Takdir Baik Ancelotti
Takdir kembali mengulurkan kebaikannya kepada Don Carlo, saat tim asuhannya Real Madrid mengalahkan Borussia Dortmund 2-0 pada final Liga Champions.
TRIBUN-TIMUR.COM - Sudah menjadi rahasia umum Carlo Ancelotti adalah pelatih dengan penghargaan terbanyak, dan juga pelatih paling sering dikaruniai keberuntungan.
Takdir kembali mengulurkan kebaikannya kepada Don Carlo, saat tim asuhannya Real Madrid mengalahkan Borussia Dortmund 2-0 pada final Liga Champions di Stadion Wembley, London, Minggu (4/6) dini hari.
Itulah trofi Liga Champions ke-15 kalinya bagi Madrid, yang membuat reputasi mereka sebagai tim terbaik di dunia makin sulit dibantah.
Itulah trofi Liga Champions keenam kalinya yang mereka raih dalam sebelas musim terakhir.
Ancelotti tampak tetap fokus, jauh dari kesan panik di babak pertama, saat badai serangan dari Dortmund menghantam.
Ditambah lagi gemuruh dukungan luar biasa dari para pendukung die Schwarzgelben di Wembley yang membuat stadion didominasi warna kuning-hitam.
Mereka sangat gembira melihat Dortmund yang underdog ternyata begitu perkasa di 45 menit babak pertama.
Sang kiper, Gregor Kobel relatif tak terlalu berkeringat di babak pertama.
Sementara di lini depan, Karim Adeyemi menyia-nyiakan peluang emas satu lawan satu, dan Niclas Fuellkrug melepaskan tembakan yang membentur bagian dalam tiang gawang.
Ketika Fuellkrug gagal dengan peluang sundulannya tepat setelah satu jam berlalu, tiba-tiba terasa tak terhindarkan bahwa Ancelotti akan meraih trofi untuk kelima kalinya sebagai pelatih -- dua diraih bersama Milan, dan sekarang tiga bersama Real Madrid.
Pria asal Italia berusia 64 tahun ini seolah telah melihat apa yang akan tersaji di lapangan dalam 90 menit, dan bagaimana cerita ini biasanya berakhir.
Hal itu terbukti. Real Madrid perlahan-lahan bangkit dan menit ke-74, bek kanan veteran Dani Carvajal menanduk dengan akurat umpan sepak pojok dari Toni Kroos untuk membawa timnya unggul 1-0.
Ketika Vinicius Jr mencetak gol kedua Madrid, pasukan Dortmund tahu bahwa mereka harus menyaksikan penobatan Real Madrid meraih trofi Liga Champions ke-15 kalinya.
Dan, semua sepakat, Madrid menang dengan cara yang biasa-biasa saja. Mereka tak memenangkan pertarungan taktis. Mereka juga tak tampil superior.
Tapi faktanya, Real memenangkan final Eropa ke-11 kalinya berturut-turut. Kekalahan terakhir mereka terjadi 41 tahun lalu melawan Aberdeen di Piala Winners.
"Itu sulit. Saya tidak menyukai level yang kami mainkan. Di babak pertama, kami menderita; di babak kedua, kami lebih sedikit kehilangan bola dan bermain lebih baik -- tapi itu semua hanyalah hal-hal sepele sekarang. Kami menang. Mimpi itu terus berlanjut,” kata Ancelotti di Reuters.
Real Madrid tidak memiliki metode yang jelas di babak pertama dibandingkan dengan tim Dortmund yang bermain dengan baik dan melakukan segalanya dengan benar kecuali mencetak gol.
Namun sama seperti halnya Ancelotti di pinggir lapangan, para petarung Real tahu bahwa yang harus mereka lakukan hanyalah tetap tenang, menunggu waktu, dan sejarah akan terulang kembali.
Hummels dari Dortmund, yang menderita sakit hati di final Liga Champions untuk kedua kalinya, menyimpulkannya.
"Kami bermain dengan penuh keberanian, namun kami gagal mencetak gol. Kemudian kami membuat kesalahan kecil dan Real mencetak gol. Mereka telah melakukannya seperti itu selama 100 tahun," katanya dikutip dari Reuters.
Carvajal kini telah memenangkan Liga Champions enam kali bersama Real Madrid, begitu pula Luka Modric yang masuk menggantikan Kroos, menyamai prestasi legenda Madrid Paco Gento.
Bagi Kroos, ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri karier gemilangnya di Real.
Meski para pemain datang dan pergi, bagi dinasti sepak bola ini, yang tidak pernah berubah adalah kemampuan mereka dalam memberikan hasil di saat yang paling penting.
Ancelotti tidak percaya pada gagasan keberuntungan.
“Ada sesuatu yang istimewa di klub ini,” kata Ancelotti, yang juga memiliki dua medali juara Piala Eropa sebagai pemain, sebelum final.
“Mungkin karena sejarahnya, mungkin karena tradisinya, kelasnya. Tapi ada begitu banyak hal, jadi ini tidak mungkin hanya kebetulan,” ujarnya menyimpulkan.
Ancelotti berjanji, musim depan, timnya akan kembali meraih lebih banyak trofi dengan rasa lapar yang sama. Bahkan mungkin lebih lapar lagi.
“Dalam konteks ini, tidak ada bahaya perut kami terlalu kenyang… besok klub ini akan menikmati hari fantastis lainnya bersama fans kami, lalu untuk istirahat, para pemain akan berangkat ke Euro, Copa America, lalu kami akan kembali dengan keinginan yang sama. dan harapan seperti biasa,” janji Ancelotti.
Usai laga, para pemain Madrid dengan gembira melemparkannya ke udara selama perayaan juara.
“Kompetisi ini memberi saya kebahagiaan luar biasa, sebagai pemain, sebagai manajer. Target saya adalah mencoba mengulangi emosi yang sama seperti yang kami alami seminggu setelah pertandingan ini, inilah targetnya."
"Saya beruntung bisa berada di klub terbaik di dunia," kata Ancelotti, yang akan berusia 65 tahun pada 10 Juni.(*)
(Tribunnews/den)
| Manchester City vs Dortmund: Reuni Haaland |
|
|---|
| Real Madrid Vs Juventus: Ambisi Mbappe Hapus Rekor CR7 di Klasik Eropa! |
|
|---|
| Istri Plesiran ke Spanyol, Inilah Jumlah Harta Kekayaan Muh Yusuf Ritangnga Bupati Enrekang |
|
|---|
| Mewahnya Santiago Bernabeu Stadion Dikunjungi Istri Bupati Enrekang, Harga Tiket Real Madrid Tanding |
|
|---|
| Sosok Muh Yusuf Ritangnga Bupati Enrekang, Istrinya Viral Pelesiran ke Bernabeu Markas Real Madrid |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Carlo-Ancelotti-okok.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.