Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mubha Kahar Muang

Kompleksitas Politik Kawasan: Berkaca pada Konflik Irak-Kuwait dan Konflik Iran-Irak

Kita patut bersyukur bahwa para pendiri negeri ini sudah menetapkan Visi negara dan misi pemerintahan dan  sikap kita terkait politik luar negeri

Tayang: | Diperbarui:
Editor: AS Kambie
dok.tribun
Mubha Kahar Muang, Anggota FKP DPR RI 1987-1992-1997-1998 

Pada 8 Agustus 1990 Irak mengumumkan telah menganeksasi Kuwait. 

AS mengirim bantuan pasukan disusul oleh negara-negara Arab. 

Afrika Utara dan Niger ikut mengirim pasukan, juga beberapa negara Eropa seperti Inggris, Perancis dan Jerman Barat, termasuk beberapa negara Eropa Utara dan Timur. Dua negara Asia, Bangladesh dan Korea Selatan, juga mengirimkan pasukan. 

Pasukan negara-negara Arab dipimpin oleh Letjen Khalid bin Sultan. 

Sementara Pasukan AS dan Eropa dig bawah komando Jenderal Norman Schwarzkopf dan Jenderal Collin Powell.   

29 November 1990 PBB mengultimatum Irak untuk meninggalkan Kuwait hingga 15 Januari 1991.

 Perundingan James Baker dengan menteri luar Negeri Irak, Tareq Aziz pada 9 Januari 1991 gagal. Irak tidak bersedia menarik pasukannya.

12 Januari 1991 George Bush mendapat persetujuan Kongres AS untuk menyatakan perang terhadap Irak. 

Tanggal 17 Januari, pasukan koalisi menggempur Baghdad dan beberapa wilayah Irak lainnya dari udara dalam operasi Desert Storm. 

Serangan tersebut menyasar sistem komunikasi Irak, kilang minyak, bangunan pemerintah dan memutus akses jalan di seluruh Irak.

Irak melancarkan serangan balasan ke Israel, terutama Tel Aviv dan Haifa serta wilayah Dhahran di Arab Saudi.

Irak melakukan perang lingkungan dengan membakar sumur-sumur minyak Kuwait dan menumpahkan minyak ke Teluk Persia. 

Pada saat itu Uni Soviet melakukan upaya diplomasi dengan tawar-menawar perdamaian antara Irak dengan Uni Soviet melalui Mikhael Gorbachev dan Yevgeny Primakov, tetapi ditolak Presiden Bush pada 19 Januari 1991.

Setelah itu Uni Soviet tidak lagi melakukan tindakan apa pun di Dewan Keamanan PBB.

Pertengahan Februari pasukan koalisi mulai mengalihkan serangan melalui jalur darat di wilayah Irak dan Kuwait. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved