Kanal

Akhirnya Ketahuan Lokasi KKN di Desa Penari Versi Pria Berkaus Forum Budaya Purnama, Ada Makam

KKN di Desa Penari dan peta Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

TRIBUN-TIMUR.COM - Akhirnya ketahuan lokasi KKN di Desa Penari versi pria berkaus Forum Budaya Purnama, ada makam.

Update kisah KKN di Desa Penari yang viral.

Kisah KKN di Desa Penari menarik perhatian warganet.

Kerahasiaan lokasi dan para tokohnya membuat warga dunia maya amat penasaran.

Dirahasiakannya tempat dan nama tokoh, membuat kesimpang siuran lokasi sebenarnya dalam cerita tersebut.

Penulis kisah mengaku enggan untuk membahas lebih detail, lokasi dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita itu.

Cerita KKN di Desa Penari pun jadi berkembang di masyarakat.

Kemisteriusannya membuat orang-orang penasaran dan ingin menelusuri di mana Desa Penari berada.

Kendati demikian, Desa Penari itu bukan merupakan nama daerah yang sebenarnya sehingga banyak masyarakat penasaran mengenai keberadaan tempat itu.

Teka-teki Desa Penari ini berusaha dikuak berbagai pihak.

Satu diantaranya vlogger pengelola channel YouTube Cakwer Channel sebagaimana dikutip dari Tribun Jakarta pada Minggu (15/9/2019).

Pengelola channel YouTube tersebut mengunggah sebuah tayangan wawancara, dengan salah seorang narasumber yang diduga seorang budayawan setempat.

Saat diwawancarai, pria tersebut tengah menggunakan pakaian warna hitam bertuliskan Forum Budaya Purnama di bagian dada sebelah kiri.

Pria itu mengungkapkan bahwa benar ada sebuah situs purba yang disakralkan, lokasinya di pinggir hutan dan jauh dari pemukiman.

Daerahnya memang dikelilingi oleh hutan, dan masih banyak hewan sejenis kera yang berkeliaran.

Lokasi desa tersebut berjarak sekitar 2 KM dari Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pria berambut ikal itu pun mengungkapkan adanya sebuah makam yang dihiasi kain-kain sesuai dengan cerita.

"Awalnya kainnya putih, karena kotor jadinya hitam," ujar pria yang mengenakan kaus Forum Budaya Purnama itu.

Saat ditanya soal kebenaran bahwa kampung itu pernah digunakan untuk KKN, pria itu mengaku tidak mengetahui pernah atau tidaknya kegiatan tersbeut dilakukan di desa itu.

Namun pria itu amat meyakini, ciri-ciri lokasi sesuai dengan desa yang ada di cerita KKN di Desa Penari.

"Kalau KKN belum tahu. Kalau saya meyakini ciri-cirinya sama dengan yang saya maksud ini," kata pria itu.

Ia pun menyebutkan beberapa kesamaan ciri-ciri desa yang dimaksud.

"Pondasinya, batunya, sumber airnya, terus disakralkan, penari yang gaib yang dalam hari-hari tertentu itu kelihatan oleh orang-orang tertentu juga," jelasnya.

Pria itu juga mengaku pernah mengalami sebuah peristiwa di desa tersebut.

Ia mengaku pada malam hari pernah mendengar suara musik gamelan di lokasi tersebut.

Pria itu kemudian menceritakan, di desa itu dulunya pernah ada seorang sesepuh yang ahli dalam pengobatan nonmedis.

"Di sana itu dulu ada seorang sesepuh, tapi sudah meninggal. Inisialnya J," katanya.

"Sesepuh itu, spiritualnya tinggi, penyembuh dari penyakit nonmedis itu luar biasa," tuturnya.

Kemudian, pria itu menceritakan kebiasaan sesepuh tersebut yang kerap menyuguhkan kopi kepada para tamunya.

"Biasanya dia akan selalu menyuguhkan kopi bagi tamunya," kata pria berbaju Forum Budaya Purnama itu.

Pria itu juga menjelaskan, kalau sesepuh tersebut mengharuskan setiap tamunya meminum kopi tersebut, meski hanya seteguk.

Pria itu meyakini, kopi itu merupakan media sang sesepuh untuk mengobati pasiennya yang menderita penyakit nonmedis.

Hingga kini masih banyak beberapa pihak yang ingin menguak dimana lokasi tepatnya KKN Desa Penari tersebut.

Sebab dalam cerita KKN di Desa Penari, hanya memberikan informasi bahwa lokasi tersebut berada di Desa D.

Banyak yang masih penasaran dimana lokasi tepatnya.

Kemudian pria itu kembali menjelaskan perihal kampung yang dimaksud.

"Inisialnya D, namanya kampung Dukuh itu," kata pria tersebut.

Pria berambut ikal itu merasa yakin bahwa desa yang ia maksud ciri-cirinya sesuai dengan apa yang ada di cerita.

"Di desa itu ada selendangnya, sumber airnya, ada batu yang disakralkan, ada situs bekas pendopo, terus penari-penari gaib, suara gamelan gaib itu ya di situ (Desa Dukuh) itu. Semua masyarakat tahu," kata dia.

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribunnews.com

Berita Populer