Demo di Enrekang

Sudah Setahun Bangunan Baru Pasar Sudu Tak Difungsikan, Warga Demo DPRD Enrekang  

Kedatangan demonstran terkait nasib pedagang di Pasar Tradisional Sudu lantaran sudah setahun lebih berlapak di pinggir jalan.

Penulis: Erlan Saputra | Editor: Sukmawati Ibrahim
Erlan Saputra/Tribun Timur
Sejumlah masyarakat unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Senin (9/1/2023). Kedatangan demonstran terkait nasib pedagang di Pasar Tradisional Sudu lantaran sudah setahun lebih berlapak di pinggir jalan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, ENREKANG - Puluhan warga mengatasnamakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Maspul Care berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Kabupaten Enrekang, Jalan Sultan Hasanuddin, Puserren, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Senin (9/1/2023).

Kedatangan demonstran terkait nasib pedagang di Pasar Sudu lantaran sudah setahun lebih berlapak di pinggir jalan.

Selain itu, kondisi itu penyebab pasar terlihat semrawut.

Padahal pasar yang terletak di Kelurahan Kambiolangi, Kecamatan Alla, telah selesai direnovasi dengan anggaran sebesar Rp14,8 miliar.

Anggaran tersebut bersumber dari pinjaman dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari pemerintah pusat.

Di depan kantor DPRD, para pengunjuk rasa membawa mobil komando dengan pengeras suara.

Selain itu, massa aksi juga membentangkan spanduk berisi tuntutan. Mereka silih bergantian orasi.

Tak lama berorasi, akhirnya massa aksi dipersilahkan anggota DPRD Enrekang untuk rapat dengar pendapat (RDP).

RDP itu dipimpin langsung Wakil Ketua I DPRD Enrekang, Ikrar Eran Batu didampingi Wakil Ketua II Abdurrahman Zulkarnain.

Kadis Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Enrekang, Hamsir turut hadir dalam dialog tersebut.

Koordinator Aksi, Muksin Rais mengatakan, sebelum renovasi, pemerintah telah berjanji hanya butuh waktu tiga bulan untuk merealisasikan.

Setelah itu, para pedagang bisa menempati bangunan tersebut.

"Akan tetapi sampai saat ini, sudah lebih dari satu tahun pasar belum juga ditempati. Sementara dulu ada pernyataan bahwa ketika pasar sudah jadi, maka besoknya sudah bisa ditempati," ujar Muksin Rais.

Akibatnya, banyak barang dagangan masyarakat rusak lantaran harus menjual di kios semi permanen.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved