Opini Tribun Timur

Makna Natal Sebagai Perayaan Iman akan Kemanusiaan dan Kebangsaan

Suasana Natal yang sungguh jauh dari suasana hiruk-pikuk yang gemerlap.

Editor: Saldy Irawan
Makna Natal Sebagai Perayaan Iman akan Kemanusiaan dan Kebangsaan
DOK PRIBADI
Pastor Aidan Putra Sidik Imam diosesan Keuskupan Agung Makassar Lulusan Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, Italia.

Pastor Aidan Putra Sidik
Imam diosesan Keuskupan Agung Makassar
Lulusan Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, Italia.

 

TRIBUN-TIMUR.COM - “…Pulanglah Mereka ke Negerinya Melalui Jalan Lain” (Mat. 2:12)

Malam yang sunyi nan syahduh di pinggiran kota Makassar yang diliputi temaran cahaya lampu. Kami duduk tepekur di depan api unggun dari bekas kayu yang telah hangus terbakar.

Suasana Natal yang sungguh jauh dari suasana hiruk-pikuk yang gemerlap. Cahaya lampu dari api unggun kecil menghalaukan kegelapan malam dan memberikan secercah terang abadi dalam lubuk hati yang terdalam.

Seorang rekan yang duduk tepekur di pojokan berkata dalam suara lirih, “Kita merayakan Natal dalam kesunyian, kesedihan dan kehampaan. Natal yang selalu identik dengan pesta dan kemewahan ternyata jauh dari kita justru di sudut kota metropolitan bagian Indonesia Timur ini.” Memang kami belum lama mengalami peristiwa tragis waktu itu.

Gereja Katolik Kare habis terbakar persis di awal bulan Desember 1998 di kala kami sedang mempersiapkan perayaan Natal.

Namun tak disangka-sangka dalam suara tenang nan menyejukkan Pastor Jeff Henderick, CICM menyapa kami, “Bukankan dulu Yesus pun lahir justru di tempat yang sunyi, dingin dan gelap. Tidak ada pintu rumah yang terbuka untuk Dia.

Dia hadir di dunia ini dalam kesederhanaan, keprihatinan dan jauh dari ingar-bingar kemeriahan pesta. Namun itulah bukti solidaritas Allah yang paling tinggi kepada manusia. Dia yang Agung di Surga mulia kini hadir di tengah-tengah manusia.

Yang Mahamulia berinkarnasi dalam diri Yesus Kristus menyatakan solidaritas yang paling dalam dengan manusia yang miskin, menderita dan terpinggirkan. Inilah makna Natal yang sejati.” Demikian kata-kata meneguhkan dari seorang misionaris yang juga seorang ahli Kitab Suci.

Pastor Jeff Henderick, CICM seolah memberikan kami renungan yang paling konkret akan makna Natal. Kami yang sebelumnya larut dalam kegetiran kini tersadarkan akan makna Natal yang sesungguhnya. Yesus, sang Immanuel, kini hadir di tengah-tengah kami yang diliputi situasi kalut dan merasa termarginalisasikan justru di pinggiran sebuah kota metropolitan yang megah.

Kini seberkas cahaya harapan menyinari wajah kami akan arti solidaritas Allah yang rela datang ke dunia yang fana supaya mengangkat kemanusiaan ini dalam kemuliaan yang Ilahi.

Pengalaman di atas selalu membayang mana kala bulan Desember tiba dan menggemakan suasana Natal.

Perayaan Natal merupakan perayaan suka cita dan kesempatan istimewa berjumpa dengan sanak-keluarga dan handai taulan, terlebih setelah kita mengalami masa-masa sulit pandemi selama ini. Kemeriahan dan kegembiraan Natal, di satu sisi, membawa harapan dan suka cita, namun di sisi lain, kita terus dipanggil untuk tidak melupakan makna sejati dari perayaan Natal, yaitu kasih solidaritas Allah.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved