Sulsel Deflasi 4 Bulan Berturut-turut, Ekonom: Daya Beli Masyarakat Lemah
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Mei 2024, Sulsel deflasi 0,10 persen mtm.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami deflasi empat bulan berturut-turut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Mei 2024, Sulsel deflasi 0,10 persen mtm.
Kemudian berlanjut pada Juni 0,26 persen mtm, lau Juli 0,18 persen mtm, dan Agustus 0,04 persen mtm.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Marsuki DEA menilai, deflasi empat bulan berturut-turut ini menandakan adanya masalah.
“Deflasi selama lebih tiga bulan secara teori dianggap berarti ada masalah, apalagi sudah memasuki bulan keempat,” kata Prof Marsuki, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Rabu (11/9/2024).
Baca juga: BPS: Sulsel Deflasi 0,18 Persen di Juli 2024
Ia menjelaskan, ada banyak indikatornya, seperti menggambarkan terjadinya kelebihan supply atau penawaran barang dan jasa secara rata-rata dibanding dengan jumlah permintaanya.
Hal ini bisa terjadi karena adanya kelebihan produksi barang dan jasa, baik dari sisi sektor kebutuhan konsumsi, utamanya komoditas pertanian dengan adanya hasil panen yang baik.
“Tapi tidak diiringi dengan meningkatnya permintaan dari konsumen sebagai akibat lemahnya daya beli mereka karena pendapatan mereka berkurang, bisa karena tidak bekerja atau nganggur karena di-PHK,” jelas Prof Marsuki.
Prof Marsuki juga menyebut, indikator lainnya adanya masalah dengan deflasi empat bulan berturut-turut karena pola konsumsi masyarakat berubah.
Itu dengan meluasnya belanja-belanja melalui online yang menyebabkan rendahnya transaksi di pasar tradisional atau swalayan-swalayan.
Apalagi dengan berbagai iming-iming kemudahan belanja dan adanya diskon-diskon harga.
Sehingga konsumsi tertekan mengakibatnya harga-harga umumnya mengalami penurunan dari harga normal.
Menurut Prof Marsuki, kejadian ini berlaku sama hampir di semua wikayah Indonesia, termasuk di Sulsel.
Sehingga cukup memprihatinkan para otoritas, moneter dan fiskal, bahkan pemerintah, dan terutama pengusaha, karena akan memukul kinerja bisnisnya yang belum pulih.
Ia menambahkan, masalah yang dialami selama ini, baik pengaruh covid maupun konflik geopolitik, termasuk tren politik yang memanas hingga kini.
| Setelah Muhammadiyah, Gubernur Sulsel Serahkan Hibah Rp800 Juta ke PWNU |
|
|---|
| Tak Ecek-Ecek! Petugas Metal Detektor Kunci Integritas UTBK-SNBT di Unhas |
|
|---|
| Ikuti Latihan Militer di Magelang, Cicu Asah Disiplin dan Integritas Selaku Ketua DPRD Sulsel |
|
|---|
| Armin Singgung Kader Tak Paham Sejarah Golkar: Jangan Cuma Jadi Pengurus Partai |
|
|---|
| Bersamaan Didik Farkhan Alisyahdi, Inilah Tiga Kajari di Sulsel Diganti Usai Usut Kasus Korupsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Pengamat-Ekonomi-Unhas-Prof-Marsuki-DEA-gtrr.jpg)