Citizen Reporter
Merawat Pasar Lokal dan Ruang Dialog di Makassar
Namun terkadang kearifan hidup di dalam pasar ini tidak sepenuhnya terhubung dengan saluran komunikasi pemangku kebijakan.
Sesungguhnya pasar rakyat kita hidup, bernapas, dan terus beradaptasi di masa kini.
Seperti telah digagas Active Society Institute (AcSI) pada buku Dunia Dalam Kota-----hasil riset etnografi. Bahwa gelar paling tepat yakni Pasar Lokal.
Setiap pasar di kota Makassar----bahkan di seluruh penjuru dunia----memiliki karakter, sejarah, dan sosiologi yang sama sekali berbeda.
Pasar Lokal Kalimbu' memiliki ceritanya sendiri, begitu pula Pasar Induk Terong atau Pasar Sentral.
Semuanya unik dan sangat lokalistik. Menggunakan istilah "Pasar Lokal" merupakan bentuk pengakuan bahwa ruang niaga ini mempunyai kekhasan budaya tak bisa diseragamkan begitu saja.
Pemahaman terhadap kultur lokal ini menjadi sangat krusial, ketika kita berbicara tentang rancang bangun atau revitalisasi pasar.
Di antara tantangan tata ruang kita hari ini adalah kecenderungan untuk memaksakan modernisasi bersifat vertikal.
Kita dapat melihat niat baik pemerintah untuk memodernisasi Pasar Sentral (kini: Makassar Mall), secara historis merupakan titik temu kultural pedagang Makassar dan Tionghoa.
Pembangunan gedung bertingkat hingga lantai empat (4), atau bahkan lantai tujuh (7), awalnya ditujukan untuk efisiensi ruang. Namun kenyataannya, sosiologis di lapangan menunjukkan bahwa lantai-lantai atas seringkali kesepian.
Hal ini terjadi karena pedagang menolak kemajuan. Kita harus jujur melihat bahwa budaya belanja di pasar lokal kita bersifat horizontal.
Pengunjung utama pasar kita adalah masyarakat biasa, ibu-ibu rumah tangga nan langkah dan tenaga fisiknya mungkin tidak didesaian untuk mendaki tangga berlantai-lantai.
Menyediakan fasilitas modern seperti eskalator seringkali membutuhkan biaya tinggi dan belum tentu sesuai dengan kebiasaan transaksi, face to face nang bergerak ke kiri-kanan dan depan-belakang.
Oleh karena itu, gagasan pembenahan pasar ke depan sebaiknya tidak lagi sekedar revitalisasi fisik, melainkan redesign kultural.
Rancang bangun pasar domestik harus merefleksikan keinginan rakyat, karena untuk menghidupi ruang tersebut bukanlah para pengambil kebijakan, melainkan pedagang dan pembeli itu sendiri.
Menyuarakan hak atas ruang kota adalah bagian dari dinamika demokrasi. Jika pun ada letupan aspirasi atau demonstrasi dari para pedagang, hal itu sebaiknya dimaknai bukan sebagai bentuk permusuhan, melainkan laksana tanda cinta dan kerinduan warganya untuk diajak berbicara.
| Wisata Pantai Bukan Sekadar Menjual Pemandangan, Tetapi Juga Menjamin Keselamatan Pengunjung |
|
|---|
| Pengurus Ansor Sulsel Jajaki Kerja Sama Strategis IAIN Parepare |
|
|---|
| Tujuh Santri Ponpes Al Haris Raih Penghargaan pada Khataman Al-Quran 30 Juz |
|
|---|
| Tim Pengabdian UNM Bekali Pengurus Pesantren di Bulukumba dengan Standar Akuntansi Keuangan Modern |
|
|---|
| Milad ke-27 HMP BDP FIKP Unhas Jadi Momentum Perkuat Solidaritas Mahasiswa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-09-Zainal-Siko.jpg)