Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Relawan SPPG Dapur MBG di Luwu Meninggal, Diduga Darah Tinggi

Kapolsek Bua Ponrang, Ipda Hasbullah menerangkan, penyebab mendiang Parida meninggal dunia diduga hipertensi.

Tayang:
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
RUMAH DUKA - Kondisi rumah duka relawan SPPG Yayasan Mallomo Dalle di Desa Baluta, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Parida (50). Kapolsek Bua Ponrang, Ipda Hasbullah menerangkan, penyebab mendiang Parida meninggal dunia diduga hipertensi. (Sumber: Dok pribadi Hasbhllah) 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mallomo Dalle, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Parida (50) meregang nyawa.

Ia berpulang di Rumah Sakit Hikmah Kota Belopa, Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 02.00 Wita dini hari.

Kapolsek Bua Ponrang, Ipda Hasbullah menerangkan, penyebab mendiang Parida meninggal dunia diduga hipertensi.

"Almarhumah sudah lama mengidap penyakit hipertensi," akunya kepada Tribun-Timur.com, sekitar pukul 15.44 Wita sore.

Menurut Hasbullah, penyakit hipertensi ibu tiga orang anak itu tetiba kumat saat bekerja di dapur SPPG pada Rabu (7/1/2026).

Dari penulusuran awak Tribun-Timur.com, Parida saat itu sedang membersiapkan daging ayam untuk bekal makanan bergizi gratis (MBG).

Hasbullah mengaku, pihaknya akan melakukan pemeriksaan kepada Yayasan Mallomo Dalle.

"Akan dilakukan penyelidikan terkait kejadian ini, dan tetap kami kordinasi Polres," ungkapnya.

Hasbullah menambahkan, jenazah korban kini sudah dikebumikan di tempat pemakaman umum tak jauh dari rumah korban.

Koordinator Wilayah SPPG Luwu, Taliyya Mabrukatulhaya, menerangkan saat kejadian, korban langsung dilarikan ke Belopa untuk mendapat perawatan.

Parida sempat mendapat perawatan media di ruang ICU sebelum akhirnya meregang nyawa.

"Sempat dirawat di ICU," ujarnya.

Hipertensi

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di atas normal secara terus-menerus, biasanya dengan angka ≥140/90 mmHg, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal jika tidak ditangani.

mmHg adalah batas tekanan darah yang digunakan untuk menyatakan seseorang mengalami hipertensi.

140 mmHg adalah tekanan sistolik (angka atas), yaitu tekanan saat jantung memompa darah

90 mmHg adalah tekanan diastolik (angka bawah), yaitu tekanan saat jantung beristirahat di antara denyut

Jika hasil pengukuran tekanan darah sama dengan atau lebih dari 140/90 mmHg, dan terjadi berulang, maka seseorang dinyatakan hipertensi.

Penyebab hipertensi umumnya dibagi menjadi dua kelompok, sayang:

1. Hipertensi primer (paling sering)

Penyebab pastinya tidak spesifik, tetapi dipicu oleh beberapa faktor:

-Pola makan tinggi garam dan lemak

-Kurang aktivitas fisik

-Obesitas atau kelebihan berat badan

-Stres berkepanjangan

-Merokok dan konsumsi alkohol

-Faktor usia dan keturunan

2. Hipertensi sekunder
Disebabkan oleh penyakit atau kondisi tertentu, seperti:

-Gangguan ginjal

-Penyakit hormonal (tiroid, adrenal)

Diabetes

-Efek samping obat tertentu (misalnya obat nyeri atau hormon)

-Sleep apnea

Gejalanya
 
Gejala hipertensi sering tidak terasa, sehingga dikenal sebagai silent killer. Namun pada sebagian orang, keluhan yang dapat muncul antara lain:

Sakit kepala, terutama di bagian belakang kepala

Pusing atau rasa berkunang-kunang

Mudah lelah

Penglihatan kabur

Nyeri dada

Sesak napas

Telinga berdenging

Mimisan (pada tekanan darah sangat tinggi)

Karena sering tanpa gejala, pemeriksaan tekanan darah rutin penting dilakukan agar hipertensi bisa terdeteksi dan ditangani lebih dini, sayang.

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved