Pemuda Makassar Tertembak
Profil Kombes Arya Perdana Bela Iptu N dalam Kasus Penembakan Remaja Makassar
Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan, pistol Iptu N tidak sengaja meletus saat berusaha menangkap Bertrand
Ringkasan Berita:
- Kombes Pol Arya Perdana pasang badan membela Iptu N dalam kasus penembakan remaja Bertrand Eka Prasetyo (18)
- Menurutnya pistol Iptu N tidak sengaja meletus saat berusaha menangkap Bertrand
- Bertrand meninggal dunia usai tertembak senjata yang digenggam perwira polisi berinisial N saat membubarkan aksi tembak-tembakan pemuda di badan jalan, Minggu (1/3/2026)
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana pasang badan membela Iptu N dalam kasus penembakan remaja Bertrand Eka Prasetyo (18).
Lulusan Akpol 1998 itu mengungkapkan, pistol Iptu N tidak sengaja meletus saat berusaha menangkap Bertrand.
Hal itu disampaikan Kombes Pol Arya Perdana saat ditanya wartawan soal kronologi kejadian tersebut.
"Betran berusaha untuk melarikan diri, berusaha meronta dan ketika meronta pistol yang masih dipegang oleh IPTU N itu meletus dengan tidak sengaja terkena bagian tubuh belakang," kata Kombes Pol Arya Perdana kepada wartawan di kantornya, Jl Ahmad Yani, Makassar, Selasa (3/3/2026) malam.
Bertrand meninggal dunia usai tertembak senjata yang digenggam perwira polisi berinisial N saat membubarkan aksi tembak-tembakan pemuda di badan jalan, Minggu (1/3/2026).
"Jadi kejadiannya adalah pukul 7 pagi, di mana ada laporan dari salah satu kapolsek kami yaitu Kapolsek Rappocini di HT yang melaporkan bahwa ada anak-anak muda yang sedang bermain senapan omega," kata Arya.
Aksi tembak-tembakan yang belakangan viral itu, dianggap meresahkan warga karena berlangsung di badan jalan.
Iptu N yang mendapat laporan itu, kata Arya, pun mendatangi lokasi seorang diri mengendarai mobil
"Ketika datang ke TKP bertepatan dengan seorang anak muda atas nama Betran pada waktu itu sedang melakukan tindakan yang cukup keras kepada salah seorang pengendara motor," terang Arya.
"Sehingga begitu IPTU N turun dari mobil langsung melakukan penangkapan, pegang pelaku sambil mengeluarkan tembakan peringatan," lanjutnya.
Setelah melepaskan tembakan ke udara, Iptu N pun mengamankan B, sementara pemuda lainnya kabur.
Atas kejadian itu, Iptu N pun membawa Bertrand ke Rumah Sakit Grestelina untuk mendapat pertolongan medis.
"Dibawa ke Rumah Sakit Grestelina pada waktu itu dilakukan tindakan awal, namun karena memang tidak cukup alat yang digunakan sehingga kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara," katanya.
Namun nahas saat tiba di RS Bhayangkara, kata Arya, Bertrand sudah dinyatakan meninggal dunia.
Jenazah Bertrand pun diotopsi malam itu dan Iptu N kata Arya langsung diamankan beserta senjata yang digunakan.
"Langsung juga Kasat Reskrim, Kabid Propam, Kasi Propam pada waktu itu melakukan olah TKP di tempat," jelasnya.
Meski hasil autopsi korban belum keluar kata Arya, kesimpulan sementara dalam kasus itu, Bertrand meninggal dunia akibat tertembak senjata api.
"Tentu nanti hasil autopsi akan disampaikan oleh dokter karena kami tidak berwenang bukan ahlinya. Tetapi yang kami ketahui adalah bahwa korban memang meninggal karena letusan senjata yang tidak terprediksi oleh IPTU N ke tubuh korban," tuturnya.
Pada kesempatan itu, Arya juga berjanji tidak akan menutup-nutupi perkara tersebut.
Ia juga mengimbau seluruh masyarakat khususnya keluarga korban agar mempercayakan penanganan kasus itu ke polisi.
"Dan kami minta kepada seluruh masyarakat dengan keluarga korban juga untuk mempercayakan semua tindakan yang akan kami lakukan kepada pihak-pihak yang memang harus dilakukan pemeriksaan kepada IPTU N," imbuhnya.
Keterangan saksi DN
Seorang saksi berinisial DN (21) membeberkan kronologi kejadian yang berujung pada insiden meininggalnya Bertrand.
Bertrand Eka Prasetyo meninggal diduga ditembak polisi yang bertugas di Polsek Panakkukang, Makassar.
DN mengaku berada di lokasi saat peristiwa berlangsung dan sempat menyaksikan beberapa rangkaian kejadian.
DN mengatakan, kejadian tersebut bwelangsung pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WITA di depan Cafe Ur Mine (UM), Jl Toddopuli Raya, Minggu (1/3/026) lalu.
Saat kejadian terdapat rombongan terlihat melintas dari kawasan Toddopuli 4 sebelum berpindah ke Toddopuli 2
“Kejadiannya itu, dia pertama, dia mengarah itu lawan, dia pertama dia dari Toddopuli 4. Toddopuli 4 terus dia pergi lagi, pergi, terus dia keluar lagi di Toddopuli 2," katanya saat ditemui di rumah duka, Jl Toddopuli 1, Selasa (3/3/2026).
"Sudah masuk Toddopuli 2, kan Toddopuli 2 bisa tembus ke Hertasning. Terus dia masuk lewat situ, terus dia masuk eh keluar lewat Hertasning, masuk ke Toddopuli,” tambahnya.
Setelah masuk ke daerah Toddopuli Raya, insiden tabrakan terjadi di sekitar lokasi tersebut.
Namun ia menegaskan, tabrakan itu terjadi sesama pihak yang disebutnya sebagai kelompok penyerang.
“Eh di situ mulai kejadian situ tabrakan, tabrakan sesama yang menyerang. Iya (tabrakan) tapi sesamanya ji yang menyerang. Terus anak-anak tembaki dia, tembak mainan,” ungkapnya.
DN menjelaskan, dimana dirinya mendengar suara dari pihak lawan yang sedang mengokang sejata.
“Pas tidak lama itu, katanya ini lawan, katanya makkokang (mengokang senjata). Terus kata ini korban, dia bilang ‘saya dikena, dipukul’ sama itu yang lawan. Sudah itu, langsung korban ini langsung mi dia juga pukul dia, pukul lawan. Iya berkelahi dia,” jelasnya.
Tak lama setelah perkelahian berlangsung, polisi disebut datang dari arah Hertasning menggunakan mobil biasa.
“Tidak lama itu, ada datang polisi dari Hertasning. Pakai mobil biasa. Terus tidak lama itu, dia turun, angkat senjata tembak mi satu kali, terus saya lari masuk,” ungkapnya.
Ia mengaku langsung menyelamatkan diri saat mendengar letusan tersebut.
Dari dalam tempat ia berlindung, DN melihat korban sudah diangkat.
“Pas saya di dalam, melihat ke luar, ini korban sudah diangkat. Eh, saya juga tidak tahu (terkapar atau tidak) itu karena saya di dalam. Kan saya jauh, jadi saya tidak bisa lihat itu darah. Tapi keterangan yang lain dia bilang ada darah,” kata dia.
Profil Arya Perdana
Sebelum di Makassar, Arya menjabat Kapolres Metro Depok, Polda Metro Jaya.
Karier Kombes Pol Arya Perdana cukup mentereng.
Ia pernah menjabat Sekretaris Pribadi (Sespri) Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) .
Saat di Depok, perwira menengah lulusan Akpol 1998 itu menggantikan Kombes Ahmad Fuady yang diangkat menjadi Analis Kebijakan Madya Bidang Pidter Bareskrim Polri.
Rangkaian acara pisah sambut Kapolres Metro Depok dihadiri Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Suyudi Ario Seto.
Keberadaan Kombes Arya di Polres Metro Depok sudah tak asing lagi, maklum dia pernah menjadi Wakapolrestro Depok tahun 2019.
Awal karier pria kelahiran 8 Maret 1976 itu menjadi Pamapta B Polres Metro Jakarta Pusat.
Polisi yang berpengalaman di bidang reserse ini kemudian mendapat tugas sebagai Kanit Serse Polsek Metro Sawah Besar.
Dia juga pernah terlibat dalam Satgas People Smuggling di Australia sebagai penyidik.
Setelah itu, Arya pernah menjabat Kasubdit III Ditreskrimsus Polda Sulut.
Arya pun mendapat promosi sebagai Kapolres Minahasa Selatan (2016). Setelah itu, dia menjabat Wakapolresta Manado (2018) dan Penyidik Tindak Pidana Madya Tk III Bareskrim Polri (2019).
Setahun kemudian pada 2020, Arya mendapat kepercayaan sebagai Sespri SBY.
Lalu, menjabat Analis Kebijakan Madya Bidang Pidum Bareskrim Polri 2021.
Depok aman selama Arya menjabat
Selama menjabat di Depok, kondisi wilayah kekuasaannya aman.
Ia aktif turun langsung memantau kondisi keamanan.
Terbukti saat perayaan Natal, Depok aman.
Polres Metro Depok menerjunkan 570 personel di 157 titik gereja yang tersebar di seluruh wilayah Kota Depok.
Ratusan personel itu terdiri dari TNI, Polri, dan Satpol PP.
“Dengan pengamanan jumlah personel sekitar 570 orang, ada 157 gereja yang kita amankan di malam Natal ini,” ucap Kapolres Metro Depok Kombes (Pol) Arya Perdana kepada wartawan di Gereja Katolik Paroki Santo Thomas. Selasa (24/12/2024).
Di tiap masing-masing gereja, akan ada sekitar 5-10 personel gabungan yang berjaga, saat misa malam Natal hingga besok, Rabu (25/12/2024).
“Dari TNI, Polri, Satpol-PP, ada semua. Dan terutama untuk jalur-jalur yang macet, itu semua ada pengamanannya,” ungkap Arya.
Demi memastikan keamanan dan kondusifitas perayaan natal, polisi juga menyediakan satu pos pengamanan dan tujuh pos pelayanan.
“Pos pengamanan ini untuk antisipasi situasi yang rawan, itu ada satu. Dan pos pelayanannya ada tujuh yang terletak di masing-masing wilayah kecamatan,” terang Arya.
Dengan adanya pengamanan ini diharapkan bisa memberikan rasa aman bagi jemaat saat merayakan Natal.
"Semoga masyarakat bisa merasa aman, bisa beribadah dengan tenang, dan menunjukkan sinergitas serta toleransi beragama dari kita semua, baik yang muslim, yang non-muslim,“ lanjutnya.
Pengurus Gereja Katolik Santo Thomas, Adapun Adrianus Meilala menugatakan, agenda misa Natak akan dilangsungkan dua kali hingga tengah malam nanti.
“Kami ada dua ibadah, malam ini dan jam 21.30 WIB dan besok pagi pukul 06.00 WIB dan pukul 09.00 WIB,” tutur Adrianus.
Diperkirakan ada sekitar 8.000 jemaat yang hadir dari empat misa yang digelar hingga Rabu (25/12/2024). (*)
| Ternyata Iptu N Larikan Bertrand Eka Prasetyo ke Rumah Sakit Usai Tertembak |
|
|---|
| Kombes Arya Perdana Bela Iptu N, Sebut Pistol Tak Sengaja Meletus ke Bertrand Eka |
|
|---|
| Detik-detik Bertrand Eka Prasetyo Kena Tembakan Polisi di Mata Saksi |
|
|---|
| Terungkap Sosok Polisi Penembak Remaja Bertrand Eka Prasetyo di Makassar |
|
|---|
| Kapolrestabes Makassar Jelaskan Kronologi Bertrand Tertembak Pistol Polisi di Jl Toddopuli |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260304-Kombes-Pol-Arya-Perdana-pimpin-jumpa-pers.jpg)