Kejari Gowa

Kejari Gowa-Tim Jibom Gegana Polda Sulsel Musnahkan 99 Barang Bukti Peledak Jenis Detonator

Kejaksaan Negeri (Kejari) Gowa menggelar  pemusnahan barang bukti bahan peledak jenis detonator.

SAYYID ZULFADLY/TRIBUN TIMUR
Kejaksaan Negeri (Kejari) Gowa bersama Tim Jibom Gegana Polda Sulsel menggelar  pemusnahan barang bukti bahan peledak jenis detonator di Desa Bellabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Jumat (9/12/22)   

TRIBUN-GOWA.COM - Kejaksaan Negeri (Kejari) Gowa menggelar  pemusnahan barang bukti bahan peledak jenis detonator.

Pemusnahan dilakukan oleh tim Jibom Gegana Brimob Polda Sulsel bekerja sama Kejari Gowa.

Lokasi pemusnahannya di Desa Bellabori, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Jumat (9/12/22).

Kasi Pengelolaan Barang Bukti dan Barang Rampasan (PB3R) Kejari Gowa Andi Aulia Rahman mengatakan, pemusnahan dilakukan dar hasil perkara yang telah berkekuatan hukum tetap.

Ia melanjutkan, berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Sungguminasa nomor : 199/pid.sus/2021/pn sgm tanggal 31 Agustus 2021.

"Pemusnahan barang bukti ini peledak jenis Detonator atau bom ikan. Baeang bukti yang dimusnahkan sebanyak 99 buah Detonator yang akan digunakan bom ikan," ujarnya.

Bom ikan tersebut merupakan barang bukti dalam perkara yang terpidana yakni Herman Daeng Tayang dan kawan-kawan.

Mereka didakwa melanggar pasal 1 ayat (1) UU DRT No. 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Dijelaskan, peledakan atau pemusnahan bahan peledak bom ikan dilakukan di daerah jauh padat penduduk untuk menghindari efek ledakan. 

"Pemusnahan dilakukan di daerah jauh dari padat penduduk, karena jangkauan ledakan mencapai ratusan meter," ujarnya.

Terpidana Herman sebelumnya ditangkap oleh tim Polairud Polda Sulsel.

Ia disebut jadi target operasi kepolisian. Pasalnya Herman diduga merupakan perakit dari Detonator tersebut.

"Karena belum digunakan tindak pidana perikanan masih pada saat ditemukan oleh tim Polairud Polda Sulsel, dia masih dalam posisinya akan diperjual belikan maka tim penyidik 
mendakwa pasal 1 ayat (1) UU DRT No. 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara," katanya.

Dia menambahkan, detinator ini satu paket jumlahnya 99 buah yang akan dijual senilai Rp 4,8 juta. (*)

Laporan TribunGowa.com, Sayyid Zulfadli

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved