Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mubha Kahar Muang

Kompleksitas Politik Kawasan: Berkaca pada Konflik Irak-Kuwait dan Konflik Iran-Irak

Kita patut bersyukur bahwa para pendiri negeri ini sudah menetapkan Visi negara dan misi pemerintahan dan  sikap kita terkait politik luar negeri

Tayang: | Diperbarui:
Editor: AS Kambie
dok.tribun
Mubha Kahar Muang, Anggota FKP DPR RI 1987-1992-1997-1998 

Israel diminta oleh AS untuk tidak melakukan serangan balasan karena khawatir kekuatan militer negara-negara Arab berbalik sehingga dapat mengubah jalannya peperangan.   

Operasi yang dilancarkan dari wilayah darat Saudi Arabia pada 24 Februari, berhasil memukul mundur pasukan elite Irak. 

Pasukan koalisi berhasil membebaskan Kuwait dari invasi Irak pada 27 Februari 1991.

Keesokan harinya pasukan Irak secara resmi meninggalkan Kuwait.

 Kemenangan ini disambut sukacita oleh rakyat Kuwait.

Efek dari perang tersebut, Kuwait mengeluarkan biaya perbaikan infrastruktur minyak lebih dari 5 miliar dollar AS, dan AS konon mengeluarkan biaya operasional sebesar 102 miliar dollar AS. 

Sejak itu Kuwait sangat tergantung kepada AS, khususnya di bidang militer.

Konflik Iran-Irak

Yang menarik, Ketika Perang Iran - Irak selama delapan tahun, 1980-1988 Kuwait dan Arab Saudi mendukung Irak.

Mengapa Irak menyerang Iran ?

Diduga karena revolusi Syiah di Iran yang menggulingkan Mohammad Reza Pahlevi, oleh Saddam khawatir revolusi tersebut akan menyuburkan revolusi Syiah di Irak yang pada akhirnya akan menggulingkan kekuasaannya. 

Selain itu, perang mungkin dipicu oleh keinginan Irak menguasai Sungai Shatt al-Arab, jalur air yang dibentuk oleh pertemuan Sungai Tigris dan Efrat yang berbatasan antara Irak dan Iran. Wilayah yang dikenal memiliki sumber minyak yang besar.

Berkaitan dengan revolusi yang terjadi di Iran, banyak negara lain khawatir dengan paham ekstrim dari Iran, sehingga mayoritas negara tetangga yang Muslim Sunny membantu Irak seperti Arab Saudi dan Kuwait.

Situasi revolusi Iran juga membuat AS khawatir. Pasalnya, jika Iran mempengaruhi negara-negara di Timur Tengah untuk melakukan revolusi hal tersebut bisa menenggelamkan pengaruh AS dan sekutunya, terutama dalam pengolahan minyak.

Karena itu AS juga memberi bantuan ke Irak.

Sebaliknya, selain sekutu utama Iran yaitu Suriah dan Libya yang membantu Iran selama Perang Iran-Irak adalah Israel.

Israel merupakan salah satu pemasok utama peralatan militer bagi Iran selama perang. 

Israel juga menyediakan instruktur militer dan pada gilirannya menerima intelijen Iran yang membantu melaksanakan Operasi Opera, yaitu serangan udara Israel terhadap reaktor nuklir Irak di Osirak, tahun 1981. 

Operasi yang tentu sangat diinginkan oleh Israel untuk dapat menghancurkan reaktor nuklir Irak.

Perang Irak secara terbuka dibiayai oleh Arab Saudi, Kuwait, dan negara-negara Arab tetangga lainnya dan secara diam-diam didukung oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Pelajaran Bagi Indonesia

Pengalaman sejarah mengajarkan bahwa potensi sebuah wilayah adalah anugerah tetapi sekaligus dapat menjadi bencana.

Keberpihakan dalam perang sangat tergantung kepentingan masing-masing negara.

Kita patut bersyukur kehadirat Ilahi bahwa para pendiri negeri ini sudah menetapkan Visi negara dan misi pemerintahan dan  sikap kita terkait politik luar negeri sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. 

Karena itu segenap komponen bangsa harus memahami  semangat pendiri negeri ini, begitu pula pemimpin yang baru terpilih agar tetap konsisten menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan pengelolaan bangsa dan negara.(*)

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved