Opini

Lawatan Istimewa Sang Dato, Pesan dan Harapan Dalam Kunjungan Perdana Menteri Malaysia

Datang, kemudian menghadiri acara. Keesokan harinya acara utama, dan kembali ke Kuala Lumpur.

Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Ismail Suardi Wekke, 

Ismail Suardi Wekke
STIA Abdul Haris, Makassar


TRIBUN-TIMUR.COM - Dua hari kunjungan, kedatangan sahabat boleh jadi sebuah lawatan yang sangat singkat. Durasinya, tak sampai 48 jam.

Datang, kemudian menghadiri acara. Keesokan harinya acara utama, dan kembali ke Kuala Lumpur.

Apalagi dengan disertai kerinduan, dan kali ini datang dengan sosok sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan Malaysia.

Pada kesempatan pidato, disebutnya protokol yang kadang tidak menyenangkan.

YAB Dato Seri Anwar Ibrahim (selanjutnya ditulis Anwar Ibrahim), meneruskan tradisi tiga perdana mentri Malaysia sebelumnya. Dimana kunjungan ke luar negara pertama kali perdana mentri Malaysia diawali di Indonesia.

Termasuk Anwar Ibrahim, kali ini juga melakukan hal yang sama. Bahkan dilakukan secara khusus, diterima Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

Sebelum itu, dalam pengumuman kabinet beberapa kata yang belum digunakan dalam pemerintahan Malaysia, seperti desa, pendidikan tinggi. Justru Anwar menggunakannnya dalam peristilahan kementerian. Di partai yang dipimpinnya, juga digunakan istilah pimpinan cabang. Dimana istilah yang tidak digunakan partai lainnya di Malaysia.

Dengan kata-kata seperti itu, menunjukkan adanya kedekatan termasuk dalam “cara berpikir” yang sama dengan masyarakat Indonesia. Walau awalnya, Bahasa Indonesia juga sejatinya merupakan Bahasa Melayu.

Menggunakan tata bahasa yang sama, dan kosakata yang sama.

Walau dalam perkembangan, serapan kedua bahasa mengalami perkembangan dalam kondisi yang berlainan.

Bolehjadi, ini menjadi tanda bahwa bagi Malaysia, Indonesia lebih dari tetangga. Ada kepelbagaian atau bahkan hubungan yang jamak menjadi tali-asih hubungan ke dua negara. 

Tidak kurang sampai lima kali, Anwar menyebutnya dengan kata persahabatan. Termasuk dua kali menyatakan bahwa ketika melafalkan Indonesia, Anwar sampai pada kondisi yang sentimental dan emosional.

Baik di awal pidato, maupun juga di akhir syarahan di kantor grup CT.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved