dari sisi lokasi, 73,1 persen publik mengetahui bahwa stadion tersebut direncanakan akan dibangun di kawasan Untia. 

Lebih jauh, survei menemukan 59,3 persen responden menyatakan yakin bahwa stadion baru tersebut akan benar-benar terealisasi.

"Itu menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang cukup kuat terhadap komitmen pemerintah kota," jelasnya. 

PERINGATAN HARI IBU - Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham membuka PHI ke-97 Tingkat Kota Makassar Tahun 2025 di Hotel Claro Makassar, Jalan AP. Pettarani No. 3, Makassar, Sulsel, Selasa (16/12/2025). Aliyah mengatakan perempuan Indonesia telah menjadi pilar penting dalam membangun ketangguhan keluarga, menjaga nilai-nilai sosial budaya.
PERINGATAN HARI IBU - Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham membuka PHI ke-97 Tingkat Kota Makassar Tahun 2025 di Hotel Claro Makassar, Jalan AP. Pettarani No. 3, Makassar, Sulsel, Selasa (16/12/2025). Aliyah mengatakan perempuan Indonesia telah menjadi pilar penting dalam membangun ketangguhan keluarga, menjaga nilai-nilai sosial budaya. (Dinas Kominfo Makassar)

Selanjutnya, untuk program Makassar Mulia Berjasa, tingkat pengetahuan publik tercatat paling rendah dibandingkan program prioritas lainnya. 

Hanya 12,1 persen responden yang mengetahui adanya program ini. 

Meski demikian, program ini justru mendapat apresiasi sangat tinggi. 

Seluruh responden yang mengetahui program Makassar Mulia Berjasa menyatakan puas, sehingga tingkat kepuasannya mencapai 100 persen. 

Kondisi ini menjadi catatan penting bahwa program dengan penerimaan sangat baik justru masih minim sosialisasi.

Adapun aplikasi Lontara Plus, yang kerap digaungkan sebagai bagian dari transformasi layanan publik digital, juga menghadapi persoalan serupa. 

Survei menunjukkan hanya sekitar 22 persen masyarakat yang mengetahui aplikasi tersebut. 

Sebagian responden menyatakan pernah mendengar tetapi belum memahami fungsinya.

Sementara hampir separuh responden mengaku sama sekali belum mengetahui keberadaan aplikasi Lontara Plus.

Terakhir, program Makassar Creative Hub. Berdasarkan hasil survei, hanya 9,3 persen responden yang menyatakan mengetahui program Makassar Creative Hub.

Sementara itu, 36,0 persen responden mengaku kurang mengetahui, dan mayoritas publik, yakni 54,7 persen, menyatakan tidak mengetahui sama sekali adanya program tersebut.

Rendahnya tingkat awareness ini menjadi catatan penting bagi Pemerintah Kota Makassar.

Mengingat Makassar Creative Hub digagas sebagai ruang pengembangan potensi pelaku ekonomi kreatif lokal serta wadah pembinaan usaha berbasis kreativitas di wilayah kecamatan.

Meski demikian, survei juga menunjukkan tingkat penerimaan publik yang sangat tinggi terhadap program ini. 

Dari sisi persetujuan, sebanyak 89,3 persen responden menyatakan setuju dengan pelaksanaan Program Makassar Creative Hub. 

Hanya 1,8 persen responden yang menyatakan tidak setuju, sementara 8,9 persen lainnya memilih tidak tahu atau tidak menjawab.

Tingginya tingkat persetujuan tersebut mencerminkan bahwa konsep dan tujuan program Makassar Creative Hub sejalan dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.

Khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif serta membuka ruang partisipasi bagi pelaku usaha lokal.

Dari sisi kepuasan, survei mencatat sebanyak 78,6 persen publik menyatakan puas terhadap pelaksanaan Program Makassar Creative Hub. 

Angka ini menunjukkan mayoritas masyarakat yang mengetahui dan merasakan program tersebut menilai implementasinya berjalan positif, meskipun masih terdapat ruang untuk penyempurnaan.

PPI menilai kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kualitas program dan jangkauan informasi kepada masyarakat. 

Program dengan tingkat persetujuan dan kepuasan yang tinggi justru belum dikenal secara luas oleh publik.

"Secara keseluruhan, hasil survei Parameter Publik Indonesia menunjukkan bahwa kepemimpinan Munafri-Aliyah mendapat legitimasi dan tingkat kepercayaan publik yang tinggi pada tahun pertama pemerintahan," ujar Ras. 

Namun demikian, survei ini juga menegaskan pentingnya penguatan sosialisasi, komunikasi publik.

Serta penyempurnaan teknis pelaksanaan program prioritas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Kota Makassar. (*)