Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

UIT Kembangkan Inovasi Pakan Bandeng Berbasis Maggot BSF di Maros

Program ini berfokus pada penerapan teknologi pakan mandiri berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan memanfaatkan limbah penggilingan bakso

Tayang:
Editor: Muh. Abdiwan
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
PROGRAM PEMBERDAYAAN - Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Indonesia Timur (UIT) melaksanakan program pemberdayaan bersama Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Citra Usaha Mandiri di Lingkungan Sengkalantang, Kelurahan Baji Pa’Mai, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Limbah penggilingan bakso yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai kini disulap menjadi sumber pakan berkualitas bagi budidaya ikan bandeng melalui program pengabdian masyarakat yang digagas Universitas Indonesia Timur (UIT) di Kabupaten Maros.

Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Indonesia Timur melaksanakan pendampingan kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Citra Usaha Mandiri di Lingkungan Sengkalantang, Kelurahan Baji Pa’Mai, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, beberapa hari lalu.

Program yang didanai melalui Hibah PKM Kemendiktisaintek Tahun Anggaran 2026 tersebut berfokus pada penerapan teknologi pakan mandiri berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan memanfaatkan limbah penggilingan bakso sebagai bahan baku utama.

Inovasi tersebut diharapkan mampu membantu pembudidaya menekan biaya produksi sekaligus menciptakan kemandirian dalam penyediaan pakan ikan bandeng.

Ketua Tim PKM UIT, Dr. Harlina, SP., M.Si, mengatakan program ini dirancang agar dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh kelompok mitra setelah seluruh rangkaian pelatihan selesai dilaksanakan.

“Harapannya, mitra mampu membuat pakan ikan secara mandiri sehingga tidak lagi mengandalkan pakan komersial seratus persen,” ungkapnya.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi pada 23 Mei 2026 yang bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memberikan pemahaman mengenai tujuan dan manfaat program kepada seluruh peserta.

Program kemudian berlanjut pada 6 Juni 2026 melalui penyerahan berbagai sarana dan teknologi pendukung yang akan digunakan dalam proses budidaya maggot serta produksi pakan ikan.

Tim PKM UIT menyerahkan rumah maggot sebagai fasilitas pemeliharaan larva BSF agar proses produksi berlangsung lebih terkontrol, higienis, dan berkelanjutan.

Selain itu, kelompok mitra juga menerima oven pengering yang berfungsi mengurangi kadar air maggot sehingga kualitas bahan baku pakan menjadi lebih stabil, tidak mudah berjamur, dan memiliki daya simpan lebih lama.

Untuk mendukung proses produksi pakan, tim turut menyerahkan satu set mesin penepung yang digunakan untuk menghaluskan maggot kering dan bahan campuran lainnya.

Satu set mesin pencetak pelet juga diberikan guna menghasilkan pakan ikan berukuran seragam sehingga lebih praktis digunakan dalam budidaya bandeng.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIT, Nismawati, S.Si., M.Kes, menegaskan pentingnya program pengabdian yang memberikan dampak nyata kepada masyarakat.

“Kami mendorong pengabdian yang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga ada transfer pengetahuan dan dukungan teknologi agar mitra benar-benar berdaya dan mandiri,” ujarnya.

Puncak kegiatan berlangsung pada Ahad, 7 Juni 2026, melalui pelatihan, penyuluhan, demonstrasi, dan pendampingan yang diikuti 11 anggota Pokdakan Citra Usaha Mandiri serta 10 peserta dari masyarakat sekitar.

Peserta mendapatkan materi mengenai teknik budidaya maggot BSF, penggunaan teknologi yang diberikan, hingga praktik langsung pembuatan pakan ikan bandeng berbasis maggot.

Narasumber kegiatan, Dr. Kamaruddin dari BRIN, menjelaskan bahwa maggot BSF memiliki potensi besar sebagai pakan alternatif karena kaya nutrisi dan dapat diproduksi dari limbah organik yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Kunci utamanya ada pada konsistensi proses, mulai dari pengelolaan bahan baku, budidaya maggot, sampai formulasi pakan. Jika berjalan baik, manfaatnya akan terasa untuk efisiensi budidaya,” jelasnya.

Ketua Pokdakan Citra Usaha Mandiri, H. Yunus, mengaku sangat terbantu dengan dukungan teknologi dan pendampingan yang diberikan oleh tim PKM UIT.

“Kami sangat terbantu, apalagi dengan adanya rumah maggot, oven pengering, dan mesin pakan. Harapannya setelah pelatihan ini kami bisa benar-benar memproduksi pakan sendiri sehingga biaya pakan lebih ringan,” katanya.

Tim PKM UIT yang terlibat dalam program ini terdiri atas Dr. Harlina, SP., M.Si sebagai ketua, Dr. Rosmiati, SP., M.Si dan Supiati, SE., MM sebagai anggota, serta Andayanil dan Santika Nayla Putri dari unsur mahasiswa.

Sebagai bagian dari upaya memastikan keberlanjutan program, tim PKM UIT juga menjadwalkan kegiatan monitoring dan evaluasi sekitar 10 hari setelah pelatihan atau diperkirakan pada 18 Juni 2026.

Monitoring tersebut dilakukan untuk memastikan teknologi budidaya maggot BSF dan praktik produksi pakan mandiri benar-benar diterapkan serta memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok pembudidaya ikan di Maros.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved