Opini Mubha Kahar Muang
Yahudi dan Thailand
Krisis yang bermula dari Thailand 27 tahun lalu, yang ditengarai _operasi Soros_ yang menjadi penyebabnya, juga menjadi pemicu mundurnya Presiden Soeh
Oleh: Mubha Kahar Muang_
Mantan Anggota DPR RI 87-92, 92-97, 97-98.
TRIBUN-TIMUR.COM - Thailand, satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah bangsa Eropa.
Hal ini mungkin karena Thailand mendapat dukungan dari Amerika Serikat, karena sejak tahun 1833 ketika itu masih bernama Siam sudah menjalin hubungan diplomasi dengan Amerika Serikat.
Yahudi di Thailand
Kehadiran Yahudi di Thailand diawali oleh Abraham Navarro penerjemah bahasa Inggris untuk East India Company tercatat sebagai orang Yahudi pertama yang tinggal di Thailand, disusul kemudian dengan pedagang Yahudi lainnya yang melakukan perdagangan di kawasan Asia.
Pemerintah Thailand sejak dulu sudah terbuka kepada bangsa Yahudi.
Hal ini terbukti bahwa sejak tahun 1601 pedagang Yahudi dilaporkan sudah mendirikan sinagoga, rumah peribadatan Yahudi, di wilayah Kerajaan Ayutthaya.
Pada 1890, keluarga Yahudi Eropa juga telah mulai menetap di Bangkok, antara lain keluarga Rosenberg yang mendirikan hotel modern pertama di Bangkok.
Yahudi Rusia dari Harbin yang melarikan diri dari diskriminasi Soviet, tiba di Thailand tahun 1920. Termasuk Haim Gerson pengusaha yang sangat terkenal di Thailand dan memimpin komunitas Yahudi selama beberapa dekade.
Pada 1930, sebanyak 120 orang Yahudi dari Jerman yang melarikan diri dari Nazi menetap di Thailand.
Selama Perang Dunia II beberapa keluarga Yahudi tiba dari Suriah dan Lebanon. Yahudi dari Amerika, Irak, Afganistan dan Iran tiba di Thailand antara 1950-1960.
Tahun 1970-an banyak keluarga Israel bermigrasi ke Thailand. Menyusul tentara Yahudi Amerika ketika Perang Vietnam, untuk kemudian menetap dan mencari peluang bisnis.
Hubungan Diplomatik
Amerika Serikat adalah negara pertama yang mengakui Israel pada 14 Mei 1948, pada hari Israel mendeklarasikan pendirian negaranya.
Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara, atau Àsean sebagian besar mengakui Israel.
Adapun yang tidak mengakui dan menolak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel karena alasan pembelaan terhadap Palestina sebagai alasan utama.
Negara-negara yang menolak menjalin hubungan diplomatik tersebut adalah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Negara ASEAN yang Jalin Hubungan Diplomatik dengan Israel antara lain Filipina.
Filipina dan Israel menjalin hubungan diplomatik penuh sejak 1957.
Kedutaan besar Filipina dibuka di Tel-Aviv bersamaan dibukanya kedutaan Israel di Manila pada tahun 1962.
Singapura secara resmi menjalin hubungan diplomatik pada Mei 1969, meskipun hubungan tidak resmi dan rahasia telah terjalin beberapa tahun sebelumnya.
Israel memiliki kedutaan besar di Singapura dan Singapura memiliki konsulat kehormatan di Tel Aviv.
Pada 21 Maret 2022, Singapura dan Israel mengumumkan bahwa Singapura akan mendirikan Kedutaan Besar di Tel Aviv, yang mulai beroperasi pada akhir tahun tersebut.
Myanmar menjalin hubungan diplomatik sejak 1953.
Israel memiliki kedutaan besar di Yangon, dan Myanmar memiliki kedutaan besar di Tel Aviv.
Negara Yahudi tersebut memiliki persahabatan lama dengan Myanmar, yang merupakan salah satu negara pertama di Asia yang mengakui kemerdekaan Israel lalu kemudian menjalin hubungan diplomatik.
Timor Leste menjalin hubungan diplomatik pada Agustus 2002. Israel belum memiliki kedutaan besar di Timor Leste, begitu juga sebaliknya.
Perwakilan Israel untuk Timor Leste dijalankan melalui kedutaan besarnya di Singapura.
Republik Sosialis Vietnam menjalin hubungan diplomatik sejak 12 Juli 1993.
Pada Desember 1993, Israel membuka kedutaan besarnya di Hanoi. Sedangkan Vietnam membuka kedutaan besarnya di Tel Aviv.
Kamboja menjalin hubungan diplomatik sejak 1960.
Membuka kedutaan besarnya di Israel 1972 Namun, Israel memutuskan hubungan dengan Kamboja pada tahun 1975 karena bangkitnya rezim Khmer Merah.
Hubungan kemudian dipulihkan kembali pada 1993. Meskipun Kamboja dan Israel memelihara hubungan diplomatik, Israel tidak memiliki kedutaan besar di Kamboja dan Kamboja tidak memiliki kedutaan besar di Israel.
Kedutaan Besar Israel di Bangkok, Thailand, menangani urusan yang berkaitan dengan Kamboja.
Laos Menurut situs resmi pemerintah Israel; gov.il, Laos dan Israel memiliki hubungan diplomatik tanpa dirinci tahun kapan hubungan itu terjalin.
Israel tidak memiliki kedutaan besar di Laos, begitu juga sebaliknya.
Urusan Laos di Israel mengandalkan Kedutaan Vietnam di Tel Aviv. Sedangkan urusan Israel di Laos mengandalkan Kedutaan di Hanoi, Vietnam.
Thailand menjalin hubungan diplomatik sejak Juni 1954. Kedutaan Besar Israel di Bangkok didirikan pada tahun 1958.
Thailand baru memiliki kedutaan besar di Tel Aviv Tahun 1996.
Thailand dan Israel memiliki hubungan yang erat dan bersahabat, serta bekerja sama dalam banyak bidang.
Dialog Kerja Kementerian Luar Negeri Thailand dan Israel mulai diadakan di Yerusalem pada 2002.
Thailand dan Israel melakukan kerjasama di berbagai bidang seperti pertanian, pengelolaan air, startup, inovasi teknologi, pendidikan, kedokteran, dan budaya.
Hubungan kerjasama tersebut dilakukan melalui Badan Kerja Sama Pembangunan Internasional Israel (MASHAV) yang telah menerima ribuan profesional Thailand yang mengikuti berbagai kursus pelatihan, terutama di bidang teknologi pertanian, pengelolaan air, dan pendidikan.
MASHAV juga menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) dengan organisasi mitra, yaitu Thailand International Development Cooperation Agency (TICA) dan Mekong Institute, terkait kerja sama pembangunan.
Krisis Tom Yam Gung
Thailand, pernah membuat panik seluruh Asia Timur. Bahkan seluruh dunia seakan runtuh karena penularan krisis keuangan yang terjadi pada Juli 1997.
Krisis di Thailand yang dikenal dengan nama krisis Tom Yam Gung adalah krisis yang bermula dari tertekannya nilai tukar bath terhadap mata uang dollar AS.
Pemerintah Thailand mengeluarkan kebijakan mengembangkan bath sehingga Thailand menanggung beban utang luar negeri yang besar sampai-sampai negara ini dapat dinyatakan bangkrut sebelum nilai mata uangnya jatuh.
Ketika krisis ini menyebar, nilai mata uang di sebagian besar Asia Tenggara dan Jepang ikut turun, demikian pula dengan bursa saham.
Nilai aset lainnya serta utang luar negeri swasta naik drastis.
Saat krisis moneter yang melanda Asia, 20 tahun silam tersebut, George Soros dituding sebagai biang kerok.
Nama investor kelahiran Hungaria tersebut pertama kali didengungkan oleh Mahathir Muhammad.
Mantan Perdana Menteri Malaysia itu menyebut perusahaan hedge fund Soros telah membuat nilai tukar sejumlah mata uang di Asia terombang-
ambing.
"Saya mengatakan perdagangan mata uang itu hal yang tidak penting, tidak produktif, dan tidak bermoral," ucap Mahathir 20 tahun lalu.
Kebetulan, salah satu perusahaan hedge fund yang baru melakukan operasi dalam jumlah besar di Asia kala itu adalah Quantum Fund, yang notabene dikelola oleh Soros.
Depresiasi mata uang Baht Thailand kemudian menjadi awal mula bencana ekonomi bagi Indonesia.
Saat itu, Rabu, 2 Januari 1997, ekonomi Thailand terguncang.
Baht Thailand berfluktuasi dan melemah hingga 20 persen melawan dolar AS.
Penyebabnya karena Bank Sentral Thailand secara resmi mengubah kebijakan nilai tukarnya dari semula mengambang terkendali (managed floating) menjadi mengambang bebas (free floating). Artinya, kurs sepenuhnya digerakkan oleh mekanisme pasar.
Adapun, perubahan ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pada awal tahun, perusahaan pengelola investasi Quantum Group of Funds pimpinan George Soros melakukan spekulasi dengan meminjam Baht Thailand dalam jumlah besar.
Spekulasi ini menguatkan mata uang dolar AS dan menggerus transaksi dengan Baht Thailand.
Bank Sentral bereaksi cepat, tetapi tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, kebijakan free floating dikeluarkan yang membuat Baht tunduk pada dolar AS.
Semakin perkasanya dolar AS membuat mata uang Asia dan dinamika pasar modal lainnya melemah. Malaysia, Korea Selatan, Singapura, Hong Kong, Filipina, dan Indonesia terdampak paling berat.
Beberapa hari setelah Thailand mengubah kebijakan, kurs rupiah terhadap dolar AS ikut hancur.
Akibatnya, sejarawan MC Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2009) mencatat rupiah yang berada di kisaran Rp2.500 per US$, terdepresiasi sebesar 9 % menjadi Rp4.000 per US$.
Pada puncak, rupiah menyentuh level Rp17.000 per US$, setelah Bank Indonesia menerapkan kebijakan free floating terhadap kurs rupiah, adalah depresiasi yang luar biasa.
"Bursa saham Jakarta hancur. Hampir semua perusahaan modern di Indonesia bangkrut, tabungan kelas menengah lenyap, dan jutaan pekerja diberhentikan dari pekerjaan mereka," tulis Ricklefs.
Teknokrat dipandang sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dan dipersalahkan atas terjadinya krisis ekonomi di Thailand, khususnya mereka yang berada di Bank Sentral Thailand.
Krisis Ekonomi 1997 menunjukkan lemahnya kemampuan Bank Sentral Thailand mengantisipasi apresiasi nilai tukar bath terhadap dollar AS.
Ketidakmampuan pemerintah yang berkuasa ketika itu untuk mengambil langkah mengatasi krisis ekonomi mengakibatkan tuntutan masyarakat agar PM Chavalit Yongchaiyudh mengundurkan diri.
Krisis yang bermula dari Thailand 27 tahun lalu, yang ditengarai _operasi Soros_ yang menjadi penyebabnya, juga menjadi pemicu mundurnya Presiden Soeharto Mei 1998.
Penyebab krisis 1997, penanganan dan akibat krisis bagi Thailand dan Indonesia adalah sebuah pelajaran berharga.(▪︎)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Mubha-Kahar-Muang-2024.jpg)