Opini Rusman Madjulekka

IAS Reborn

Editor: AS Kambie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Rusman Madjulekka, alumnus Fisipol Unhas

IAS Reborn
Catatan Rusman Madjulekka
Penulis alumni komunikasi Fisipol Unhas, writer freelance

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -
Lama tak terdengar. Ia hanya muncul dalam beberapa peristiwa.

Lebih sering terlihat di platform media sosial dengan konten ringan dan kuliner. “Ayo, makan ki enak tawwa ‘jalangkote’-nya,” ajak Pak Aco, begitu biasa kami menyapanya, sembari menunjuk kudapan pastel khas Makassar, suatu sore di kedai bilangan kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta.

Sebelum virus corona menyerang. Ia juga kerap berolahraga di kawasan tersebut.

Bertemu tanpa sengaja, tanpa janjian saat itu menjadi surprise bagi saya. Itu pertemuan pertama kali saya dengan pria bernama lengkap Ilham Arief Sirajuddin (IAS) itu semenjak dirinya tak lagi menjadi Walikota Makassar.

Tak ada yang berubah. Masih seperti dulu. Ilham Arief Sirajuddin menyapa ramah dan terlihat humble seperti sebelumnya yang saya kenal.

Sesekali terselip candaan atau joke ringan yang diikuti gestur ala anak Makassar.

“Wah…pantas tidak pernah saya liat ko di Makassar. Rupanya sudah jadi anak Jakarta tawwa,” canda IAS membuka obrolan ringan sore itu. “Jadi, kapan balik ke Makassar?” lanjutnya.

“Iye,nanti kalo kita (anda,red) sudah jadi Gubernur,” jawabku spontan coba mencairkan suasana. IAS hanya tersenyum.

Begitu pula seorang anggota DPRD Sulsel, Selle KS Dalle,yang berada disampingnya, raut wajahnya memerah seperti menahan tawa.

*

Pekan lalu, saya dikirimi foto peristiwa dan beberapa link berita media oleh kawan yang mantan jurnalis koran nasional, dari Makassar.

Halaman
123