HMI Gowa Raya Demo
6 Tuntutan HMI Gowa Raya Depan UINAM Jl Sultan Alauddin Makassar
Massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya, membubarkan diri setelah menutup Jl Sultan Alauddin, Makassar, hingga malam.
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Sukmawati Ibrahim
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya, membubarkan diri setelah menutup Jl Sultan Alauddin, Makassar, hingga malam, Senin (10/6/2024).
Unjuk rasa di depan Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) itu, bubar saat kumandang adzan Isya.
Mereka bubar dengan sendirinya setelah pembacaan pernyataan sikap.
Adapun enam poin tuntutan yang dibacakan dalam pernyataan sikap itu, adalah; Stop kriminalisasi aktivis, stop komersialisasi pendidikan, Cabut kebijakan Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat).
Tolak rancangan pemerintah tentang manajemen ASN, stop perampasan hidup di Papua dan save Palestina.
"Kami menganggap Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) ini sangat buru-buru diterapkan di Indonesia, meskipun ada aturan bahwa tahun 2027 baru diterapkan keseluruhan," ujar Ketua HMI Cabang Gowa Raya, Nawir Kalling.
Lebih lanjut Nawir menjelaskan, adanya anggaran yang diakui BP Tapera bermasalah menurut BPK Rp 500 milliar, membuat kebijakan itu harus dikaji lebih matang lagi.
"Oleh karena itu, kami dengan tegas di DPRD Sulsel meminta agar pemerintah mencabut kebijakan Tapera ini," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan Puluhan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya, berunjuk rasa di depan Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) Jl Sultan Alauddin, Makassar, Senin (10/6/2024) malam.
Pantauan di lokasi, unjuk rasa dilakukan dengan menghadang dua truk sambil membakar ban.
Dalam orasinya, massa aksi menyoroti rencana pemerintah membuat kebijakan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
Baca juga: BREAKING NEWS: Tolak Tapera, HMI Gowa Raya Demo Depan UINAM Jl Sultan Alauddin Makassar
Menurutnya, kebijakan itu hanya akan menyengsarakan rakyat khususnya kaum pekerja.
"Dengan adanya potongan 3 persen dari gaji pekerja lewat Tapera ini, maka ini akan membebani masyarakat buruh," ujarnya
Selain itu, massa aksi juga menyoroti adanya rekan mereka yang ditahan polisi di Kabupaten Dompu.
"Rekan kami di Dompu itu ditahan karena aksi unjuk rasa, ini adalah bentuk kriminalisasi terhadap gerakan mahasiswa," ujarnya.
Akibat aksi unjuk rasa itu, kemacetan panjang tidak terhindarkan di ruas Jl Sultan Alauddin.
Baik dari arah AP Pettarani, maupun dari arah Kabupaten Gowa.
Tampak, kendaraan mengular hingga ke pertigaan Jl AP Pettarani.
Begitu juga dari arah Gowa, mengular hingga ke pertigaan Jl Emmy Saelan.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.