Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Bone, Soppeng, Wajo Zona Merah El Nino

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulsel Imran Jausi mengaku telah melakukan pemetaan daerah zona merah terdampak El Nino.

|
Penulis: Siti Aminah | Editor: Abdul Azis Alimuddin
ARI MARYADI/TRIBUN TIMUR
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulsel Imran Jausi mengaku sudah melakukan pemetaan daerah zona merah terdampak El Nino. Seperti Bone, Soppeng, dan Wajo. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Fenomena el nino berdampak besar bagi kelangsungan pertanian masyarakat.

Dinas Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulsel Imran Jausi menyebut telah melakukan pemetaan daerah yang terdampak el nino.

Pemetaan tersebut didasarkan pada data tiga sampai lima tahun terakhir.

Jika daerah tersebut mengalami kekeringan lahan pertanian lebih dari 5 ribu hektare maka itu masuk dalam kategori zona merah.

Adapun daerah yang masuk kategori zona merah ialah Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo.

"Memang ada program itu dari Kementan, kita sudah melakukan pemetaan daerah mana saja yang terdampak el nino yang parah," ucap Imran Jausi kepada Tribun-Timur.com, Selasa (15/8/2023).

Kendati demikian, zona merah di tiga kabupaten ini hanya berada di titik atau desa tertentu.

Dikatakan zona merah karena wilayah tersebut sudah tidak bisa lagi diharapkan untuk memproduksi padi.

Karena itu, untuk tetap menggeliatkan pertanian maka pemerintah pusat mencanangkan luas tambah tanam untuk mengganti lahan-lahan pertanian yang tidak produktif.

Secara nasional, Kementerian Pertanian menarget 500 ribu hektar luas tambah tanam, Sulsel sendiri kata Imran Jausi akan menyiapkan 80 hektar lahan untuk luas tambah tanam.

Baca juga: BREAKING NEWS: Efek El Nino, Jeneponto Jadi Daerah Paling Panas dan Kering di Sulsel

"Kenapa perlu disiapkan karena lahan sawah yang terkena dampak el nino harus ditutup dengan lahan baru supaya bisa tutupi produksi yang rusak," jelasnya.

Upaya lain yang dilakukan menghadapi el nino ialah memperbaiki model pengelolaan air.

Terakhir, mempercepat proses penanaman yang biasanya dilakukan 3 pekan pasca panen, sekarang sudah bisa dilakukan 10 hingga 12 hari pasca panen.

"Itu sudah bisa menanam, jadi kita bisa memanfaatkan sisa-sisa air, tidak perlu menunggu berminggu-minggu untuk menanam kembali," pungkasnya.

Sebelumnya, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha mengatakan, fenomena El Nino ini membuat musim hujan mundur dari waktu biasanya.

Normalnya, pada Oktober sudah masuk musim pancaroba atau peralihan dari kemarau ke musim hujan.

Kemudian untuk musim hujan secara keseluruhan wilayah Sulsel normalnya terjadi pada November.

"Tapi karena ada fenomena el nino (hujan) diprediksi mundur, nanti akan dirilis kembali pada September prakiraan hujan di wilayah Sulsel," pungkasnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved