Presiden Diaspora Indonesia Telusuri Warisan Budaya Toraja, Dari Kete Kesu hingga Goa Londa
Butce Lie kunjungi situs budaya Toraja mulai dari Kalimbuang Bori, Kete Kesu, Londa, dan Museum Pong Tiku, promosikan warisan leluhur ke dunia.
TRIBUN-TIMUR.COM - Presiden Indonesia Diaspora Global, Butce Lie, melakukan kunjungan budaya ke sejumlah situs bersejarah di Toraja Utara, Jumat (15/8/2025).
Kunjungan ini bukan sekadar wisata, melainkan perjalanan mendalami nilai adat, spiritual, dan filosofi hidup masyarakat Toraja yang sarat makna.
Didampingi Dr. Ariella Hana Sinjaya, pendiri Yayasan Anak Bangsa Berakhlak Mulia, Butce Lie menelusuri destinasi budaya yang menjadi ikon leluhur Toraja, antara lain Kete Kesu, Kalimbuang Bori, Goa Londa, hingga Museum Pong Tiku.
Megalit Kalimbuang Bori dan Tradisi Pemakaman Unik di Toraja
Kompleks Megalit Kalimbuang Bori di Kecamatan Sesean, Toraja Utara, merupakan salah satu situs penting yang memadukan fungsi upacara adat dan pemakaman leluhur. Di sini berdiri batu-batu simboang yang menjadi pusat upacara kematian.
Saat ritual, kerbau-kerbau diikat pada batu tersebut sebelum disembelih, lalu dagingnya dibagikan kepada keluarga dan masyarakat.
Selain area upacara, situs ini memiliki lakian bangunan khusus tempat jenazah diletakkan sementara sebelum dimakamkan serta liang, lubang pemakaman yang dipahat pada batu. Liang dibuat di lokasi yang mudah diakses atau di tebing, dan dipilih dari batu yang kuat dan tidak rapuh.
Fungsi utamanya adalah melindungi jenazah dari binatang liar, sesuai tradisi Toraja yang sarat simbol dan nilai penghormatan.
Salah satu tradisi unik yang masih terlihat di Kalimbuang Bori adalah penguburan bayi di pohon.
Bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi akan dimakamkan di pohon tarra. Lubang kecil dibuat di batang pohon, lalu jasad bayi dimasukkan dalam posisi berdiri tanpa pakaian, melambangkan pengembalian anak tersebut ke “rahim” alam.
Lubang kemudian ditutup ijuk, dan seiring waktu, batang pohon menutup rapat, seakan memeluk bayi itu selamanya. Tradisi ini dilakukan tanpa pengorbanan hewan, sesuai istilah lokal pasiliran.
Di kompleks ini juga terdapat kongkonan lumika, tongkonan dengan deretan tanduk kerbau sebagai penanda jumlah pesta adat besar yang pernah diadakan pemiliknya. Setiap tanduk adalah simbol prestise dan status sosial dalam budaya Toraja.
Kalimbuang Bori bukan hanya situs megalitik, tetapi juga arsip hidup yang menyimpan kisah hubungan erat antara ritual kematian, simbol kemakmuran, dan filosofi kehidupan masyarakat Toraja.
Kete Kesu: Harmoni Kehidupan dan Kematian di Tanah Toraja
Kete Kesu, sekitar 20 menit dari Rantepao, adalah salah satu kampung adat tertua di Tana Toraja yang masih memancarkan keaslian warisan leluhur.
Deretan tongkonan rumah adat Toraja berdiri anggun berdampingan dengan alang, lumbung padi yang menjadi simbol kemakmuran.
Uniknya, tongkonan di Kete Kesu masih mempertahankan atap bambu yang mampu bertahan hingga 6080 tahun, jauh lebih lama dari atap seng modern.
Bagi masyarakat setempat, tongkonan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pusat kehidupan: lokasi musyawarah keluarga, pelaksanaan upacara adat, hingga tempat menyimpan jenazah anggota keluarga sebelum prosesi pemakaman.
Tata ruangnya sarat makna, dengan kamar selatan untuk jenazah, kamar tengah untuk pertemuan, dan kamar utara untuk hunian sehari-hari.
Keindahan arsitektur tongkonan semakin hidup lewat ukiran kayu penuh simbol: kerbau melambangkan kekayaan, sawah subur sebagai doa kesejahteraan, serta motif-motif yang merekatkan ikatan kekeluargaan.
Dahulu, kolong tongkonan berfungsi sebagai kandang kerbau, hewan yang memiliki nilai prestise tinggi dalam adat Toraja.
Namun, Kete Kesu tidak hanya memamerkan rumah adat ia juga menyimpan jejak unik pandangan Toraja tentang kematian.
Di sini, Patane, kuburan modern berbahan beton, berdiri megah dan kerap lebih kokoh daripada rumah pemiliknya.
Fenomena ini mencerminkan filosofi bahwa kuburan adalah rumah kekal yang patut dibangun seindah mungkin. Berbeda dengan Patane, bentuk pemakaman tradisional antara lain liang (kuburan batu) dan erong (peti kayu nangka) yang kadang digantung di tebing sebagai bentuk perlindungan.
Di depan beberapa makam berdiri tau-tau, patung kayu menyerupai mendiang yang menjadi simbol kehadiran mereka. Di sela-sela kisah kemegahan makam, Kete Kesu juga menyimpan tradisi yang menyentuh: penguburan bayi di pohon tarra.
Bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi akan dimakamkan dalam lubang di batang pohon ini, lalu ditutup ijuk. Pohon tarra yang bergetah manis dipercaya menjadi “ibu pengganti” bagi sang bayi, mengasuhnya hingga kembali menyatu dengan alam.
Seiring pertumbuhan pohon, lubang makam perlahan tertutup, seakan memeluk jasad mungil itu selamanya.
Kete Kesu, dengan tongkonan berumur ratusan tahun, kuburan megah yang menghadap pemandangan indah, dan ritual penguburan yang sarat makna, menjadi cermin falsafah Toraja: hidup dan mati adalah satu rangkaian perjalanan yang harus dijalani dengan kehormatan, kebersamaan, dan keindahan.
Goa Londa – Kuburan Tebing dan Kisah Tragis Romeo & Juliet Toraja
Londa adalah salah satu situs pemakaman tertua dan paling terkenal di Toraja Utara. Berbeda dari kuburan batu pada umumnya, di sini jenazah ditempatkan di peti mati kayu yang diletakkan di ceruk-ceruk tebing atau digantung. Tradisi ini awalnya dilakukan ketika wilayah Toraja masih berupa hutan lebat, untuk melindungi jenazah dari gangguan binatang buas.
Peti-peti ini beragam bentuk dan bahan. Ada yang sederhana dari bambu, ada pula yang dibuat dari kayu utuh dengan ukiran khas Toraja. Beberapa peti yang berada di bagian atas tebing adalah milik bangsawan, ditempatkan tinggi untuk mencegah penjarahan perhiasan yang ikut dimakamkan.
Peti baru masih ditambahkan hingga kini, menandakan Londa tetap digunakan oleh rumpun keluarga Tolengkesecara turun-temurun.
Goa ini memiliki aturan ketat: satu ceruk atau liang hanya untuk satu rumpun keluarga, dan tidak boleh dipakai oleh keluarga lain.
Status sosial turut memengaruhi penempatan: bangsawan di atas, rakyat biasa di bawah. Di dalam goa, beberapa peti telah rusak karena usia, memperlihatkan tulang dan tengkorak. Warna tengkorak berubah seiring waktu dari cokelat (masih ada sisa jaringan) menjadi putih bersih (sepenuhnya kering).
Selain kisah keluarga, Londa juga menyimpan tragedi yang membekas. Dua tengkorak di luar gua adalah sepasang kekasih sepupu dekat yang hubungan mereka tidak direstui.
Mereka memilih mengakhiri hidup bersama, kisah yang sering disebut sebagai “Romeo dan Juliet dari Toraja.”
Masyarakat setempat masih melakukan penghormatan kepada leluhur di Londa dengan memberikan rokok, kopi, teh, koin, atau bunga di dekat peti.
Di dalam gua yang panjangnya mencapai 1 km ini, terdapat stalaktit alami dan lorong sempit yang menghubungkan ke bagian lain, konon juga pernah menjadi tempat persembunyian di masa lalu.
Atmosfer Londa tenang, tanpa bau menyengat berkat proses pengawetan tradisional atau penggunaan formalin.
Bagi pengunjung, situs ini bukan hanya destinasi wisata budaya, tetapi juga perjalanan menyentuh ke dalam sejarah, stratifikasi sosial, dan kisah cinta tragis masyarakat Toraja.
Museum Pong Tiku – Warisan Leluhur yang Terawat
Butce Lie juga menyempatkan diri mengunjungi Museum Pong Tiku di Rantepao, Toraja Utara. Museum yang berdiri sejak 2002 ini dinamai dari pahlawan Toraja, Pong Tiku, dan menampilkan koleksi etnografi serta arkeologi.
Koleksi unggulannya adalah tiga mumi dan tautau, yang disimpan dalam lemari kaca di lantai dasar museum.
Kehadirannya dapat menambah dimensi mendalam terhadap pemahaman pengunjung tentang hubungan masyarakat Toraja dengan leluhur, ritual kematian, dan nilai budaya.
Refleksi Perjalanan
Butce Lie mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan budaya Toraja. “Setiap situs yang saya kunjungi menyimpan cerita yang bukan hanya indah, tapi juga penuh makna dan filosofi hidup,” ujarnya.
Kunjungan ini diharapkan dapat semakin mengenalkan kekayaan budaya Toraja kepada masyarakat luas, baik di Indonesia maupun dunia, serta mendorong pelestarian tradisi yang sarat nilai spiritual dan sejarah.
Selama kunjungan Butce Lie, Presiden Indonesia Diaspora Los Angeles di Sulawesi Selatan, beliau mengunjungi berbagai situs budaya, adat dan sejarah di Kab Baros, Bulukumba, Toraja Utara dan Tana Toraja dengan didampingi Dr. Ariella Hana Sinjaya, S.Pd., M.Div., MH Pendiri Yayasan Anak Bangsa Berakhlak Mulia yang adalah sahabat dan fasilitator yang menjembatani hubungan dengan Para Bupati dan Pemerintah Daerah.(*)
| Prakiraan Cuaca Daerah Wisata di Sulsel Selasa 30 Desember 2025: Air Terjun Bantimurung hingga Lolai |
|
|---|
| Rekomendasi Wisata Alternatif Akhir Tahun Disbudpar Sulsel |
|
|---|
| Ketika Ego Sektoral Mematikan Arah Promosi Global Pariwisata Sulawesi |
|
|---|
| Jemaat Membludak, Gereja Toraja Tamalanrea Makassar Siapkan Tenda |
|
|---|
| Sambut Natal 2025, Gereja Toraja Ajak Jemaat Perkuat Kebersamaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/kunjungan-wisata-butce-lie.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.