Opini

KUHP Baru

Penyusunan RUU KUHP ini telah melintasi tiga era pemerintahan, dari orde lama, orde baru, dan orde reformasi.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/damang
Damang Averroes Al-Khawarizmi Praktisi Hukum. Damang Averroes Al-Khawarizmi penulis opini Tribun Timur berjudul KUHP Baru. 

Oleh:

Damang Averroes Al-Khawarizmi
Praktisi Hukum

TRIBUN-TIMUR.COM - Sudah lebih dari setengah abad, akhirnya republik ini dapat mengesahkan RUU KUHP, semenjak pertama kali dirintis dan disusun pada 1964.

Selasa, 6 Desember 2022 merupakan hari bersejarah bangsa Indonesia, Presiden yang diwakili oleh menteri Hukum dan HAM bersama dengan DPR RI, telah menyetujui naskah RUU KUHP.

Selain penyusunan RUU KUHP ini telah melintasi tiga era pemerintahan, dari orde lama, orde baru, dan orde reformasi.

Juga beberapa anggota tim penyusunnya telah tutup usia.

Diantaranya, Prof. Soedarto, Prof. Roeslan Saleh, Prof. Moeljatno, Prof. Satochid Kartanegara, Prof. Oemar Seno Adji, Prof Andi Zainal Abidin Farid, dan Prof Muladi.

Inilah karya agung dan kolosal anak bangsa yang akhirnya bisa tercipta. Sembari ada rasa kebanggaan kita sudah memiliki KUHP sendiri, bukan lagi hasil peninggalan kolonial Belanda.

Mari menengadahkan tangan dan memohonkan ampunan, serta limpahan rahmat Allah SWT, untuk para begawan hukum pidana tersebut, sebagai perintis konsep RUU KUHP.

Terlepas dari pro dan kontra pengesahan RKUHP. Satu hal yang dapat dipetik manfaatnya, yaitu pada tiga tahun mendatang kita akan memiliki KUHP dengan struktur bahasa, kata, dan kalimat yang tidak berbeda satu sama lain.

Tidak seperti sekarang, karena KUHP yang merupakan hasil copy paste WvS, terjadi perbedaan terjemahan diantara para ahlinya.

Berbeda terjemahan WvS antara Moeljatno dengan R Soesilo, A Hamzah, bahkan dengan terjemahan yang sudah diterbitkan oleh BPHN.

Inilah yang menjadi misi daripada pembentukan KUHP, karya kita sendiri, diantaranya: dekolonisasi, demokratisasi, konsolidasi, dan harmonisasi.

Karakter khas dari misi pembentukannya itu, menggeser konsep dan tujuan pemidanaan dari yang dahulunya mengutamakan keadilan retributif, menjadi keadilan rehabilitatif, korektif, restoratif dan alternatif.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved