Headline Tribun Timur
Terhambat Musim Hujan
Sejak dinyatakan retak pada Juni 2021, kencaraan roda empat dilarang melintasi Jembatan Pute.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Kesabaran jutaan pengguna jalan raya trans Sulawesi di Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, diuji sejak Juni 2022.
Kadang kemacetan mulai terjadi sekira pukul 11.00 pagi hingga pukul 22.00 malam.
Jutaan kendaraan dari Makassar dan menuju Makassar dari 13 kabupaten/kota di Sulsel plus empat kabupaten/kota di Sulawesu Barat dipaksa antre melewati jembatan lama.
Delapan tahun setelah diresmikan, Jembatan baru Sungai Pute retak.
Sejak dinyatakan retak pada Juni 2021, kencaraan roda empat dilarang melintasi jembatan baru itu.
Hanya motor yang diizinkan melintasinya. Keretakan dilaporkan semakin parah.
Hingga pada Juni 2022, kendaraan roda dua pun sudah dilarang melintas jembatan baru Pute.
Jembatan baru Sungai Pute ditutup total.
Data yang diperoleh Tribun Timur, sedikitnya 5 juta kendaraan melintas di Bontoa, Maros, setiap hari.
Mereka adalah warga dari Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Tiga belas kabupaten/kota di utara Sulsel hanya bisa menjangkau Makassar lewat Jembatan Pute.
Pengguna jalan raya di Maros, Ridwan, mengaku bolak-balik dari Pangkep-Makassar dan selalu terjebak macet di Bontoa sepanjang satu kilo meter sejak Juni 2022.
Kontraktor yang mengerjakan jembatan itu adalah PT Multi Karya Cemerlang.
Tanggal kontrak yakni pada 18 Juli 2022 dengan target pengerjaan selama 167 hari kalender.
Inspektur Konsultan Pengerjaan Jembatan Pute, Arman, saat ditemui di lokasi pengerjaan, Kamis (10/11/2022), mengatakan, pengerjaannya menggunakan dana APBN tahun 2022.
Baca juga: Jembatan Pute Maros Diresmikan Lagi
Baca juga: Kontrak Pengerjaan Jembatan Pute Maros Sampai Desember, Progresnya Sudah 64,56 Persen
Nilai kontrak senilai Rp 15.853.201.000.
Adapun Konsultan Supervisinya adalah PT Arphala Wiratama Konsultan dan PT Arezmah Multi Konsultan.
Arman menjelaskan bahwa pengerjaan yang dilakukan yakni perbaikan dan penguatan pada struktur utama jembatan.
Seperti struktur utama pada bagian pelengkung dan juga penguatan pada lantai jembatan.
Ia menyebutkan, selama ini jembatan tersebut mengalami keretakan.
Hal tersebut terjadi karena volume dan beban kendaraan yang melebihi kapasitas.
Menurutnya, selama ini jembatan gantung itu telah menerima beban yang melebihi kapasitas. Sehingga dilakukan perbaikan.
Bagian yang mengalami keretakan dan kerusakan itulah yang dikerjakan serta diberi penguatan tambahan lain pada beberapa struktur jembatan.
"Beban kendaraan sebelumnya yang berlebihan sehingga berefek pada hanger pendek jembatan," katanya.
Arman membeberkan, pengerjaan proyek terhambat karena datangnya musim hujan.
Sebab, pengerjaan jembatan itu berada di ruang terbuka.
"Yah memang hujan menjadi salah satu kendala dalam bekerja. Tapi itu bukan penghalang bagi kami untuk menyelesaikan tepat waktu," kata alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu.
Setiap hari, 13 pekerja berjibaku mengejar target penyelesaian proyek.
Berhubung karena sudah memasuki musim hujan, pekerjanya kadang bekerja hingga lembur.
Normalnya, kata Arman, mereka bekerja mulai pukul 08.00 Wita hingga 17.00 Wita.
Namun karena waktu pekerjaan sudah mendekati deadline, sementara musim hujan sudah mulai turun, sehingga mereka memaksa diri dalam bekerja.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Jembatan-pute-dipebaiki.jpg)