FTI UMI

Zakir Sabara: Cintai FTI dan UMI, Bukan Cinta Harta, Tahta, Wanita, Kuota untuk Mem-bully

Dekan FTI UMI, Dr Ir Zakir Sabara H Wata ST MT IPM ASEAN Eng

TRIBUN-TIMUR.COM - Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia ( FTI UMI ), Dr Ir Zakir Sabara H Wata ST MT IPM ASEAN Eng mengingatkan kepada mahasiswanya dan alumni FTI UMI agar tidak culas, menyulut bara konflik, main sadap, dan suka menjebak.

Sebab, bukan lagi zamannya untuk melakukan praktik kotor itu.

"Anak-anakku sekalian, saya ingatkan juga, tidak zaman lagi orang merekayasa, taktik dan strategi yang curang dan culas. Tidak zaman lagi praktik-praktik peta konflik dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tidak zaman lagi sadap-menyadap, jebak-menjebak. Dua laleng tempedding riola. Lalengna passirie enrengnge lalengna paggollae (petuah dalam bahasa Bugis). (Artinya) Dua cara tidak bisa ditiru, yaitu cara menyadap enau dan cara pembuat gula," ujar Zakir Sabara H Wata berpesan.

Pesan itu dia disampaikan dalam pidatonya saat Yudisium Program Sarjana Gelombang ke-2 FTI UMI yang digelar secara virtual, Rabu (1/7/2020).

Ia menjelaskan maksud petuah itu.

Jalan penyadap enau tidak tentu, dari satu pohon ke pohon lain, melalui pelepah dan semak belukar sehingga dikiaskan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Sementara pembuat gula menghiraukan aspek higienitas lantaran merasa proses pembuatan gula tak dilihat dan diketahui orang lain.

Proses demikian dikiaskan seseorang tidak memiliki itikad baik.

"Tapi jangan salah pengertian, bapak, ibu, anak-anakku sekalian. Bukan berarti tidak boleh cari nafkah sebagai penyadap enau dan pembuat gula. Tapi lakukan segala sesuatunya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara yang baik," kata Zakir Sabara H Wata.

Dia menjelaskan, petuah itu sangat relevan dengan kondisi di tengah pandemi virus corona, dimana kita harus selalu menjaga kebersihan diri dan orang lain.

Tonton videonya di bawah ini.

Di ujung pidatonya, Zakir Sabara H Wata berpesan kepada para alumni untuk menjaga patriotisme kepada almamater yang diwujudkan cinta kepada FTI UMI.

Harus menjaga citra dan nama baiknya.

"Bukan cinta kepada harta, tahta, wanita, dan penyalahgunaan kuota apalagi disalahgunakan untuk mem-bully kampusmu," kata Zakir Sabara H Wata sekaligus mantan aktivis mahasiswa era tahun 1990-an.(*)

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribun Timur

Berita Populer