TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Camat Bontoala menyebut Urban Farming sebagai salah satu prioritas pembangunan di wilayahnya.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memaksimalkan pemanfaatan lahan terbatas di kawasan perkotaan.
Penegasan itu disampaikan Camat Bontoala, Akhmad Muhajir, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Bontoala yang digelar di Hotel Golden Tulip, Jalan Sultan Hasanuddin, Rabu (21/1/2026).
Akhmad Muhajir menyebut, pengembangan Urban Farming di Kecamatan Bontoala telah berjalan secara bertahap.
Saat ini terdapat empat titik Urban Farming yang dijadikan proyek percontohan.
Empat titik tersebut tersebar di tiga kelurahan.
Ketiga kelurahan itu yakni Layang, Parang Layang, dan Timungang Lompoa.
“Sebanyak 14 teba modern sedang kami kembangkan,” ujarnya diwawancarai Tribun-Timur.Com.
Selain pertanian perkotaan, Kecamatan Bontoala juga menjalankan pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
Program tersebut diwujudkan melalui budidaya magot di Pasar Kalimbu, Kelurahan Wajo Baru.
Budidaya maggot memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan pupuk dalam program Urban Farming.
Akhmad mendorong Urban Farming dilaksanakan hingga ke tingkat RT.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar, Aulia Arsyad, mengatakan pihaknya terus mensosialisasikan Urban Farming di setiap Musrenbang kecamatan.
Ia meminta pemerintah kelurahan serta RT dan RW aktif mengusulkan program hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan Urban Farming.
Aulia menegaskan Pemerintah Kota Makassar siap memberikan bantuan, baik sektor pertanian, perikanan, dan peternakan untuk pelaksanaan program Urban Farming.
Bantuan pertanian meliputi bibit, benih, media tanam, dan pupuk organik.
Bantuan perikanan berupa kolam bundar atau akuaponik lengkap dengan ikan nila, lele, dan udang paname.
Sementara bantuan peternakan berupa kandang ayam baterai beserta ayam, pakan, dan vitamin.
"Bantuan disalurkan melalui pengajuan bantuan oleh Kelompok Tani atau Kelompok Wanita Tani dengan minimal 20 anggota," ucapnya.
Aulia menyebut sejumlah kelompok yang telah berhasil menjalankan Urban Farming, termasuk di Kecamatan Rappocini, Kecamatan Makassar, dan Kecamatan Bontoala.
"Ada KWT Cokonuri di Rappocini, KWT Anggrek di Kecamatan Makassar, dan Bontoala ini juga ada," ucapnya.
Aulia memastikan hasil Urban Farming memiliki akses pasar dengan adanya pasar tani dua kali sebulan, gerakan pangan murah, dan produk Urban Farming juga dapat dipasarkan melalui koperasi Merah Putih.
"Pasar tani digelar pada pekan pertama di car free day Jalan Jenderal Sudirman dan pekan ketiga di kecamatan atau kantor gabungan dinas," jelasnya.