Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Wali Kota Makassar Minta Setiap RT/RW Bentuk BSU

Pada kesempatan itu, Munafri menegaskan, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. 

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Makmur
KINERJA RT - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyoroti masih adanya ketua RT dan RW yang dinilai belum aktif menjalankan peran di lingkungan masing-masing. Hal itu disampaikan Munafri saat menghadiri kegiatan Urban Farming di Perumahan Berlian Permai, Jl. Tamangapa Raya 5, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri RT/RW setempat, lurah, Camat Manggala, serta sejumlah pejabat Pemerintah Kota Makassar. 

Warga cukup menyediakan tempat penampungan sederhana untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah sebelum dijual.

Menurut Munafri, hasil penjualan sampah dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung berbagai kegiatan sosial maupun pembangunan lingkungan di tingkat RT.

Selain mendorong pembentukan BSU, Pemkot Makassar juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan-lahan kosong menjadi kawasan produktif.

Di lokasi kegiatan, Munafri melihat contoh pengelolaan lingkungan yang memadukan budidaya ikan, tanaman sayur, tanaman buah, serta pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Ia menilai konsep tersebut dapat menjadi model bagi lingkungan lain di Kota Makassar.

“Saya lihat sudah mulai masuk ke dalam sebuah ekosistem untuk mengelola lahan-lahan yang nganggur untuk dijadikan urban farming,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan suatu wilayah tidak hanya diukur dari kebersihannya, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Munafri mengapresiasi pengembang dan warga yang telah menyediakan lahan untuk kegiatan produktif masyarakat.

Ia berharap pola kolaborasi serupa dapat diterapkan di berbagai kawasan permukiman lainnya.

Dalam kesempatan itu, Munafri juga kembali memperkenalkan konsep teba sebagai metode pengelolaan sampah organik rumah tangga.

Melalui sistem tersebut, sisa makanan, sayuran, buah-buahan maupun limbah dapur lainnya dikumpulkan dalam satu tempat khusus dan diolah secara alami.

Hasil pengolahan tersebut nantinya akan berubah menjadi kompos yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian maupun penghijauan lingkungan.

Menurut Munafri, penerapan teba dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi bagi warga.

Ia menilai konsep tersebut sangat cocok diterapkan di lingkungan permukiman karena sederhana dan mudah dilakukan.

“Kalau sudah ditutup dan dikelola dengan baik, kira-kira lima sampai enam bulan ini panen. Pada saat dia panen, dia akan menjadi pupuk yang sangat bagus,” jelasnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved