Tribun Gowa

Diduga Sebar Berita Bohong, Pasutri Pemilik Warkop yang Dianiaya Oknum Satpol PP Gowa Dilapor Polisi

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Brigade Muslim Indonesia, Muhammad Zulkifli melaporkan pasutri pemilik warkop yang menjadi korban penganiayaan saat operasi PPKM mikro di gowa, di Mapolres Gowa, Kamis (22/7/2021) sore

TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Kasus penganiyaan terhadap Pasangan Suami Istri (pasutri) pemilik warung kopi oleh eks Sekretaris Satpol PP Gowa berbuntut panjang. 

Salah satu Organisasi Masyarakat (Ormas) Brigade Muslim Indonesia melaporkan pasutri ke pihak kepolisian.

Ia dilaporkan ke pihak kepolisian terkait status kehamilan korban yang diduga palsu. 

Ketua Brigade Muslim Indonesia, Muhammad Zulkifli mengatakan, ia telah melaporkan pemilik warkop tersebut.

Laporan terkait dugaan melakukan menyiarkan berita bohong dilakukan secara live yang diduga menimbulkan keonaran di masyarakat. 

Ia resmi melapor pada Kamis kemarin di Polres Gowa.

Pelaporan terkait berita bohong ini ditujukan kepada pasutri pemilik warkop (Ivan dan Riyana) tersebut. 

"Laporan ini ditujukan kepada pemilik kafe dan mungkin juga nanti akan ada orang lain yang diikutkan di situ, mungkin pengacaranya juga," ujarnya saat dihubungi, Jumat (23/7/2021) sore. 

Pihaknya telah melihat beberapa video yang berdurasi sekitar 21 menit.

Ia melihat bahwa pasutri itu memviralkan yang terjadi saat insiden peganiayaan.

Saat itu, sang suami meyampaikan keadaan istrinya yang sedang hamil dan pecah ketuban. 

"Dan istrinya juga sempat berbicara seperti itu, dan video kedua yang saya lihat pada saat di lokasi ada pengacaranya juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya (Riyana) hamil," ujarnya.

Bahkan dia mengatakan media harus melihat ini jangan sampai dikira bohong.

"Itu seakan-akan itu dipertegas (kehamilan) benar," jelasnya. 

Zulkifli mengaku alasan ia melaporkan pasutri tersebut karena ada usaha mendramatisir keadaan.

Jika dia berbohong karena keadaan darurat ia sepakat, tapi setelah itu ia akui bahwa tidak hamil.

"Tapi karena kondisi darurat itu dikatakan agar tidak ada pemukulan. Tapi setelah kondisi aman itu diviralkan ke sana kemari," ucap dia. 

Dia mengaku turut simpati atas kejadian pemukulan oleh oknum Satpol PP terhadap korban yang diduga hamil tersebut. 

Namun faktanya lanjut dia, mereka (pasutri) menyampaikan melalui media sosial dan diviralkan bahwa dari hasil medis USG nya dalam keadaan kosong atau tidak hamil. 

"Tapi kita berharap mereka legowo minta maaf bahwa tidak hamil. Tetapi ini yang terjadi tidak, justru ini semakin diviralkan. Bahkan ini usaha untuk mempertahankan kebohongan," bebernya. 

"Saya tidak tahu untuk apa ini diviralkan, bisa saja untuk bisnis karena dia selebgram atau apa, untuk endorse, bisa sajakan," sambung dia. 

Ia berharap masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

"Saya tidak kenal itu satpol, saya tidak kenal mereka (pasutri), saya bukan orang Gowa, saya warga Makassar, tetapi nurani saya harus tampil karena sepertinya ini didramatisis," pungkasnya. 

Sekedar diketahui, Kasus penganiayaan ini sendiri terjadi saat tim gabungan melakukan razia pengetatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) disalah satu warung kopi (Warkop)di Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, pada Rabu (14/7/2021) malam.

Pemilik kafe yang merupakan pasutri menjadi korban penganiyaan oleh Sekretaris Satpol PP Kabupaten Gowa, Mardani Hamdan.

Mardani Hamdan telah ditetapkan sebagai tersangka dan kini sedang menjalani penahanan di Mapolres Gowa.

Selain itu, Mardani juga telah dicopot dari jabatanya sebagai Sekertaris Satpol PP Gowa.

Laporan Wartawan Kontributor Tribungowa.com, Sayyid Zulfadli 

Berita Terkini