Opini

Nuansa Dakwah Piala Dunia 2022

Qatar sebenarnya ingin memperlihatkan hikmah di balik syariat Islam, sekaligus menegaskan bahwa agama Islam adalah rahmat bagi alam semesta.

Editor: Hasriyani Latif
DOK TRIBUN TIMUR
Ilham Kadir ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Enrekang. Ilham Kadir penulis Opini Tribun Timur berjudul 'Nuansa Dakwah Piala Dunia 2022'. 

Oleh:
Ilham Kadir
Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Enrekang

TRIBUN-TIMUR.COM - Perhelatan piala dunia termahal sepanjang sejarah turnamen ini jatuh pada piala dunia 2022 Qatar, sebesar 6,91 triliun rupiah.

Qatar dengan jumlah penduduk 2,9 juta jiwa, dan 2,5 juta merupakan imigran, mampu menyihir dunia dengan mantra modernisasi sosial, budaya, dan ekonomi.

Piala dunia kali ini juga melahirkan banyak kejutan, tim-tim turnamen unggulan tersingkir lebih awal seperti Jerman, Spanyol, Belanda, hingga Brazil.

Anehnya justru wakil Asia banyak memberikan kejutan, antara lain, Saudi Arabia mengalahkan Argentina, Jepang mengalahkan spanyol dan Jerman.

Hingga saat ini, di babak Semi Final, tinggal empat tim tersisa, Kroasia, Argentina, Francis dan Maroko.

Maroko menjadi tim yang paling mengejutkan, karena selalu menjadi non unggulan ketika bertemu dengan tim raksasa seperti Spanyol dan Portugal, namun pada akhirnya keluar sebagai pemenang.

Namun laga Maroko melawan Spanyol dalam babak 16, dan ketika menghempaskan Portugal di babak delapan besar dinilai paling spektakuler, penuh dengan emosi dan sarat sejarah.

Spektakuler sebab Tim Metador adalah peraih juara piala 2010 di Afrika Selatan, namun kali ini disingkirkan oleh Maroko yang merupakan wakil Afrika.

Sarat sejarah sebab Maroko dan Spanyol memiliki sejarah yang sulit dipisahkan.

Berawal dari tahun 711 M (92 H), Thariq bin Ziyad berangkat menuju Andalusia yang kini menjadi Spanyol dan Potugal disebut juga Semenanjung Iberia.

Tepat tanggal 29 April 711, pasukan Thariq bin Ziyad mendarat di Gibraltar.

Sejak penaklukan itu, umat Islam di bawah Kesultanan Bani Umayyah menguasai Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya.

Para penakluk ini disebut sebagai orang Moor, "They are also included Syirians, Berbers, and other races from North Africa and the Midle East", (E. Ramon Arango, "Spain: From Repression to Renewal", Westview Press: Colorado, 1985: 35).

Halaman
1234
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved