Opini Mulawarman

Menyambut HUT Golkar: Era Sianrebale Tantangan Parpol di Sulsel

Editor: AS Kambie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mulawarman, Alumnus Universitas Hasanuddin

Menyambut HUT Golkar: Era Sianrebale Tantangan Parpol di Sulsel
oleh Mulawarman
Jurnalis, Alumnus FE Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Senin pekan kemarin,saya ditelepon Erwin Aksa politisi muda Golkar dari Jakarta, mangajak saya mengikuti jalannya pelantikan pengurus sekaligus Rakorda AMPG Sulsel di Hotel Claro Makassar. Lalu berbincang ringan soal prospek partai politik di Sulsel ke depan dan ide Golkar Reborn dari Erwin Aksa.

Ada apa dengan partai politik Sulsel lima tahun mendatang. Tulisan saya ini, untuk menyambut hari jadi ke-57 Partai Golkar yang di Sulsel puncak acaranya dipusatkan di Kabupaten Tanah Toraja pekan depan, sedikit banyak terinspirasi dari obrolan saya dengan Erwin Aksa itu.

Terdapat fakta yang tak terbantahkan bahwa partai-partai politik di Indonesia masih alami masalah pelembagaan yang labil.

Buktinya, masih terlalu dominanya peran figur ketua partai daripada sistem partai itu sendiri. Sosok ketua partai masih menjadi magnet elektoral yang kuat, dibandingkan mesin partai yang bekerja.

Alih-alih memilih partai, masyarakat kebanyakan tertarik dengan figur sang ketum partai. Lihat saja data terbaru lembaga survey, menyebutkan faktor tokoh masih dominan jadi pertimbangan pemilih, seperti data PPI sebesar 22,9%.

SMRC juga menyebutkan bahwa faktor tokoh partai sangatlah penting untuk menang di Pemilu 2024, yakni 67%.

Pemilih yang memilih karena alasan partai tak kurang dari 11%. Jumlah ini per tahun cenderung fluktuatif seiring dengan semakin rendahnya kepercayaan terhadap partai karena kadernya kerap terlibat kasus korupsi.

Figur Partai

Diketahui bahwa partai yang lahir di era reformasi sangat lekat dengan figur. PDI P dengan Megawati Soekarnoputri, PKB dengan Gus Dur, PAN dengan Amin Rais, Demokrat dengan SBY, Gerindra dengan Prabowo Subianto, Nasdem dengan Surya Paloh, Hanura dengan Wiranto, Perindo, dengan Hary Tanoesudibjo.

Di antara partai yang tumbuh di era reformasi, hanya Golkar yang tidak tergantung pada sosok figur.

Halaman
1234