TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar melalui Bidang Drainase melakukan pengerukan drainase di Kelurahan Rappojawa, Kecamatan Tallo, Selasa (31/3/2026).
Pengerukan tersebut merupakan respons atas laporan RT/RW yang disampaikan melalui aplikasi Lontara, sistem pengaduan resmi Pemerintah Kota Makassar.
Kegiatan ini menyasar drainase sepanjang kurang lebih 50 meter di Jalan Muhammad Jufri Lorong 6, yang mengalami pendangkalan cukup parah.
Proses pengerukan telah dimulai sejak Senin dan dijadwalkan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Ketua RW 005, Junaedy, menjelaskan bahwa pengerukan ini berawal dari laporan warga yang resah dengan kondisi drainase.
Ia kemudian menginstruksikan ketua RT setempat memasukkan laporan pada awal Januari 2026, tidak lama setelah dirinya dilantik sebagai Ketua RW.
Menurutnya, penyumbatan drainase disebabkan menumpuknya material pasir dan tanah dari pekerjaan drainase sisi seberang.
“Awalnya itu pekerjaan drainase di sebelahnya, tapi materialnya justru menumpuk di saluran yang lain. Itu yang jadi keluhan warga,” ujar Junaedy.
Ia menuturkan, setelah laporan masuk, pihak kelurahan bersama tim drainase kecamatan sempat meninjau lokasi.
Namun, volume material yang terlalu besar membuat penanganan tidak dapat dilakukan di tingkat kecamatan.
“Karena volumenya besar, akhirnya disarankan untuk diteruskan ke Dinas PU melalui surat resmi,” jelasnya.
Pada Maret 2026, tim dari Dinas PU telah dua kali melakukan peninjauan lapangan sebelum akhirnya menindaklanjuti pengerukan usai Lebaran.
Junaedy mengungkapkan, kondisi drainase yang tersumbat sempat menyebabkan banjir saat hujan deras beberapa waktu lalu.
“Air tidak punya jalur untuk mengalir, jadi sering meluap. Apalagi ditambah material pasir dan kerikil yang menutup saluran,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, pengerukan dilakukan secara manual oleh sekitar enam orang pekerja dengan pengawasan petugas lapangan.
Material hasil pengerukan dimasukkan ke dalam karung setelah sebelumnya aliran air dibendung sementara.
“Bagian depan yang paling parah, kedalamannya hampir satu meter. Itu yang dikeruk intensif,” tambah Junaedy.
Ia berharap pengerukan ini dapat mengatasi persoalan banjir dan memperlancar aliran air di wilayahnya.
Junaedy juga mengapresiasi tindak lanjut cepat dari pemerintah kota melalui aplikasi Lontara yang dinilai efektif menyalurkan aspirasi warga.
(*)