Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Melalui Program Inspirational Talk, PTPN XIV Gelar Webinar Perkenalan ESG untuk Bisnis Berkelanjutan

PTPN Gelar program Inspirational Talk dalam webinar yang mengusung tema "Perkenalan ESG untuk Bisnis Berkelanjutan PTPN XIV".

Tayang:
DOK PTPN XIV
Program Inspirational Talk PTPN XIV dalam webinar yang mengusung tema "Perkenalan ESG untuk Bisnis Berkelanjutan PTPN XIV". 

TRIBUN-TIMUR.COM - PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) kembali menggelar program Inspirational Talk dalam webinar yang mengusung tema "Perkenalan ESG untuk Bisnis Berkelanjutan PTPN XIV".

Sebagai informasi, Inspirational Talk sendiri telah menjadi program mingguan dari PTPN XIV dan kali ini PTPN XIV menggandeng ESG Specialist Ananta Praditya sebagai pembicara.

Adapun kegiatan ini dibuka langsung oleh SEVP Operation PT. Perkebunan Nusantara, Andi Arwan A.P.

Dalam sambutannya, Andi berharap dengan kegiatan webinar ini, maka dapat membantu untuk meningkatkan reputasi perusahaan hingga ke masyarakat luas.

"Dengan memperhatikan isu-isu lingkungan, sosial dan tata kelola dalam menjalankan proses bisnis di PTPN XIV maka akan membuat reputasi perusahaan terus meningkat sehingga akan menjadi kebanggan bukan hanya pada karyawan tetapi juga masyarakat luas” tutur Andi Arwan pada sambutannya.

Sementara, ESG Specialist Ananta Praditya selaku pembicara, memaparkan beberapa poin yang menjadi pokok dalam pembahasan webinar kali ini, diantaranya yaitu:
1. Kapan ESG dimulai?
2. Apa Itu ESG?
3. Mengapa perlu adanya ESG?

Pada 2004, The United Global Compact and The Swiss Federal Department of Foreign Affairs mempublikasikan laporan yang berjudul Who Cares Win.

Inti dari laporannya adalah “akan lebih baik jika perusahaan mengintegrasikan isu-isu Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola dalam mengelola aset perusahaan”. Pada tahun 20014 itu pula ESG pertama kali dicetuskan.

Untuk diketahui, ESG adalah sebuah principal baru untuk mendikte bagaimana suatu perusahaan harus mempertimbangkan dan bahkan memprioritaskan isu lingkungan, sosia dan tata kelola ketika perusahaan mengatur operasionalnya dan ketika investor membuat investigasi dengan mempertimbangkan dampak, resiko dan peluang.

Ananta kemudian membagi ESG menjadi tiga diantara yaitu, Enviromental, Social, Governance.

Enviromental itu sendiri adalah mengevaluasi praktik manajemen lingkungan perusahaan secara keseluruhan serta dampaknya terhadap udara, iklim, air, tanah dan keanekaragaman hayati.

Ini termasuk dampak langsung dari operasional perusahaan. Bagian ini juga mengakui perusahaan dengan produksi inovatif lingkungan dan mereka yang menjual produk atau jasa yang memiliki dampak lingkungan yang positif.

Social merupakan sebuah pontensial atau aktual pada masyarakat sekitar dan pekerja, dalam hal ini sosial kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori, pekerja, komunitas, dan pelanggan.

  • Pekerja, mengevaluasi kontribusi perusahaan terhadap keamanan, kesehatan dan kesejahteraan para karyawan.
  • Komunitas, mengevaluasi keterlibatan perusahaan dengan dampaknya pada komunitas tempat sekitar perusahaan beroperasi, keterlibatan masyarakat sekitar, pemberian amal, serta kesetaraan dan inklusi.
  • Pelanggan, mengevaluasi pelayanan perusahaan terhadap pelanggannya melalui kualitas produk dan layanannya, pemasaran etis, privasi dan keamanan data dan saluran umpan balik.

Governance, membahas aktivitas perusahaan, tergantung aktivitas manajemen dan pemilik perusahaan.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam kriteria ini seperti kebijakan perusahaan, standar perusahaan, budaya, penyingkapan, informasi, proses audit dan kepatuhan.

“Secara garis besar PTPN XIV dapat mewujudkan penerapan ESG jika keseluruhan unsur yang dipaparkan sebelumnya dapat terpenuhi” imbuh Ananta.

Ananta kemudian menjelaskan faktor penting yang menjadi alasan perlu adanya ESG.

Menurut Ananta, pasar menuntut perubahan, pasar yang dimaksud adalah pemegang saham atau regulator.

Adanya perubahan bisnis dari abad sebelumnya, dimana pemegang keputusan perusahaan diatur oleh satu orang (Shareholder).

Sementara pada abad sekarang ini seluruh orang atau seluruh komunitas yang terlibat mempunyai peran dalam pengambilan keputusan (Stakeholder).

Merujuk hasil survey, Ipsos Mori menyebutkan bahwa 86 persen karyawan percaya bahwa pentingnya perusahaan bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.

Sebab, dulunya orang-orang hanya memilih produk yang terbaik tanpa memperhatikan hal-hal lain.

Sementara saat ini, selain menilai produk yang dihasilkan oleh perusahaan, orang-orang juga lebih memperhatikan perusahaan yang menghasilkan sebuah produk dan bagaimana dampak perusahaan tersebut terhadap lingkungan dan sosial.(adv\reskyamaliah).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved