Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cuaca Mulai Normal, Banjir di Manggala Masih Bertahan

Cuaca Makassar mulai normal, namun banjir di Kecamatan Manggala masih setinggi 1 meter.

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Kiki Content Writer
BPBD Makassar
EVAKUASI WARGA - Personel BPBD Makassar saat mengevakuasi warga terdampak banjir, Rabu (25/2/2026). Warga masih bertahan di lokasi pengungsian hingga Kamis (26/2/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Cuaca Makassar kembali normal, tetapi banjir di Manggala masih setinggi 1 meter.
  • Sebanyak 878 jiwa dari 239 KK bertahan di 15 titik pengungsian.
  • Pemkot Makassar bakal kaji tanggul dan kolam retensi sebagai solusi jangka panjang.

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Cuaca di Kota Makassar kembali normal. 

Sejak pagi, Kamis (26/2/2026), kondisi cuaca terpantau cerah berawan tanpa hujan.

Normalnya cuaca membawa dampak positif terhadap kondisi banjir. 

Genangan air di beberapa ruas jalan utama mulai berkurang, sementara debit air di saluran drainase perlahan menurun.

Hanya saja di Kecamatan Manggala, khususnya Blok 8 dan 10 Antang kondisi banjir masih terpantau bertahan. 

Di kawasan tersebut, air belum sepenuhnya surut dan masih menggenangi permukiman warga dengan ketinggian bervariasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar M Fadli Tahar menyampaikan, ketinggian air di Kecamatan Manggala mengalami peningkatan. 

Rata-rata diatas 100 cm atau satu meter. 

"Kondisi sekarang cerah, tapi air di Manggala justru naik," ungkap Fadli kepada Tribun Timur. 

Fadli menyebutkan, air sulit surut karena wilayah tersebut berada di dataran rendah.

Serta menjadi titik tampungan air kiriman dari wilayah sekitar. 

"Tidak ada jalan keluarnya air. Bisa jadi juga karena (air) kiriman dari wilayah lain," bebernya. 

Akibatnya, aktivitas masyarakat masih terganggu, terutama pada akses jalan lingkungan dan kegiatan rumah tangga.

Masyarakat terdampak banjir juga masih bertahan di lokasi pengungsian. 

Selain faktor keamanan, keterbatasan akses dan kondisi rumah yang belum memungkinkan untuk ditempati menjadi alasan utama warga tetap bertahan di pengungsian.

Berdasarkan catatan BPBD, Selasa (25/2/2026) pukul 21.30 Wita tercatat sebanyak 878 jiwa dari 239 kepala keluarga (KK) masih bertahan di sejumlah lokasi pengungsian.

Para pengungsi tersebut tersebar di 15 titik pengungsian yang berada di empat kelurahan pada dua kecamatan di wilayah Kota Makassar.

Kecamatan Biringkanaya menjadi wilayah dengan jumlah titik pengungsian terbanyak. 

Di wilayah ini, pengungsi tersebar di sembilan lokasi, di antaranya SD Paccerakkang di Kelurahan Katimbang yang menampung 64 KK atau 236 jiwa, serta Masjid Nurul Ikhlas Kodam III di Kelurahan Paccerakkang dengan 30 KK atau 87 jiwa. 

Selain itu, sejumlah masjid dan rumah warga di Kelurahan Paccerakkang juga difungsikan sebagai tempat pengungsian sementara.

Sementara itu, Kecamatan Manggala mencatat enam titik pengungsian yang tersebar di Kelurahan Manggala dan Batua. 

Lokasi dengan jumlah pengungsi cukup besar antara lain Masjid Jabal Nur yang menampung 29 KK atau 89 jiwa serta Masjid Al Kautsar di Kelurahan Batua dengan 17 KK atau 80 jiwa. 

Selain masjid, fasilitas sosial seperti Posyandu Anyelir turut dimanfaatkan sebagai tempat berlindung bagi warga terdampak.

“Pendataan masih bersifat dinamis dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan,” kata Fadli. 

Pemkot Makassar Kaji Tanggul dan Kolam Retensi untuk Atasi Banjir Antang

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menyampaikan, selain normalisasi drainase, Pemkot Makassar juga mempertimbangkan pembangunan tanggul sebagai solusi jangka panjang. 

Rencana tersebut masih akan melalui kajian teknis dan perhitungan desain.

Munafri turut menyinggung peran Waduk Nipah-Nipah yang saat ini diperkirakan baru terisi sekitar 33 persen dari kapasitasnya. 

Untuk mengoptimalkan pengendalian banjir, pemerintah membuka opsi penambahan kolam retensi.

Termasuk kemungkinan pembebasan lahan di titik tertentu yang paling terdampak, meski masih sebatas wacana.

Dalam waktu dekat, Pemkot Makassar juga akan melakukan pembersihan massal di Blok 10 Manggala serta mengantisipasi dampak kiriman air dari wilayah hulu.

“Dengan kajian teknis yang matang dan keterlibatan para ahli, kami berharap solusi penanganan banjir di Perumnas Antang bisa dirumuskan secara tepat,” pungkas Munafri.(*) 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved