Pelaut Sulsel Hilang di Selat Hormuz
Keluarga Pelaut Sulsel Tunggu Kabar dari Selat Hormuz
Namun ketika kabar yang datang tentang insiden di tengah perairan, rasa cemas menjadi jauh lebih berat.
Agus meminta semua pihak menunggu keterangan resmi dari keluarga, perusahaan, maupun otoritas yang berwenang.
“Kami mengimbau agar masyarakat menunggu informasi resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” terangnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan doa bagi Kapten Miswar dan keluarganya.
“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral dan doa bagi keselamatan serta ketabahan keluarga Kapten Miswar,” ujar Agus.
Kebiasaan Miswar
Marliani mengungkapkan, suaminya hampir selalu menyempatkan diri menghubungi keluarga melalui panggilan video (video call), meski sedang bertugas di perairan internasional.
Kebiasaan ini dilakukan hampir setiap hari pada pagi, sore, hingga menjelang tidur sekitar pukul 21.00 Wita.
“Bapak itu tidak suka telepon biasa, dia lebih suka video call. Biasanya memperlihatkan aktivitasnya, suasana laut, ruang kerja di kapal, atau sekadar memperlihatkan dirinya yang sedang beristirahat,” jelas Marliani.
Bagi keluarga, momen tersebut adalah waktu yang paling dinantikan.
Bahkan saat Marliani sedang sibuk mengelola toko bangunan milik keluarga, ia tetap menyempatkan diri menjawab panggilan suaminya tersebut.
“Kadang saya lagi kerja sambil jaga kasir di toko bangunan, tapi tetap video call. Kebiasaan sederhana itu menjadi penghubung yang membuat keluarga kami tetap terasa dekat,” katanya.
Investigasi Berjalan
Sejak awal kejadian, KBRI Abu Dhabi berkoordinasi dengan otoritas di UEA dan pihak perusahaan.
KBRI Abu Dhabi juga berkoordinasi dengan KBRI Muscat karena lokasi kejadian berada di perairan Oman.
Ia belum dapat memastikan kapan hasil penyelidikan oleh otoritas setempat akan rampung. Pasalnya, Yudha menyebut situasi di Selat Hormuz sangat berbahaya.
“Mereka (otoritas) belum bisa memastikan, karena memang kita pahami situasi di Selat Hormuz saat ini cukup berbahaya seperti itu, dan kita terus pantau dan monitor proses penyelidikan,” kata Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Yudha Nugraha.
Saat ditanya apakah meledaknya Kapal Musaffah 2 ada keterkaitannya dengan kondisi penutupan Selat Hormuz akibat meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, Yudha menyebut terlalu prematur jika berasumsi seperti itu.
“Kejadian itu terjadi pada malam hari, pada pukul 02.00 dini hari, jadi saksi mata pun tidak bisa memastikan apa penyebab ledakan tersebut terjadi. Kita tunggu hasil penyelidikan,” jelas dia.
Namun, Yudha mengatakan bahwa segala kemungkinan bisa terjadi, termasuk akibat perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Yudha menyampaikan bahwa KBRI telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada WNI di UEA sejak meningkatnya eskalasi keamanan di kawasan Teluk.
Ia menjelaskan, setelah serangan Iran ke UEA pada 28 Februari lalu, KBRI menetapkan status Siaga 3 bagi seluruh WNI di negara tersebut, termasuk awak kapal yang bekerja di wilayah perairan sekitar Selat Hormuz.
“Tentu kita harapkan mereka bisa meningkatkan kewaspadaan, ya, dan kemudian melakukan langkah-langkah perlindungan lebih awal, seperti itu,” jelas dia.
KBRI juga meminta WNI segera menghubungi KBRI Abu Dhabi atau KJRI Dubai apabila menghadapi situasi darurat.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya lapor diri bagi WNI yang tinggal di UEA. (uki/kompas.com)
| Nasib 2 Kru Luwu Belum Jelas, DPRD Sulsel Minta Keluarga Desak Tanggung Jawab Perusahaan |
|
|---|
| Chief Engineer Asal Luwu Masih Hilang |
|
|---|
| Keberadaan Kru Kapal Musaffah 2 Masih Nihil Usai Alami Insiden Ledakan, Pencarian Masuki Hari Keenam |
|
|---|
| Anak Capt Miswar Tenangkan Ibunya Usai Insiden Kapal Musaffah 2, Minta Tak Percaya Info di Medsos |
|
|---|
| Corps Alumni Bumi Seram Makassar: Prihatin, Capt Miswar Paturusi Nakhoda Musaffah 2 Alumni Kami |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/KAPTEN-MISWAR-Marliani-Ahmad-47-AF.jpg)