Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Waspadai Banjir dan Longsor, BPBD Luwu Buka Pengaduan

Kepala BPBD Kabupaten Luwu, Andi Baso Tenriesa mengaku, potensi bencana banjir dan longsor masih akan mendominasi.

Tayang:
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
SIAGA BANJIR - Kantor BPBD Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan di Jl Andi Djemma, Kota Belopa. Memasuki tahun 2026, BPBD Luwu mewaspadai bencana banjir dan tanah longsor. 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - BPBD Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mewaspadai bencana hidrometereologi di tahun 2026.

Sebab sepanjang tahun 2025, bencana seperti banjir dan tanah longsor mendominasi.

Dari catatan BPBD, terdapat 12 kejadian bencana tanah longsor.

Sementara bencana banjir, tercatat 20 kali terjadi sepanjang tahun lalu.

Kepala BPBD Kabupaten Luwu, Andi Baso Tenriesa mengaku, potensi bencana banjir dan longsor masih akan mendominasi.

Menurutnya, Kabupaten Luwu menempati posisi kedua rawan banjir dan longsor se Sulawesi Selatan.

"Meskipun ada potensi lain, seperti puting beliung yang pernah terjadi di Kecamatan Larompong Selatan dan Bua," jelasnya kepada Tribun-Timur.com, Selasa (6/1/2026) sekitar pukul 14.22 Wita siang.

Andi Baso mengaku, penanganan cepat bencana akan melibatkan tim reaksi cepat (TRC) bentukan BPBD.

Kata dia, BPBD ini berjumlah 35 orang.

"Semua sudah punya kualifikasi. Karena sudah ikut pelatihan rescue di Basarnas," ungkapnya.

Namun, kata Andi Baso, 35 orang personel TRC BPBD Luwu tentu terbilang sedikit.

Apalagi mengingat luas wilayah Luwu yang memiliki 22 kecamatan.

Serta wilayah Walmas yang dipisahkan Kota Palopo, yang jika ditempuh dari Mako BPBD Luwu berjarak 76 kilometer lebih.

"Masih sangat sedikit, mengingat luas wilayah kita. Kita cukup kesulitan," ungkap Andi Baso.

Ia menambahkan, pelayanan cepat jika terjadi bencana tetap menjadi prioritas utamanya.

Walau dengan kondisi personel yang sedikit dan berkonsentrasi di Kota Belopa.

"Nanti ketika ada panggilan, baru kami turunkan anggota," akunya.

Andi Baso menyebut, warga dapat menghubungi kontak darurat Pusdalops BPBD Luwu ketika terjadi bencana.

Kontak itu akan merespon panggilan 1x24 jam jika dihubungi warga.

"Emergency call 1x24 jam. Bisa menghubungi nomor 0812 4204 0888 Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik dan kontak
0853 4368 0023 Koordinatir Unit Pusdalops-PB," bebernya.

Andi Baso menerangkan, setidaknya ada 32 bencana hidrometerelogi selama setahun.

Diantaranya 12 kejadian tanah longsor dan 20 kejadian banjir.

Bencana tanah longsor, kata dia, pernah terjadi di Kecamatan Latimojong, Larompong, Bajo, Larompong Selatan, Bua, Bajo Barat, Bastem Utara dan Bastem.

"Sementata kejadian banjir terjadi di Kecamatan Walenrang Timur, Lamasi Timur, Bua, Suli, Bua Ponrang, Kamanre, Walenrang Utara, Larompong Selatan, Larompong, Suli Barat serta Ponrang," terangnya.

Bencana lain seperti angin puting beliung juga pernah terjadi di sejumlah tempat.

BPBD mencatat, setidaknya ada 10 bencana puting beliung sepanjang tahun 2025.

"Tercatat di Kecamatan Larompong Selatan, Lamasi Timur, Bua, Bua Ponrang, Latimojong, Lamasi, Ponrang, dan Larompong," ungkap Andi Baso.

Ia menambahkan, peristiwa bencana non alam juga masuk dalam radarnya.

Termasuk terbakarnya 21 rumah milik warga Luwu.

Itu terjadi di Kecamatan Suli Barat, Walenrang Utara, Bastem Utara, Larompong Selatan, Bajo, Bua, Walenrang, Belopa, Larompong, Ponrang Selatan, Lamasi Timur, Suli dan Walenrang Timur.

Ia menambahkan, BPBD Luwu juga mencatat 6 kejadian Serach And Rescue (SAR) atau operasi kondisi membahayakan manusia (KMM).

Operasi SAR itu Kecamatan Bua, Sul Barat, Larompong, Belopa, Kamanre hingga Lamasi Timur.

Jika ditotal, BPBD Luwu mencatat 63 kasus bencana dan 6 operasi KMM per Januari hingga Desember 2025.

Andi Baso mengaku, peristiwa itu mengakibatkan 3.907 rumah terdampak bencana.

"Ditambah 150 hektar sawah dan kebun terdampak serta 1 unit jembatan rusak," akunya.

Andi Baso menerangkan, aktivitas bencana yang terjadi mengakibatkan 7 korban jiwa.

Akibat tanah longsor di Desa Buntu Sarek, Kecamatan Latimojong, 3 orang meregang nyawa.

Sementara korban jiwa lain, tercatat saat operasi SAR.

Di Desa Barowa, Kecamatan Bua, 1 orang hanyut di sungai ditemukan meninggal dunia.

Operasi SAR di Desa Kaili, Kecamatan Suli Barat juga mengakibatkan 1 nyawa tak tertolong.

"Ditambah operasi SAR di Desa Tabbaja, Kecamatan Kamanre, satu balita meninggal terbawa arus irigasi dan operasi SAR Desa Pompengan Utara, satu krang meninggal dunia karena diterkam buaya," tandasnya.

Koordinator TRC BPBD Luwu, Karyadi mengaku anggotanya sedia saat bencana datang.

Selain personel, sejumlah alat rescue juga dimiliki.

Diantaranya 1 unit perahu karet dan mesin perahu, 2 unit perahu polytheline ukuran besar lengkap dengan mesin, dan 2 unit perahu polytheline ukurna kecil.

"Ditambah 1 unit mobil dapur lapangan, 1 unit mobil recue, 2 unit chainsaw, 9 unit motor trail, dan 7 buah life jaket," tandasnya.

 

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved