Remaja Tenggelam di Bone

Sempat Ditunda Satu Jam Akibat Cuaca Buruk, Pencarian Korban Tenggelam di Bone Kembali Dilanjut

Pencarian korban tenggelam di Perairan Tanjung Palette, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali dilanjut, Senin (23/1/2023) sore.

Penulis: Noval Kurniawan | Editor: Sukmawati Ibrahim
Noval Kurniawan
Pencarian korban tenggelam saat mancing di perairan Tanjung Palette, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Senin (23/1/2023).  

BONE, TRIBUN-TIMUR.COM - Pencarian korban tenggelam di Perairan Tanjung Palette, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali dilanjut, Senin (23/1/2023) sekitar pukul 15.30 Wita.

Pantauan awak Tribun-Timur.com di bibir pantai Tanjung Palette, pencarian korban sebelumnya sempat ditunda sekitar pukul 14.30 Wita.

Tim SAR gabungan memutuskan menunda pencarian akibat cuaca buruk.

Hujan lebat dan angin kencang memaksa tim SAR gabungan kembali ke bibir pantai Tanjung Palette.

Diketahui sebanyak 13 personil Brimob, 3 anggota Basarnas, 10 anggota BPBD Bone, 5 anggota Satpol PP, dan 3 perwakilan dari SAR Unhas dikerahkan untuk memcari korban tenggelam di Tanjung Palette.

Diberitakan sebelumnya, seorang remaja bernama Afdal Bin Ramli (17) dikabarkan tenggelam di Perairan Tanjung Palette Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, Minggu (22/1/2023) sore.

Saat itu, Afdal pergi memancing bersama kerabatnya, Agustang (35).

Lokasi memancing mereka sekitar 20 meter dari bibir pantai Tanjung Palette.

Berselang beberapa saat kemudian, hujan disertai angin kencang menerpa wilayah tersebut.

Baca juga: Breaking News: Remaja Tenggelam Saat Mancing di Perairan Tanjung Palette Bone

Baca juga: Tim SAR Gabungan Cari Korban Tenggelam Saat Mancing di Perairan Tanjung Palette Bone

Cuaca buruk membuat Afdal dan Agustang mencari perlindungan di bagan bambu milik warga.

Lokasi bagan bambu itu tidak jauh dari lokasi memancing.

Saat berlindung di bagan milik warga, tiba-tiba tali pengikat perahu yang mereka tumpangi terlepas.

Arus membawa pergi perahu tersebut.

Melihat perahu itu dibawa arus, Afdal terjun bermaksud mengambil perahu milik kakeknya itu.

Agustang sempat melarang korban terjun ke laut karena kondisi saat itu gelombang tinggi dan berarus deras.

Namun karena takut kehilangan perahu milik kakek korban, akhirnya korban tetap nekat terjun ke laut.

Diduga karena kelelahan, Afdal tidak mampu menggapai perahu dan tidak mampu untuk kembali ke bagan bambu. 

Agustang sempat memberikan bantuan, namun karena kuatnya arus dan tingginya gelombang membuat korban tidak dapat diselamatkan. (*)

 

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved