Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Wali Kota Makassar Minta Setiap RT/RW Bentuk BSU

Pada kesempatan itu, Munafri menegaskan, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. 

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
KINERJA RT - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyoroti masih adanya ketua RT dan RW yang dinilai belum aktif menjalankan peran di lingkungan masing-masing. Hal itu disampaikan Munafri saat menghadiri kegiatan Urban Farming di Perumahan Berlian Permai, Jl. Tamangapa Raya 5, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri RT/RW setempat, lurah, Camat Manggala, serta sejumlah pejabat Pemerintah Kota Makassar. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meminta seluruh ketua RT di Kota Makassar membentuk Bank Sampah Unit (BSU).

Program itu disebut sebagai upaya memperkuat pengelolaan sampah dari tingkat lingkungan.

Arahan tersebut disampaikan Munafri saat berkunjung ke Urban Farming di Perumahan Berlian Permai, Jl Tamangapa Raya V, Kecamatan Manggala, Selasa (9/5/2026).

Agenda tersebut dihadiri RT/RW setempat .

Pada kesempatan itu, Munafri menegaskan, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. 

Keterlibatan masyarakat mulai dari tingkat RT menjadi kunci untuk mengurangi volume sampah yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Munafri menjelaskan, saat ini kapasitas lahan pembuangan sampah semakin terbatas. 

Karena itu, pengurangan sampah dari sumber harus menjadi gerakan bersama di seluruh wilayah Kota Makassar.

Ia mengatakan salah satu langkah paling sederhana yang dapat dilakukan adalah memilah sampah sejak dari rumah tangga melalui pembentukan BSU di setiap RT.

“Tadi Pak Camat sudah menyampaikan bahwa semua RT diharapkan bisa membuat BSU, Bank Sampah Unit, untuk memastikan proses pemilahan,” kata Munafri.

Menurutnya, pemilahan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan warga.

Munafri menilai masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa sampah tertentu, khususnya plastik, memiliki harga jual yang cukup tinggi jika dikumpulkan dan dikelola dengan baik.

Karena itu, ia meminta para ketua RT mulai mengorganisasi warganya untuk melakukan pemilahan sampah secara rutin.

“Plastik hari ini harganya luar biasa, lagi tinggi-tingginya. Jadi tolong diperhatikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan pengelolaan bank sampah tidak memerlukan fasilitas yang mahal ataupun teknologi yang rumit.

Warga cukup menyediakan tempat penampungan sederhana untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah sebelum dijual.

Menurut Munafri, hasil penjualan sampah dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung berbagai kegiatan sosial maupun pembangunan lingkungan di tingkat RT.

Selain mendorong pembentukan BSU, Pemkot Makassar juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan-lahan kosong menjadi kawasan produktif.

Di lokasi kegiatan, Munafri melihat contoh pengelolaan lingkungan yang memadukan budidaya ikan, tanaman sayur, tanaman buah, serta pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Ia menilai konsep tersebut dapat menjadi model bagi lingkungan lain di Kota Makassar.

“Saya lihat sudah mulai masuk ke dalam sebuah ekosistem untuk mengelola lahan-lahan yang nganggur untuk dijadikan urban farming,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan suatu wilayah tidak hanya diukur dari kebersihannya, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Munafri mengapresiasi pengembang dan warga yang telah menyediakan lahan untuk kegiatan produktif masyarakat.

Ia berharap pola kolaborasi serupa dapat diterapkan di berbagai kawasan permukiman lainnya.

Dalam kesempatan itu, Munafri juga kembali memperkenalkan konsep teba sebagai metode pengelolaan sampah organik rumah tangga.

Melalui sistem tersebut, sisa makanan, sayuran, buah-buahan maupun limbah dapur lainnya dikumpulkan dalam satu tempat khusus dan diolah secara alami.

Hasil pengolahan tersebut nantinya akan berubah menjadi kompos yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian maupun penghijauan lingkungan.

Menurut Munafri, penerapan teba dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi bagi warga.

Ia menilai konsep tersebut sangat cocok diterapkan di lingkungan permukiman karena sederhana dan mudah dilakukan.

“Kalau sudah ditutup dan dikelola dengan baik, kira-kira lima sampai enam bulan ini panen. Pada saat dia panen, dia akan menjadi pupuk yang sangat bagus,” jelasnya.

Untuk mempercepat perubahan perilaku masyarakat, Pemkot Makassar juga menyiapkan program lomba antar RT yang akan diumumkan pada peringatan Hari Ulang Tahun Kota Makassar.

Lomba tersebut akan menilai berbagai aspek, mulai dari pengelolaan sampah, pemanfaatan lahan, pemberdayaan masyarakat hingga inovasi lingkungan.

Munafri memastikan hadiah yang disiapkan cukup besar sebagai bentuk apresiasi terhadap RT yang berhasil menciptakan perubahan positif di lingkungannya.

“Saya pastikan RT yang terbaik tidak akan kurang dari Rp100 juta hadiahnya,” tegasnya.

Namun demikian, ia menegaskan hadiah tersebut bukan untuk kepentingan pribadi ketua RT, melainkan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas dan kebutuhan warga setempat.

Menurut Munafri, tujuan utama lomba tersebut adalah mendorong munculnya inovasi dan semangat gotong royong di tengah masyarakat. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved