Citizen Reporter
Bedah Buku Karya Moch Hasymi Ibrahim: Pakarena Kebangkitan Karya Seniman Sulsel
buku Pakarena ini juga tersirat pesan bahwa sebagai Gen Z memang mesti banyak membaca sejarah untuk memberi kita semangat, seiring tanggung jawab
Pakarena Kebangkitan Karya Seniman Sulsel

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Ketua BEM FEB Unismuh Makassar 2021-2022
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebagai Gen Z, saya beruntung diundang menjadi salah satu pembahas buku Pakarena, Esai, Testimoni, Kritik Kesenian Sulsel Suatu Masa, karya Moch Hasymi Ibrahim, Jumat, 186 Desember 2022, di Raising Hotel, Jalan Hertasning, Makassar.
Pada kesempatan itu, saya merasa memperoleh energi dari kumpulan pemikiran, ulasan dan bahasan tentang kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu kira-kira 20 tahun lampau, pada masa Orde Baru.
Buku ini memang berisi tulisan-tulisan yang umumnya mengindikasikan semangat jaman pada masa itu. Jaman dimana kebebasan berekspresi sangat dibatasi bahkan ditekan.
Kita tahu, pemerintahan Orde Baru adalah pemerintahan yang represif dan tidak sebebas saat ini. Pemerintah Orde Baru yang sangat menekan kebebasan berpendapat dan berekspresi itu sangat berimbas pada kesenian dan kebudayaan.
Hadirnya buku ini, bagi saya, juga seperti menjadi alarm bagi kaum muda yang mesti berbuat dan menghasilkan karya pada masa kini.
Era kebebasan yang kita rasakan seperti saat ini, jangan sampai membuat kita merasa gagap.
Dari buku Pakarena ini juga tersirat pesan bahwa sebagai Gen Z memang mesti banyak membaca sejarah untuk memberi kita semangat, seiring tanggung jawab kita di wilayah pikir dan karya.
Saya juga merasa bahwa kehadiran buku sebagai kebangkitan Kak Ami, begitu saya menyapa Moch Hasymi Ibrahim, untuk kembali aktif dalam pemikiran kebudayaan Sulawesi Selatan untuk hari ini.
Pandangan ini dikarenakan kehadiran orang-orang yang terlibat seperti beliau sangatlah penting untuk melihat generasi muda hari ini yang terkesan kehilangan identitas budaya, termasuk dalam proses menampilkan diri.
Pada pembahasan buku tersebut saya mencatat beberapa hal yang sangat menarik. Yaitu, meskipun ruang kebebasan pada masa Orde Baru sangat terbatas ternyata Intensitas para seniman dan budayawan dalam berkarya begitu sangat besar.
Mereka seperti terpacu untuk menyatakan diri meski ditekan dan bahkan dilarang.
Kita tahu, para seniman dan para budayawan adalah representasi zaman, nurani zaman, juru bicara zaman, menyuarakan aspirasi masyarakat mengangkat keadilan, ketimpangan dan menyampaikan kebenaran.
Karena itu, saya merasakan dan bisa membayangkan era orde baru era di mana para seniman dan budayawan merasakan tantangan besar dalam berkarya.
Karya seni dan kerja seni yang dilahirkan pada era itu, misalnya, harus mendapatkan ijin pemerintah, dengan prosedur yang tidak mudah. Sehingga dapat dipahami karya para seniman menjadi eufumistik.
Menghalus-haluskan kata demi menghindari sensor pemerintah.
Suatu ketika, WS Rendra penyair besar kita ketika membaca puisinya berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa dianggap sangat memprovokasi situasi pada saat itu, sehingga Rendra diintimidasi dan bahkan harus di penjarakan.
Agaknya buku Pakarena ini, saya duga dapat menjadi pemicu para seniman dan budayawan di daerah ini untuk kembali mendiskusikan soal-soal kebudayaan lebih luas.
Apalagi acara diskusi dihadiri para seniman dan budayawan, guru besar Unhas dan UNM, komunitas seni, kalangan millenial dan Gen Z.
Dan sebagai Gen Z, seharusnya terpantik memanfaatkan era kebebasan seperti sekarang ini untuk berkarya, karena bayang-bayang era Orde Baru sendiri tak mesti membuat kita gagap.
Gen Z mesti menjadi pelanjut yang bahkan melampaui generasi sebelumnya dalam berkarya.
Kita tahu bersama bahwa kebebasan ini mesti dipandang sebagai peluang terbesar Gen Z Sulawesi Selatan untuk muncul di panggung nasional maupun international.
Kesadaran berkarya bagi para seniman dan budayawan juga lebih di tingkatkan lagi, karena berkarya adalah mencipta dari sesuatu yang tak ada menjadi ada, berkarya memaksimalkan potensi kemanusiaan kita, mengerahkan pikiran, hati, dan jiwa kita untuk fokus melahirkan sesuatu bagi jaman kita.
Sehingga, Pakarena bisa menjadi ajang dan momentum kita bersama bagi para seniman dan budayawan untuk bangkit kembali dan terus menjadi representasi jaman. ***